Vous êtes sur la page 1sur 46

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN

GANGGUAN SISTEM PENGINDERAAN


Capaian Pembelajaran
• Menguasai tentang konsep asuhan
keperawatan klien dengan gangguan fungsi
penglihatan
• Menguasai tentang pelaksanaan prosedur:
– Pemeriksaan ketajaman penglihatan
– Pemeriksaan fungsi pendengaran
– Irigasi mata
– Irigasi telinga
PERUBAHAN-PERUBAHAN
FUNGSI PENGINDERAAN
Glaucoma
• TIO ditentukan oleh
tahanan terhadap aliran
keluar humor aquos
dari kamera okuli
anterior kedalam
kanalis schlem.

• TIO normal : 12 sampai


20mmHg : 15 mmHg.

4
KATARAK

Lensa:
Disintesis oleh protein
1. Capsule
2. Cortex
3. nucleus
Concept Of Human Being
PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Pengkajian Pola Fungsional
Pengkajian Faktor Resiko
• Umur
• Riwayat anggota keluarga
• Riwayat pemakaian obat-obatan
• Riwayat trauma
• Riwayat hipermetrope
• Riwayat penyakit lain

(Vaugan D & Riodan P, 2000)


Kaji adanya gejala klinis:
• Nyeri pada mata dan sekitarnya (orbita,
kepala, gigi, telinga)
• Pandangan kabut, melihat “halo” sekitar lampu
• Mual, muntah, berkeringat
• Mata merah, hiperemia konjungtiva, dan siliar
• Visus menurun
• Edema kornea
• Bilik mata depan dangkal (mungkin tidak
ditemui pada glaukoma sudut terbuka)
• Pupil lebar lonjong, tidak ada refleks terhadap
cahaya.
• TIO meningkat
(Anas Tamsuri, 2010 : 74-75)
Pemeriksaan Fisik
• Inspeksi
– inflamasi mata
– sklera kemerahan
– kornea keruh
– dilatasi pupil
• Palpasi
– peningkatan TIO
– terasa lebih keras dibanding mata yang lain
Pemeriksaan Diagnostik
• Pemeriksaan lapang pandang perifer : pada
keadaan akut lapang pandang cepat menurun
• Oftalmoskop : cupping dan atrofi diskus
optikus.
• Tonometri : kronik /open angle (22-32
mmHg), akut /angle closure ≥ 30 mmHg
• Gonioskopi akan didapat sudut normal pada
glaukoma kronik
DIAGNOSA KEPERAWATAN
• Nyeri Akut berhubungan dengan peningkatan TIO
• Gangguan sensori persepsi: penglihatan
berhubungan dengan perubahan integrasi
sensori, perubahan penerimaan sensori yang
ditandai dengan perubahan dalam ketajaman
sensori.
• Ansitas b.d faktor fisilogis, perubahan status
kesehatan, adanya nyeri, kemungkinan/kenyataan
kehilangan penglihatan ditandai dengan
ketakutan, ragu-ragu, menyatakan masalah
tentang perubahan kejadian hidup.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
• Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang
kondisi, prognosis, dan pengobatan b.d kurang
terpajan/tak mengenal sumber,
• Mual berhubungan dengan stimulasi penglihatan
yang tidak menyenangkan yang ditandai dengan
sensasi muntah dan melaporkan mual.
• Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk
mencerna makanan yang ditandai dengan kurang
minat terhadap makanan
DIAGNOSA KEPERAWATAN
• Risiko cedera berhubungan dengan gangguan
penglihatan.
• Gangguan citra tubuh berhubungan dengan faktor
biofisik yang ditandai dengan perubahan dalam
keterlibatan sosial, secara sengaja menyembunyikan
bagian tubuh.
• Risiko kekurangan volume cairan berhubungan
dengan penyimpangan yang memengaruhi asupan
cairan, kehilangan volume cairan aktif.
INTERVENSI KEPERAWATAN
DX. 1. Nyeri b.d Peningkatan TIO
INTERVENSI KEPERAWATAN
DX. 2. Gangguan persepsi sensori
INTERVENSI KEPERAWATAN
DX. 3. Ansietas
INTERVENSI KEPERAWATAN
DX. 3. Deficit pengetahuan
ASUHAN KEPERAWATAN
TRAUMA MATA

20
Mata

21
Pengertian
• Trauma mata adalah tindakan sengaja maupun
tidak yang menimbulkan perlukaan mata.
• Trauma mata merupakan kasus gawat darurat
mata.
• Perlukaan yang ditimbulkan dapat ringan
sampai berat atau menimbulkan kebutaan
bahkan kehilangan mata.

22
Macam-macam Bentuk
Trauma
• Fisik atau Mekanik
– Trauma Tumpul, misalnya terpukul, kena bola tenis,
atau shutlecock, membuka tutup botol tidak dengan
alat ketapel.
– Trauma Tajam, misalnya pisau dapur, gunting, garpu,
bahkan peralatan pertukangan.
– Trauma Peluru, merupakan kombinasi antara trauma
tumpul dan trauma tajam, terkadang peluru masih
tertinggal didalam bola mata. Misalnya peluru
senapan angin, dan peluru karet.

23
Macam-macam Bentuk
Trauma
• Kimia
– Trauma Khemis basa, misalnya sabun cuci, sampo,
bahan pembersih lantai, kapur, lem (perekat), cuka,
bahan asam-asam dilaboratorium, gas airmata.
• Fisis
– Trauma termal, misalnya panas api, listrik, sinar las,
sinar matahari.
– Trauma bahan radioaktif, misalnya sinar radiasi bagi
pekerja radiologi
24
Etiologi
• Gejala yang ditimbulkan tergantung jenis
trauma serta berat dan ringannya trauma.
– Trauma tajam selain menimbulkan perlukaan dapat
juga disertai tertinggalnya benda asing didalam
mata. Benda asing yang tertinggal dapat bersifat
tidak beracun dan beracun.
– Trauma tumpul dapat menimbulkan perlukaan
ringan yaitu penurunan penglihatan sementara
sampai berat, yaitu perdarahan didalam bola mata,
terlepasnya selaput jala (retina) atau sampai
terputusnya saraf penglihatan sehingga
menimbulkan kebutaan menetap.

25
Etiologi
• Gejala yang ditimbulkan tergantung jenis
trauma serta berat dan ringannya trauma.
– Trauma Khemis asam umumnya memperlihatkan
gejala lebih berat daripada trauma khemis basa.
Mata nampak merah, bengkak, keluar airmata
berlebihan dan penderita nampak sangat
kesakitan, tetapi trauma basa akan berakibat
fatal karena dapat menghancurkan jaringan
mata/ kornea secara perlahan-lahan.

26
Etiologi
• Trauma Mekanik
– Gangguan molekuler. Dengan adanya perubahan patologi
akan menyebabkan kromatolisis sel.
– Reaksi Pembuluh darah. Reaksi pembuluh darah ini
berupa vasoparalisa sehingga aliran darah menjadi
lambat, sel endotel rusak, cairan keluar dari pembuluh
darah maka terjadi edema.
– Reaksi Jaringan. Reaksi Jaringan ini biasanya berupa
robekan pada cornea, sclera dan sebagainya.

27
Tanda dan Gejala
• Tajam penglihatan yang menurun
• Tekanan bola mata rendah
• Bilik mata dangkal
• Bentuk dan letak pupil berubah
• Terlihat adanya ruptur pada cornea atau sclera
• Terdapat jaringan yang prolaps seperti cairan mata,
iris, lensa, badan kaca atau retina
• Kunjungtiva kemotis
28
Patofisiologi
• Palpebra
– Mengenai sebagian atau seluruhnya
– Jika mengenai levator apaneurosis dapat
menyebabkan suatu ptosis yang permanen
• Saluran Lakrimalis
– Dapat merusak sistem pengaliran air mata dari
pungtum lakrimalis sampai ke rongga hidung
– Hal ini dapat mengebabkan kekurangan air mata

29
Patofisiologi
• Konjungtiva
– Dapat merusak dan ruptur pembuluh darah sehingga
menyebabkan perdarahan sub konjungtiva
• Sklera
– Bila ada luka tembus pada sklera dapat menyebabkan
penurunan tekanan bola mata dan kamera okuli
menjadi dangkal (obliteni)
– Luka sklera yang lebar dapat disertai prolap jaringan
bola mata sehingga bola mata menjadi injuri

30
Patofisiologi
• Kornea
– Bila ada tembus kornea dapat mengganggu fungsi
penglihatan karena fungsi kornea sebagai media
refraksi. Bisa juga trauma tembus kornea
menyebabkan iris prolaps, korpusvitreum dan korpus
ciliaris prolaps, hal ini dapat menurunkan visus
• Lensa
– Bila ada trauma akan mengganggu daya fokus sinar
pada retina sehingga menurunkan daya refraksi dan
sefris sebagai penglihatan menurun karena daya
akomodasi tisak adekuat

31
Patofisiologi
• Iris
– Bila ada trauma akan robekan pada akar iris
(iridodialisis), sehingga pupil agak kepinggir letaknya,
pada pemeriksaan biasa teerdapat warna gelap selain
pada pupil, tetapi juga pada dasar iris tempat
iridodialisis
• Pupil
– Bila ada trauma akan menyebabkan melemahnya
otot-otot sfinter pupil sehingga pupil menjadi
midriasis
32
Patofisiologi
• Retina
– Dapat menyebabkan perdarahan retina yang
dapat menumpuk pada rongga badan kaca, hal ini
dapat muncul fotopsia dan ada benda melayang
dalam badan kaca bisa juga teri oblaina retina

33
Komplikasi
• Glaukoma Sekunder
• Inhibisi Kornea

34
Pemeriksaan Diagnostik
• Pemeriksaan Radiologis
• Pemeriksaan “Computed Tomography” (CT)
• Pengukuran tekanan IOL dengan tonography
untuk mengkaji tekanan bola mata
• Pemeriksaan Optalmoskopi untuk mengkaji
struktur internal dari okuler, papiledema,
retina hemorragi
• Pemeriksaan laboratorium; lekosit, kultur, dsb.
35
Penatalaksanaan
• Bila terlihat salah satu tanda diatas atau dicurigai adanya
perforasi bola mata, maka secepatnya dilakukan pemberian
antibiotik topical, mata ditutup, dan segera dikirim kepada
dokter mata untuk dilakukan pembedahan
• Sebaiknya dipastikan apakah ada benda asing yang masuk ke
dalam mata dengan membuat foto
• Pada pasien dengan luka tembus bola mata selamanya
diberikan antibiotik sistemik atau intravena dan pasien
dipuasakan untuk persiapan pembedahan
• Pasien juga diberi antitetanus provilaksis, dan kalau perlu
penenang

36
Penatalaksanaan
• Trauma tembus dapat terjadi akibat masuknya benda asing ke
dalam bola mata
• Benda asing didalam bola mata pada dasarnya perlu
dikeluarkan dan segera dikirim ke dokter mata
• Benda asing yang bersifat magnetic dapat dikeluarkan dengan
mengunakan magnet raksasa
• Benda yang tidak magnetic dikeluarkan dengan vitrektomi
• Penyulit yang dapat timbul karena terdapatnya benda asing
intraokular adalah indoftalmitis, panoftalmitis, ablasi retina,
perdarahan intraokular dan ftisis bulbi.

37
Asuhan
Keperawatan.......”

38
Pengkajian
• Aktivitas dan istirahat
Perubahan dalam pola aktivitas sehari-hari/ hobi di karenakan adanya
penurunan daya/ kemampuan penglihatan.
• Makan dan minum
Mungkin juga terjadi mual dan muntah kibat dari peningkatan
tekanan intraokuler.
• Neurosensori
Adanya distorsi penglihatan, silau bila terkena cahaya, kesulitan dalam
melakukan adaptasi (dari terang ke gelap/ memfokuskan penglihatan).
39
Pengkajian
• Pandangan kabur , kalau, penggunaan kacamata tidak
membantu penglihatan.
• Peningkatan pengeluaran air mata.
• Nyeri dan kenyamanan
Rasa tidak nyaman pada mata, kelelahan mata. Tiba-tiba dan nyeri
yang menetap di sekitar mata, nyeri kepala.
• Keamanan
Penyakit mata, trauma, diabetes, tumor, kesulitan/ penglihatan
menurun.
40
Pengkajian
Kartu snellen
pemeriksaan penglihatan dan penglihatan sentral
mungkin mengalami penurunan akibat dari
kerusakan kornea, vitreous atau kerusakan pada
sistem suplai untuk retina

Luas lapang pandang


mengalami penurunan akibat dari tumor/ massa,
trauma, arteri cerebral yang patologis atau karena
adanya kerusakan jaringan pembuluh darah akibat
trauma
41
Diagnosa Keperawatan

42
43
44
45
Referensi
• Carpenito, L.J. (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi
Keperawatan. Ed. 2. Jakarta : EGC
• Doengoes, Marylin E., 1989, Nursing Care Plans, USA
Philadelphia: F.A Davis Company
• Darling, V.H. & Thorpe, M.R. (1996). Perawatan Mata.
Yogyakarta : Yayasan Essentia Media.
• Ilyas, Sidarta. (2000). Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit
Mata. Jakarta : FKUI Jakarta.
• Wijana, Nana. (1983). Ilmu Penyakit Mata. Jakarta :
FKUI Jakarta
46