Vous êtes sur la page 1sur 35

Konsep Jatuh Dan Nyeri

Pada Lansia

Di Susun Oleh

Ari Eriadi 20166113014


Irfan Ramadhan 20166113042
Nur Aulia Hidayati 20166123065
Yogi Ervandi 20166113092
Apa itu lansia ??

Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian dari proses kehidupan yang tak
dapat dihindarkan dan akan di alami oleh setiap individu.

Pada tahap ini individu mengalami banyak perubahan baik secara fisik maupun mental, khususnya
kemunduran dalam berbagai fungsi dan kemampuan yang pernah dimilikinya.
 Jatuh merupakan suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata,
yang melihat kejadian mengakibatkan seseorang mendadak
terbaring/terduduk di lantai/tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa
kehilangan kesadaran atau luka

 Nyeri adalah suatu sensori subyektif dan pengalaman emosional yang tidak
menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan yang aktual atau
potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-kejadian dimana terjadi
kerusakan. (Potter & Perry, 2005).
Klasifikasi Nyeri

 Nyeri Akut
Nyeri secara umum yang timbul secara mendadak dan cepat menghilang yang
tidak melebihi 6 bulan

 Nyeri Kronik
Nyeri yang timbul secara perlahan biasanya berlangsung dalam waktu yang cukup
lama, yaitu lebih dari 6 bulan
Penyebab Jatuh Pada Lansia

 Faktor Intrinsik
Faktor yg berasal dari dalam tubuh
Cth : stroke, katarak

 Faktor Ekstrinsik
Faktor yg berasal dari luar tubuh
Cth : lantai licin, penerangan yg tidak baik
Nyeri Pada Lansia

Pada lansia, nyeri bisa berhubungan dengan hal-hal sebagai berikut:


 Depresi
 Gangguan pola tidur.
 Penurunan sosialisasi dan penarikan atau isolasi diri.
 Defisit fungsional dan peningkatan ketergantungan
 Eksaserbasi kerusakan kognitif
 Peningkatan biaya dan penggunaan layanan kesehatan
Cara Penilaian Nyeri

1. Skala numerik penilaian nyeri (NRS)


Pasien diminta memberikan penilaian rasa nyeri yang mereka rasakan mulai dari numerik 0 (tidak
terasa nyeri) hingga numerik 10 (nyeri terparah yang bisa dibayangkan).
2. Skala penilaian nyeri secara verbal (VDS)
Pasien diminta menggambarkan rasa nyeri dari ’tidak nyeri’ – ’agak nyeri’ – ’sangat nyeri’.
3. Revisi skala nyeri berdasarkan ekspresi wajah (FPS-R)
Komplikasi jatuh

 Perlukaan (injury)
 Perawatan rumah sakit
 Disabilitas
 Risiko untuk dimasukkan dalam rumah perawatan (nursing home)
 Meninggal
Pencegahan Jatuh

 Latihan fisik
 Managemen obat-obatan
 Modifikasi lingkungan
 Memperbaiki kebiasaan
 Alas kaki yg sesuai
 Alat bantu jalan
 Periksa fungsi penglihatan dan pendengaran.
 Hip protektor
 Memelihara kekuatan tulang
Penatalaksanaan Nyeri

1. Farmakologis
2. Non Farmakologis
 Kaji keyakinan dan perubahan perilaku, preferensi dan pengalaman terapi nyeri secara non-
farmakologis.
 relaksasi dan distraksi
 meningkatkan kenyamanan dan mengubah respon fisiologis terhadap nyeri (misalnya, pemberian
buli-buli panas/dingin, TENS unit) yang umumnya bersifat aman dan efektif.
3. Kombinasi ( Farmakologi + Non-Farmakologi )
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
GERONTIK
1. Pengkajian
Pengkajian Resiko :
a) Jatuh
 Usia klien lebih dari 65 tahun
 Riwayat jatuh di rumah atau RS
 Mengalami gangguan penglihatan atau pendengaran
 Kesulitan berjalan atau gangguan mobilitas
 Menggunakan alat bantu (tongkat, kursi roda, dll)
 Penurunan status mental (disorientasi, penurunan daya ingat)
 Mendapatkan obat tertentu (sedatif, hypnotik, tranquilizers, analgesics, diuretics, or laxatives)
b) Riwayat kecelakaan
c) Keracunan
Pengkajian meliputi seluruh aspek pengetahuan keluarga tentang resiko bahaya keracunan dan
upaya pencegahannya
d) Kebakaran
pengetahuan klien dan keluarga tentang upaya proteksi dari bahaya kecelakaan akibat api.
e) Pengkajian Bahaya
Meliputi mengkaji keadaan: lantai, peralatan rumah tangga, kamar mandi,dll.
f) Keamanan (spesifik pada lansia di rumah)
Diagnosa

 Resiko tinggi terjadinya cedera (High risk for injury). Seorang klien dikatakan mengalami masalah
keperawatan resiko tinggi terjadinya cidera bila kondisi lingkungan dan adaptasi atau pertahanan
seseorang beresiko menimbulkan cedera.
 Resiko terjadinya keracunan: adanya resiko terjadinya kecelakaan akivat terpapar, atau tertelannya obat
atau zat berbahaya dalam dosis yang dapat menyebabkan keracunan.
 Resiko terjadinya trauma: adanya resiko yang menyebabkan cedera pada jaringan (ms. Luka, luka bakar,
atau fraktur).
Contoh kasus:
Tn. ED, 70 tahun tinggal seorang diri dirumahnya. Klien memiliki riwayat
glaukoma sehingga klien harus menggunakan obat tetes mata dua kali sehari.
Klien mengatakan sulit memfokuskan penglihatan, kehilangan penglihatan
sebelah, dan tidak bisa melihat dalam gelap.
So..
Diagnosa yang muncul adalah:
Resiko tinggi cedera: jatuh berhubungan dengan penurunan sensori (tidak mampu
melihat)
Perencanaan

Secara umum rencana asuhan keperawatan harus mencakup dua aspek yaitu: Pendidikan kesehatan
tentang tindakan pencegahan dan memodifikasi lingkungan agar lebih aman.
Diagnosa: Resiko tinggi cedera: jatuh berhubungan dengan penurunan sensori (tidak mampu
melihat)
Tujuan: Klien memperlihatkan upaya menghindari cedera (jatuh) atau cidera (jatuh) tidak terjadi
Kriteria hasil: Setelah dilakukan tindakan keperawatan berupa modifikasi lingkungan dan
pendidikan kesehatan dalam 1 hari kunjungan diharapkan Klien mampu:
1. Mengidentifikasi bahaya lingkungan yang dapat meningkatkan kemungkinan cidera
2. Mengidentifikasi tindakan preventif atas bahaya tertentu,
3. Melaporkan penggunaan cara yang tepat dalam melindungi diri dari cidera.
Intervensi
1. Kaji ulang adanya faktor-faktor resiko jatuh pada klien.
2. Tulis dan laporkan adanya faktor-faktor resiko
3. Lakukan modifikasi lingkungan agar lebih aman (memasang pinggiran tempat tidur, dll)
sesuai hasil pengkajian bahaya jatuh pada poin 1
4. Monitor klien secara berkala terutama 3 hari pertama kunjungan rumah
5. Ajarkan klien tentang upaya pencegahan cidera (menggunakan pencahayaan yang baik,
memasang penghalang tempat tidur, menempatkan benda berbahaya ditempat yang aman)
Kolaborasi dengan dokter untuk penatalaksanaan glaukoma dan gangguan penglihatannya,
serta pekerja sosial untuk pemantauan secara berkala
ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a. Data Biologis
 Nama : Ny .Zn
 Tempat, tanggal lahir : Madura, 17 Januari 1944
 Pendidikan : Tidak sekolah,
 Agama : Islam
 Status Perkawinan : Janda
 TB/BB : 140 cm / 38 kg.
 Penampilan : Berdandan dan rapi, mampu menggunakan pakaian sesuai dengan ketentuan. Rambut
tersisir rapi, sebagian besar warna putih, jalan membungkuk dan perlahan - lahan.
 Ciri tubuh : Badan kurus, rambut banyak warna putih panjang di konde, wajah bulat lonjong, kulit
sawo matang.
 Alamat : Menghuni PSTW Wisma Cendana.
 Orang terdekat yang
 dapat dihubungi : Jazinih
 Hubungan dengan usila : Adik kandung
 Alamat : Wonokerto Bantur
B. Riwayat Keluarga
 Genogram
C. Riwayat Pekerjaan
Pekerjaan saat ini :
Di Panti menyetrika pakaian salah seorang pegawai panti dengan upah
Rp. 10.000 / bulan
Pekerjaan sebelumnya :
Sebelum masuk PSTW bekerja sebagai wiraswasta membuat jajan kemudian
dimasukkan di warung – warung kecil.
D. Riwayat Lingkungan Hidup
Sebelum di PSTW klien tinggal dengan keluarga di Lombok Barat, tetapi setelah
meninggal klien pendah ke Malang dan minta tolong kepada salah seorang
rekannya untuk memasukkannya ke Panti Jompo “ Sejahtera “ Pandaan.
Sekarang tinggal di panti jompo “ Sejahtera “ di wisma Cendana dengan
kapasitas 8 orang, dengan luas kamarnya kira – kira 3 x 3 m persegi dihuni oleh 2
orang, lantai kamarnya cukup bersih, cahaya dan ventilasi cukup, kebersihan
ruangan baik.
E. Riwayat Rekreasi
Pada saat sekarang klien rekreasi mengisi waktu dengan cara menonton televisi
bersama dengan teman – teman sewisma.
F. Sistem Pendukung
Adanya perawat Ny. Emy yang setiap hari datang memberikan pelayanan kesehatan
dan menyediakan peralatan dengan obat-obatan sederhana. Dokter puskesmas
Pandaan setiap hari jum’at melakukan pemeriksaan kesehatan. PSTW “Sejahtera”
juga kerja sama dengan RSU Pasuruan apabila memerlukan rujukan kesehatan untuk
penghuni di panti, jarak dengan rumah sakit + 3 km.
Makanan setiap hari disediakan didapur PSTW dan diantarkan ke wisma siap saji oleh
petugas 3 kali sekali (sesuai dengan daftar menu), snack tambahan diberikan 2 hari
sekali.
Perawatan sehari-hari apabila klien mengeluh melapor ke perawat dan perawat
memberikan obat-obat sesuai saran dokter yang tercatat di KMS usia lanjut.
G. Diskripsi Kekhususan
Kebiasaan klien melaksanakan sholat 5 waktu dan mendengarkan ceramah agama.

H. Status Kesehatan
H1. Keluhan utama yang dirasakan sekarang :
Adanya perasaan pegal dan linu pada persendian
 Provokative / paliative
Pegal dan linu dirasakan pada saat udara dingin.
 Quality / Quantity
Apabila saat serangan kadang pasien tidak dapat berjalan.
 Region
Persendian kaki tidak dapat digerakkan.
 Timing
Serangan pada waktu malam dan pagi hari.
H2. Pemahaman dan penatalaksanaan masalah kesehatan
Klien mengatakan apabila terserang penyakit ini, klien hanya mengolesi
persendiannya menggunakan balsem cap singa dan minta suntik pada petugas
kesehatan yang ada di PSTW
H3. Penyakit yang pernah diderita
Menurut klien ia tidak pernah menderita penyakit :
 Hypertensi
 Asthma
 Kencing manis
I. Aktivitas Hidup Sehari-Hari (ADL)
1. Indeks Katz
Klien mempunyai indeks kemandirian pada aktivitas sehari-hari dengan skore A yaitu mampu dan mandiri
dalam melakukan makan, BAB dan BAK, mandi, berpakaian mencuci pakaian dan pindah dari satu tempat ke
tempat lain
2. Oksigenasi
Klien bernapas dengan bebas, tidak membutuhkan bantuan alat pernapasan.
3. Cairan dan elektrolit
Klien minum air putih secukupnya dan teh manis sehari satu gelas. Tidak ditemukan keluhan kekurangan
cairan dan elektrolit.
4. Nutrisi
Klien makan tiga kali sehari dengan menu yang disediakan dipanti sesuai daftar menu. Klien mengatakan
tidak bisa makan banyak, satu piring kecil setiap kali makan dan tidak senang dengan sayur / kuah.
5. Aktivitas
Klien setiap hari menyetrika pakaian, membersihkan ruangannya dan setiap hari kamis membersihkan
rumput di kuburan dan hari Jum’at membersihkan Mushalla.
6. Eliminasi
BAB 1-2x sehari, BAK sering khususnya malam hari 4-5 kali, masih bisa menahan / mengontrol kencing.
7. Istirahat dan tidur
Klien tidur pukul 20.00 – 01.00 wib sedangkan pada siang hari klien tidak dapat tidur siang.
8. Personal Hygiene
Klien masih mampu mandi 2-3 kali sehari, mencuci pakaian, merapikan tempat tidur sendiri.
9. Seksual
Klien merasa sudah tua tidak memikirkan kebutuhan seksual, inginnya cucu atau
keluarga masih mau menengok / menjenguk di PSTW.
10. Psikologis
 Persepsi klien : Sesuai dengan kondisi dirinya dan menerima
keadaan semakin tua tak mampu bekerja
 Konsep diri : Klien merasa memiliki usia paling tua
diantara klien lain sewisma.
 Emosi : Terkesan stabil
 Adaptasi : Klien mampu beradaptasi dengan lingkungannya.
 Mekanisme pertahanan diri : Apabila mengeluh sakit segera minta bantuan pada
perawat PSTW “Sejahtera”.
J. Tinjauan Sistem
 Kesehatan umum
 Kondisi lemah, masih mampu menggunakan pakaian dan mandi sendiri, badan kurus, jika berjalan
membungkuk pelan.
 Tingkat kesadaran : Composmentis
 Skala Coma Glasgow : verbal = 5, psikomotorr = 6, mata = 4 (jumlah = 15)
 Tanda-tanda vital : 78x/mnt, temp 37°C, RR=24x/mnt, tensi 140/80 mmHg
1. Kepala
Rambut putih, panjang sampai punggung, digulung. Tidak ada benjolan, bentuknya simitris.
2. Mata, telinga, hidung
 Mata, masih dapat melihat terang dengan jarak dekat, tetapi kalau jauh agak kabur dan tidak memakai
kacamata.
 Telinga, ada gangguan pendengaran.
 Hidung bersih, masih dapat membedakan makanan yang basi atau tidak basi.
3. Leher, tidak terdapat pembesaran kelenjar gondok, tidak tampak vena jugularis.
4. Dada dan punggung
Dada, mamae mengecil pernapasan menggunakan otot dada, bentuknya simitris. Pada
auskultasi tidak terdapat wheezing dan ronchi, denyut jantung teratur, pada perkusi terdengar sonor.
Punggung, membungkuk tidak terdapat benjolan.
5. Abdomen dan pinggang
Abdomen bentuknya serasi tida terdapat bekas luka operasi auskultasi bunyi bising usus (+), palpasi tidak
ada pembesaran hepar dan lien, tidak ada nyeri tekan.
Pinggang masih dapat digerakkan bebas tidak ada keluhan.
6. Ekstrimitas atas dan bawah
Ekstrimitas atas / bawah, bentuk simitris, dapat digunakan bebas, tetapi pada daerah persendian kadang
tejadi pegal dan linu.
7. Sistem immune
Klien tidak pernah mendapat immunisasi.
8. Sistem reproduksi
Klien pernah menikah 1x tetapi tidak pernah hamil dan tidak mempunyai anak. Sekarang sudah menopaus,
tidak ditemukan keluhan penyakit pada sistim reproduksi.
9. Genetalia : tidak dikaji
10. Sistem persyarafan
Sentuhan dan perabaan kulit masih normal, dengan sentuhan benda tumpul atau
benda tajam masih dapat dibedakan.
11. Sistim pengecapan
Klien masih dapat membedakan rasa asin, manis atau masam dan pahit.
12. Sistim penciuman
Klien dapat membedakan bau harum, bau busuk
13. Tactil respon
Saat dicubit klien dapat segera menoleh dengan cepat
K. Status Kognitif / Afektif / Sosial
Skort Portable Mental Status Questionaire (SPMSO)
Fungsi intelektual utuh dengan jumlah kesalahan SPMTQ = 2
Analisa Data
Data (Syntom) Etiologi Masalah

DS: Klien mengatakan persediannya terasa nyeri kalau Proses menua Ganggauan rasa nyaman
( nyeri )
cuaca dingin
Terjadinyapenurunan fungsi tubuh
DO: Nyeri tekan pada daerah persendian
Gangguan muskuloskeletal

Gangguan rasa nyaman nyeri

DS: Klien mengatakan pendengarannya berkurang Proses menua Resiko terjadinya cidera

Terjadinyapenurunan fungsi tubuh


DO: Perawat ngomong dengan suara kecil klien tidak mendengar

Gangguan fungsi pendengaran


DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Gangguan rasa nyaman nyeri pada persendian berhubungan dengan /


gangguan sistem muskuloskletal
2. Resiko tinggi terjadinya cidera berhubungan dengan penurunan sistem
pendengaran
RENCANA KEPERAWATAN
DX 1
Tujuan : Rasa nyeri pada persendian dapat berkurang
Kriteria hasil :
 Klien dapat mengungkapkan rasa nyeri pada persendian berkurang
 Klien dapat rileks dan perlahan – lahan akan mampu berdiri sendiri.
Intervensi dan Rasional
1. Kaji keluhan nyeri, catat lokasi nyeri dan intensitas. Catat faktor yang memperberat / mempercepat tanda – tanda nyeri.
R/ Membantu dalam menentukan managemen nyeri
2. Biarkan klien mengambil posisi yang nyaman pada waktu istirahat ataupun tidur.
R/ posisi yg tepat akan membantu mengurangi rasa nyeri, membatasi nyeri
3. Anjurkan pasien untuk mandi menggunakan air hangat.
R/ Hangat dapat meningkatkan relaksasi otot dan mobilitas, menurunkan rasa sakit dan kekakuan sendi
4. Anjurkan klien menggunakan alas kaki di wisma
R/ Menghindari rasa dingin akibat bersentuhan dengan lantai (konduksi)
5. Berikan massage lembut menggunakan balsem pada persendian.
R/ Meningkatkan relaksasi / mengurangi ketegangan otot.
DX 2
Tujuan : Klien terhindar dari cidera
Kriteria hasil : Klien berada pada lingkungan yang aman
Intervensi dan Rasionalisasi :
1. Kaji keluhan adanya gangguan sistem pendengaran
R/ Membantu dalam menentukan seberapa jauh gangguan dalam mendengar
2. Berikan sentuhan lembut pada saat komunikasi
R/ Klien merasa diperhatikan / diajak berkomunikasi
3. Keraskan suara pada saat berkomunikasi dengan klien
R/ Klien dapat mendengarkan walaupun samar – samar.
4. Anjurkan klien apabila berjalan memperhatikan lingkungan
R/ Klien dapat terhindar dari cidera.
5. Anjurkan klien untuk menggunakan alat bantu apabila memungkinkan
R/ Membantu pendengaran