Vous êtes sur la page 1sur 16

Pemeriksaan Fisik Sistem Reproduksi dan Daerah

Ekstremitas Bawah

Disusun Oleh :
Detri Diningsih
Nenden Mustika
Mentari Espa
Rafi Ramadhan
Silvi Agustin
.
A Pemeriksaan Fisik Sistem Reproduksi atau Genetal
2.1 Sistem Reproduksi
Sistem reproduksi atau sistem genetalia adalah organ seks
dalam organisme yang bekerja sama untuk tujuan
reproduksi seksual.
a. Daerah genitalia Pria
1.Testis
2. Penis
3. Skrotum
Saluran Reproduksi
1.Epididimis
2.Vas deferens
3.Saluran ejakulasi
4.Uretra

Kelenjar Kelamin
 Vesikula seminalis
 Kelenjar prostat
 Kelenjar cowper
A. Pemeriksaan Fisik pada Genetalia Pria

Inspeksi
1. posisi pemeriksaan dapat di lakukan dalam posisi supine
dengan kaki sedikit terbuka atau dalam posisi berdiri.
2. inspeksi persebaran rambut pubis dan warnanya . perhatikan
kebersihan penis dan daerah sekitarnya.
3. perhatikan apakah klien terpasang kateter atau tidak ,jika ia
catat ukuran kateter , produksi urine , dan karakteristik
urinenya ,. Sebelum melaksanakan pemeriksaan fisik , buang
terlebih dahulu urine yang tertampung di kantong urine . jika
klien tidak menggunakan kateter , minta klien untuk BAK
terlebih dahulu.
4. perahatikan letak ujung uretra . normalnya meatus uretra ada
di ujung glans penis. Pada beberapa kondisi ujung meatus uretra
bisa terletak di bagian bawah penis (hipospedia) atau di atas
penis (epispadia) kelainan ini adalah kelainan kongential.
5. tanyakan kemampuan berkemih klien . apakah klien mampu
BAK dengan normal dan mandiri . pada klien yang berusia lanjut
atau menderita penyakit saraf mungkin ditemukan
ketidakmampuan untuk mengendalikan proses berkemih , klien
mungkin masih bisa merasakan keinginan untuk berkemih atau
bahkan tidak merasakan sama sekali saat mengompol
(inkonintinensia urine).
6. tanyakan apakah ada hambatan saat berkemih . jika merasa
ada gangguan saat berkemih seperti ada tahanan saat berkemih ,
rasa urgensi untuk berkemih , urine menetes , sering berkemih
terutama saat malam hari , mungkin klien menderita BPH.
7. perhatikan skrotum dan penis , catat jika ada bekas luka atau
secret yang keluar dari penis. Lihat meatus uretralisnya , jika ada
secret yang keluar dari meatus uretralis , segera periksakan ke
laboratorium. Jika ada secret bernanah yang keluar dari penis ,
mungkin klien menderita gonorrhea (termasuk penyakit
menular seksual)
8. perhatikan adanya ulkus atau benjolan abnormal yang ada di
sekitar penis dan skrotum.
9. jika klien belum disirkumsisi , retrasikan prepusium ke
belakang . periksa daerah sekitar lipatan kulit , periksa apakah
ada kerak yang berwarna kekuningan , adanya pembengkakan ,
massa , lesi , atau adanya ulkus pada korona glandis.
10. perhatikan jumlah testis yang ada pada skrotum , posisikan
penis kearah samping. Secara perlahan , palpasi kedua testis
dimulai dari testis sebelah kanan. Normalnya testis berjumlah
dua buah dan bisa bergerak dengan bebas dalam skrotum.
Tanyakan pada klien apakah ada nyeri yang di rasakan. Nyeri
pada skrotum menendakan bahwa kemungkinan klien menderita
orkitis atau radang pada testis.
11. jika pada saat palpasi hanya teraba satu testis atau tidak
sama sekali, klien menderita kriptorkimus (testis tidak masuk
ke dalam skrotum dan tetap ada dalam rongga abdomen).
12. pada anak kecil perhatikan adanya fimosis. Fimosis adalah
infeksi yang menyebabkan pembenkakan pada prepusium. Hal ini
bisa terjadi karena kurang dijaganya personal higine. Tata laksana
fimosis adalah sirkumsisi.
Palpasi
1. Minta klien untuk berdiri. Setelah berdiri , posisikan tangan
dibawah skrotum , palpasi hingga pangkal pita sperma di cincin
eksternal inguinal.
2. Minta klien untuk mengedan atau batuk, lihat apakah ada
penonjolan pada daerah inguinal. Jika ada benjolan pasti akan
terseentuh oleh jari pemeriksa (hernia inguinalis).
3. Pakai sarung tangan , lapisi ujung sarung tangan dengan
pelumas. Minta klien untuk berbaring dengan posisi miring dan
rileks.
4. Pada saat menghembuskan nafas, masukkan jari telunjuk ke
anus. Arahkan ujung jari kea rah umbilicus. Rasakan mukosa
dinding anus , apakah teraba massa , atau timbul pendarahan
pada saat dlpalpasi.
5. Arahkan ujung jari kearah dinding atas bagian medial untuk
menilai besar kelenjar prostat. Normalnya kelenjar prosta hanya
sebesaar kacang. Jika teraba membesar , maka klien menderita
Benign Prostat Hyperplasia (BPH)
6. Pemeriksaan mandiri.
a. Lakukan tes ini sebulan sekali untuk mendeteksi
kanker testis.
b. Struktur testis adalah bulat oval dan teraba kenyal ,
sedangkan epididymis terletak di belakang testis
berbentuk melingkar-lingkar seperti tali.
c. Berdirilah didepan cermin dan perhatikan adanya
tanda yang tidak normal atau adanya pembengkakan.
d. Lakukan pemeriksaan ini setelah mandi dengan air
hangat. Sangga testis dengan jari tengah , jari manis , dan
jari kelingking.
Dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu jari , secara
perlahan palpasi kedua testis. Normalnya permukaan
testis teraba halus dan epididymis terasa lembut.
e. Testis harus bisa bergerak bebas dalam skrotum , jika
ditemukan kelainan selama pemeriksaan ini segera pergi
ke dokter.
b. Daerah Genitalia Wanita
1. OVARIUM
2. TUBA FALLOPI
3. UTERUS
4.VAGINA
b. Pemeriksaan Fisik pada Genetalia Wanita
1. Posisikan klien secara litotomi,minta klien untuk relaks
dan tidak laku.
2. Jika klien terpasang kateter,catat ukuran
kateter,karakteristik urine,dan volume urine dalam
kantong urine. Buang urine dalam kantong urine sebelum
melakukan pemeriksaan.Tanyakan kemampuan berkemih
klien.Pada orang tua dan klien yang menderita gangguan
persarafan kemungkinan besar tidak bisa merasakan
keinginan untuk berkemih dan mengompol(inkontinensia
urine).Produksi urine normal 1- 2 cc/kg BB/jam.
3. Jika klien tidak terpasang kateter,tanyakan apakah klien
bisa buang air kecil dengan lancar,adakah rasa perih atau
panas atau terbakar saat buang air kecil,dan apakah klien
memiliki hasratbuntuk berkemih tetapi tidak bisa keluar
atau keluar hanya sedikit-sedikit(anyang- anyangan).Jika
klien mengalami gejala tersebut,periksakan urine klien ke
laboratorium,kemungkinan klien menderita infeksi saluran
kemih.
4. Inspeksi pada bagian mons pubis dan vulva,catat jika ada
bekas luka,tumor,atau kelarnya produksi sekret yang
abnormal.Lihat warna dan persebaran rambut pada mons pubis
dan perineum.
5. Sebelum memalpasi perineum,sentuh dengan perlahan
daerah paha supaya klien tidak terkejut.
6. Pisahkan labia majora dengan ibu jari dan telunjuk tangan
dominan.Lihat kesimetrisan labia majora,palpasi daerah tersebut.
Catat jika massa,nyeri tekan,atau perlukaan.
Inspeksi labia minora,lihat kesimetrisannya,persebaran
warna,adanya bercak kemerahan,atau ada sekret abnormal yang
dihasilakan(warna,bau,beberapa lama dihasilkan,serta rasa
gatal),Normalnya labia minora bewarna merah muda cerah.
7. Retraksikan labia minora ke samping,lihat klitoris
klien.Normalnya berdiameter +/- 0.5 cm.Normalnya bewarna
merah pucat,Catat jika tampak lesi atau perlukaan.
8. Tetap retraksikan labia minora,lihat kondisi meatus
uretralis,Normalnya bewarna merah muda.Jangan sentuh
meatus uretralis karena dapat menimbulkan rasa nyeri.
9. Lihat kondisi meatus vaginalis klien.Normalnya tampak bewarna merah
muda,bisa dalam kondisi yang lembab dan mengeluarkan cairan yang atas sel
epitel. Kondisi ini normal selama cairan yang terdiri atas sel epitel. Kondisi ini
normal selama cairan yang dihasilkan tidak berbau dan bewarna putih putih
susu atau bening. Jika ada sekret yang nampak abnormal atau keputihan yang
berlebihan,tanyakan beberapa lama dan catat karekteristik sekret yang
dikeluarkan.
10. Lihat kondisi perineum dan anus.Normalnya perineumdalam kondisi utuh
dan halus.Warna kulit perineum cenderung lebih gelap dari daerah
disekitarnya.Lihat apakah ada bekas luka episiotomi,catat kondisinya
11. Lihat kondisi anus.Anus dalam kondisi retraksi(kulit sekitarnya
mengkerut) dan warnanya jauh lebih gelap dari sekitarnya.Lihat adanya
hemoroid eksterna atau interna.
12. Jika wanita tersebut baru saja melahirkan,maka keluar darah dari vagina
dengan karekteristik berikut.
a. Lokia rubra dihasikan hingga tiga hari postpartum,warnanya merah
segar dan berbau khas daerah.
b. Lokia alba dihasilkan pada sembilan hari postpartum,warnanya putih
agak kuning,tidak berbau dan gatal.
13. Sekret vagina abnormal.
a. Cokelat: mungkin ada infeksi monilia atau candida
b. Putih mukoid: infeksi stafilokus,streptokokus
c. Kuning kehijauan,lengket,gonorea.
2.2 Ekstremitas Bawah
A. Daerah Ekstremitas
BawahExtremitas
B. Pemeriksaan Fisik Daerah Ekstremitas
a. Inspeksi dan Palpasi Ekstremitas Bawah
1. Pengkajian kaki dan tumit dilakukan dengan posisi
berbaring. Inspeksi dengan adanya pembengkakan, kalus, tulang
dikaki yang menonjol, nodul atau deformitas. Catat jika ada
abnormalitas. Lakukan palpasi pada bagian anterior sendi
pada tumit dan palpasi pada tendon Achilles.
2. Lakukan palpasi pada sendi – sendi jari kaki. Catat jika
menemukan abnormalitas. Lakukan inspeksi pada telapak
kaki. Dan perhatikan daerah penonjolan ditumit.
3. Kaji kemampuan gerak daerah tumit dan kaki.
Normalnya kaki dan tumit saat bergerak tidak terasa
nyeri.
4. Kaji kekuatan otot kaki dengan meminta klien untuk
mengangkat kakinya dan tahan dengan tangan kita dan
klien mendorong sekuat - kuatnya.
5. Kaji lutut klien inspeksi dengan adanya perubahan bentuk atau
abnormalitas pada patela. Lakukan palpasi pada semua sisi patela.
Normalnya lutut dan patela itu sejajar dengan kaki bagian atas
dan bawah, tidak menonjol dibagian lateral atau medial.
6. Lakukan pengkajian pada punggung dan pinggul dengan posisi
klien berdiri sendiri. Normalnya adalah bisa berjalan tegak dan
kedua kaki berayun simetris.
7. Minta klien berbaring, lalu lakukan palpasi pinggul. Tekan
pinggul ke arah dalam, minta klien untuk memberi tahu jika
terasa nyeri.
Jangan mengulangi prosedur ini jika klien mengeluh nyeri atau
curiga terjadi pelvis. Lakukan palpasi pada daerah pretibial untuk
mencari adanya edema. Jika ada edema, daerah yang ditekan tidak
akan kembali dalam waktu yang cepat dan terbentuk cekungan
pada daerah tersebut ( pitting edema ).
TERIMA KASIH