Vous êtes sur la page 1sur 16

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

PRE dan POST ECT


(ELECTRO CONVULSIVE THERAPY)

DISAMPAIKAN OLEH :
Ns. Sri Supami, SPd,Skep,MKes
A.Pengertian
ECT adalah tindakan pengobatan dengan
menggunakan aliran listrik dan memberikan aliran
listrik pada otak melalui 2 elektroda yang ditempatkan
pada bagian temporal kepala, ada kejang setelah
diberikan aliran listrik yang akan menghasilkan efek
terapi (Caplan, 2002)
Lamanya : 25 dtk – 45 dtk . Dg kekuatan 700 ml amper
Untuk klien depresi perbaikan yang timbul lebih cepat, hanya
memerlukan 6-10 X terapi, sedangkan untuk skizofrenia
membutuhkan 20-30 X terapi secara terus menerus frekuensi
terapi yang biasanya dilaksanakan adalah tiap 2-3 hari sekali
(seminggu 2X)
Macamnya :
1. ECT Konvensional
- Pasien merasa kurang nyaman.
- Kurang manusiawi bagi yang
melihat.
2. ECT Premedikasi
- Pasien tidak menolak.
- Pengurangan kejang.
- Menghilangkan komplikasi
- Mengurangi resiko
Indikasi utama pemberian ECT
1. G³ afektif berat type depresi
2. Mania
3. Skizofernia
4. Agitasi yang responsif dengan obat-obatan

Kontra indikasi
1. Usia lanjut resiko tinggi
2. Penyakit saluran nafas
3. Penyakit sendi dan tulang
4. Penyakit otak organik
5. Kehamilan resiko tinggi
Persiapan
1.Obat-obatan yang akan digunakan dalam
tindakan ECT
2.Obat-obatan emergency dalam keadaan
siap pakai
3.Seperangkat alat ECT
4. Surat persetujuan dari keluarga (Informad
Consent)Jelaskan kepada keliuarga hal-hal
yang berhubungan dengan ECT.
Mis: kegunaan, keuntungan, efek samping
dari ECT yang tentunya adalah mengurangi
ketakutan atau kecemas pasien dan
keluarga.
C. Pengkajian
Pengkajian pada kondisi Pre ECT meliputi :
1.Sesuai dengan gambaran klinik respon pasien
yang akan di ECT, depresi berat dengan insomnia,
penurunan BB, kemunduran psikomotor,
perasaan berdosa,kecenderungan bunuh diri.
2.Fisik : Pemeriksaan tanda-tanda vital,
pemeriksaan EKG, EEG, Photo thorax, Gigi &
laburatorium.
3.Tingkat rasa pengetahuan terhadap ECT pada
pasien atau keluarga.
4.Tingkat rasa cemas / takut terhadap ECT
5.Mekanisme koping yang digunakan
D.Masalah Keperawatan
Pada kondisi Pre ECT adalah :
1. Risiko bunuh diri
2. G³ Pola tidur
3. G³ Hubungan Sosial
4. G³ Nutrisi
5. G³ Kseimbangan cairan
6. Ketidak mampuan merawat diri
7. Kurang pengetahuan
E. Intervensi Pada Pasien dengan Terapi
ECT :
Prinsip :
1.Keikutsertaan dalam tindakan.
Inervensi :
a. Berikan pendidikan tentang ECT kepada
keluarga termasuk tindakan dan prosedur.
b. Efek yang diharapkan atau diakibatkan.
c. Keluarga ataupun pasien anjurkan untuk
mengekspresikan perasaan.
2. Mempertahankan integritas biologis.
Intervensi ;
a. Cek peralatan emergency sebelum dipakai
b. Puasa 4 – 6 jam sebelum dilakukan ECT
c. Hindarkan objek yang dapat membahayakan
seperti perhiasan, gigi palsu, kaca mata, alat
bantu pendengaran
d. Cek tanda-tanda vital
e. Perhatikan jalan nafas yang normal
f. Posisi Kepala dimiringkan sampai pasien
sadar kembali
g. Bantu pasien untuk ambulasi
h. Beri analgetik bila diperlukan
3. Pertahankan martabat dan harga diri.
Intervensi :
a. Beri dukungan pada pasien sebelum
dan selama pengobatan
b. Pelihara privacy pasien selama
pengobatan
c. Orientasi pasien dan bantu keluarga
untuk mengingat tingkah laku pasien
dengan amnesia dan kebingungan
Intervensi pada kondisi Pre ECT :
Diberikan sesegera mungkin baik pada individu
maupun keluarga :
- Bantu menghilangkan perasaan takut
- Kaji ulang respon pasien karena kadang-kadang
pasien mempunyai konsep yang salah
- Pelaksanaan ECT bisa diruang bedah atau ruang
khusus
- Berikan injeksi anti cemas 30 menit sebelum ECT
dilakukan
Pengkajian pada kondisi Post ECT :
Tingkat kesadaran, bradi kardi, mual-
mual, sakit kepala,agitasi dll.

Pada kondisi Post ECT dalah :


1. Hilangnya kesadaran / ingatan
2. G³ rasa nyaman
4. Rasa mual
5. Risiko injuri
F.Administrasi Palaksanaan ECT :
1. Pasien tidur terlentang di tempat tidur
2. Pasien diberi oksigen 100% selama 1 – 2
menit
3. Pasang infus
4. Selama periode apnoe yang disebabkan
obat-obatan pelemas otot dan konvulsi
pasien diberi hiperoksigenasi
5. Pelihara rasa nyaman pasien
6. Elektroda dipasang
7. Mulut disumbat spatel karet
8. Ketika terkadikejang beri oksigen sampai
terjadi pernapasan spontan
9. Setelah selesai ECT peralatan dibereskan
dan pasien diobservasi
10. Setelah ECT pasien belum sadar perawatan
yang diberikan sama dengan perawatan coma
pernafasan yaitu :
a.Jalan nafas pasien harus dijaga, peralatan
suction diperlukan untuk mengeluarkan secret
dari mulut dan tenggorokan
b.Posisi kepala dimiringkan untuk mencegah
aspirasi oleh secret atau muntahan
c. Monitor tanda-tanda vital
d. Setelah 10 – 15 menit biasanya pasien sadar
sementara mengantuk pengaruh dari anestesi
masih ada
e. Setelah pasien sadar perawat harus
mengorientasikan
f. Kadang setelah sadar ter ∴ agitasi oleh
karena itu perlu pengekangan
g. Beri sarapan dan orientasikan kembali
I. Pasien dianjurkan istirahat

EVALUASI :
Apakah pasien merasa tenang atau tidak sebelum
dilakukan dan sesudah dilakukan ECT.