Vous êtes sur la page 1sur 39

FARMAKOTERAPI ASMA

Wahyudi, S.Farm, M.Si., Apt


Definisi
• Penyakit Asma berasal dari kata "Ashtma" yang diambil dari bahasa
Yunani yang berarti "sukar bernapas".
• Penyakit Asma merupakan proses inflamasi kronis saluran
pernapasan yang melibatkan banyak sel dan elemennya.
• Proses inflamasi kronis ini menyebabkan saluran pernapasan menjadi
hiperesponsif, sehingga memudahkan terjadinya bronkokonstriksi,
edema, dan hipersekresi kelenjar, yang menghasilkan pembatasan
aliran udara di saluran pernapasan.

(GINA (GloballnitiativeforAsthma) 2011).


Prevalensi
 Mengacu pada data dari WHO, saat ini ada sekitar 300 juta
orang yang menderita asma di seluruh dunia.
 Terdapat sekitar 250.000 kematian yang disebabkan oleh
serangan asma setiap tahunnya, dengan jumlah terbanyak
di negara dengan ekonomi rendah-sedang.
 Prevalensi asma terus mengalami peningkatan terutama di
negara-negara berkembang akibat perubahan gaya hidup
dan peningkatan polusi udara.
 Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, melaporkan prevalensi
asma di Indonesia adalah 4,5% dari populasi, dengan
jumlah kumulatif kasus asma sekitar 11.179.032.

Sumber:Perhimpunan Dokter Paru Indonesia


• Mengi
(whezzing)
• Sesak napas
(breathless
ness)
• Dada terasa
berat(chest
thigtness)
• Batuk-
batuk Gejala asma
Etiologi

• Faktor penyebab berkembangnya asma, disebut sebagai Host Factor


• Faktor yang memicu gejala asma, disebut sebagai Environmental
Factor

• Sumber : GINA (Global Initiative For Asthma)


Host Factor

• Genetic : kecenderungan untuk memproduksi IgE tinggi


• Sex:
• Anak: . Hingga umur 14 tahun, prevalensi asma 2x lipat lebih tinggi pada anak
laki-laki dibanding anak perempuan
• Dewasa: prevalensi pada wanita lebih tinggi dari pria
Genetik

• Asthma memiliki komponen yang dapat diwariskan bahwa nomor


region kromosom berhubungan dengan asthma susceptibility.
Contohnya, kecenderungan untuk memproduksi level total serum IgE
yang meningkat merupakan co-inherited (faktor yang mendampingi
pewarisan) dengan airway hyperresponsiveness dan gen yang
menentukan airway hyperresponsiveness ini berlokasi dekat dengan
major locus yang meregulasi level serum IgE pada chromosome 5q.
• Sebagai tambahan, gen predisposisi asma berkaitan dengan respon
treatment asma. Sebagai contoh, variasi pada gen encoding beta-
adrenoreceptor terkait dengan perubahan pada subject respon
terhadap β2-agonist.
Environmental factors
• Allergens Domestic mites, binatang berbulu (anjing, kucing, tikus), Pollen
(serbuk), dan cuaca
• Infections (predominantly viral)
• Occupational Sensitizer
• Tobacco smoke
• Diet
• Bakteri: Chlamydia pneumoniae
Patofisiologi

Inflamasi
• Terutama karena keterlibatan leukotriene
• Leukotriene adalah hasil dari perubahan asam arakhidonat oleh
enzim lipooksigenase
Bronkokonstriksi (penyempitan bronkus)
• Karena kontraksi otot polos bronkus dan inflamasi yang
menyebabkan pembengkakan saluran nafas dan hipersekresi mukus.
Faktor-factor yang berkontribusi terhadap perkembangan
penyempitan jalan napas pada pasien yang mengidap asthma:

• Airway smooth muscle contraction


Kontraksi otot polos jalan napas dalam merespon berbagai
mediator bronkonstriksi dan neurotransmiter merupakan
mekanisme utama penyempitan jalan napas.

• Airway edema
Edema jalan napas disebabkan oleh peningkatan kebocoran
mikrovaskular dalam merespon mediator-mediator
inflamasi. Mekanisme ini penting selama kekambuhan akut
(acute exacerbation)
• Airway thickening
Penebalan jalan napas dikarenakan perubahan
struktur, sering kali disebut "remodelling",
proses ini penting pada penyakit yang lebih
parah dan tidak sepenuhnya reversible dengan
pengobatan.

• Mucus hypersecretion
Hipersekresi mukus dapat mengakibatkan
oklusi luminal (mucus plugging). Oklusi luminal
merupakan hasil dari peningkatan sekresi mukus
dan inflammatory exudate.
3 Karakteristik asma

1. Obstruksi sal.pernafasan yg bersifat reversibel


2. Inflamasi jalan nafas
3. Hiperesponsivitas sal. nafas
Diagnosa
1. Tes spirometry
Spirometer adalah alat yang mengukur seberapa baik Anda
bernapas.Bernafaslahpada mouthpiece menurut instruksi dokter. Pasien
biasanya menarik napas penuh, lalu mengembuskan napas secara perlahan,
atau cepat, sesuai instruksi dokter.Agar hasil akurat, tes ini dilakukan sebanyak
setidaknya 3 kali.
Tes lainnya

2. Rontgen dada
3. EKG: tes yang mendeteksi gangguan fungsi jantung yang
menampilkan gejala-gejala yang mirip dengan asma.
4. Tes darah yang mengukur imunoglobulin E, yaitu antibodi yang
muncul saat mengalami reaksi alergi
Asthma Management Handbook (National Asthma Council Australia/ NAC, 2006)
Terapi farmakologi

•Terdiri dari 2 kelas :


• Quick relief
medication atau
“relievers”
• Long-term control
medication atau
“controller”
i. Reliever : bronkodilator

• Agonis β2 adrenergik
• Antikolinergik
• Turunan xanthin
Agonis β2

• mengikat reseptor β2 adrenergik di bronkus sehingga bronkus


berdilatasi
• Short acting β2-agonist (SABA): salbutamol, terbutalin
• Long Acting β2-agonist (LABA): eformoterol (onset cepat), salmeterol
(onset lambat). Keduanya tersedia dalam bentuk inhaler tunggal
ataupun yang dikombinasi dengan ICS (inhaled corticosteroid).
• LABA juga merupakan symptom controller (pengontrol gejala) yang
memperpanjang bronkodilatasi sampai 12 jam, dan memproteksi
adanya penyempitan saluran nafas karena alergen atau stimulus lain.
Antikolinergik:

• bekerja menghambat kerja saraf parasimpatik. Sehingga efek mirip


saraf simpatik (adrenergik). Obatnya: ipratroprium bromida (MDI,
nebulizer).
Turunan xanthin:

• theophylline (oral), bekerja merelaksasi otot polos bronkhus,


antiinflamasi dan meningkatkan kontraktilitas diaghfrahma. Hanya
untuk asma akut yang parah karena mempunyai indeks terapi yang
sempit sehingga rentang keamanan sempit dan perlu dimonitor
konsentrasi obat dalam darah.
• aminophylline
ii. Antiinflamasi:

• sebagai preventer (pencegahan) serangan asma


• Inhaled corticosteroid (ICS)
• Leukotriene Reseptor Antagonist (LTRA)
• Cromone
• Antiimmunoglobulin therapy
• Oral atau parenteral Corticosteroid
• bekerja menghambat kerja enzim fosfolipase yang mengubah fosfolipid
menjadi asam arakhidonat. Sehingga otomatis leukotriene ( hasil perubahan
asam arakhidonat oleh enzim lipooksigenase) juga tidak terbentuk.
Leukotriene Reseptor Antagonist (LTRA)

• montelukast, zafirlukast (oral)


• Bekerja memblok reseptor leukotriene
Cromone

• Sodium cromoglycate, nedocromil sodium (MDI)


• Menghambat respon alergi dengan menstabilkan membran sel mast
sehingga tidak mudah terdegranulasi dan mengeluarkan mediator
inflamasi (histamin, leukotriene, sitokin).
• Histamin terlibat dalam asma pada anak, sehingga cromone
digunakan untuk terapi preventif pada anak.
Antiimmunoglobulin therapy

• omalizumab (injeksi)
• Antibodi monoklonal rekombinan terhadap IgE (mengikat IgE yang
terikat di sel mast) sehingga mencegah pelepasan mediator inflamasi
(histamin, leukotriene).
Oral atau parenteral Corticosteroid

• prednisolone, prednisone, methylprednisolon.


• Untuk serangan yang parah yang terjadi walaupun sudah
menggunakan ICS atau kombinasi ICS-LABA.
Prinsip pengobatan asma dewasa

• Short acting β2-agonist (SABA) merupakan terapi reliever (pelega)


standar pada gejala asma
Bagi yang menggunakan kombinasi budesonid (suatu ICS) dan eformoterol
(suatu LABA) sebagai pemeliharaan dan reliever bisa menggunakannya tanpa
memerlukan lagi SABA terpisah.
• Pencegahan asma diperlukan bagi yang terserang gejala asma lebih
dari 3 kali seminggu atau yang menggunakan SABA lebih dari 3 kali
seminggu
• Pencegahan mulai dengan inhaled corticosteroid (ICS) dosis rendah.
Pasien moderate-persistent mungkin membutuhkan long acting β2
agonist (LABA).
Prinsip pengobatan asma dewasa
• Pada dewasa, terapi awal dengan ICS lebih baik dibandingkan
Leukotriene receptor antagonis (LTRA), cromone atau theophylline
untuk meningkatkan fungsi pernafasan dan mengurangi gejala.
• Pada dewasa yang asma persistent sedang (moderate) sampai parah
(severe) walaupun telah menggunakan ICS, penambahan LABA akan
memperbaiki gejala dan mengurangi kebutuhan terhadap ICS,
dibandingkan bila hanya menggunakan ICS tunggal.
• LABA: eformoterol memiliki onset yang cepat (1-3 menit), salmeterol
memiliki onset yang lebih lambat (15-20 menit)
Prinsip pengobatan asma dewasa

• Kombinasi budesonide (kortikosteroid) dengan eformoterol


digunakan untuk terapi pemeliharaan, maupun untuk terapi
pemeliharaan sekaligus reliever.
• Kombinasi fluticasone (kortikosteroid) dan salmeterol hanya
digunakan untuk terapi pemeliharaan (karena onset yang lambat)
• Penggunaan SABA secara rutin tidak menguntungkan (karena durasi
kerja pendek). Jadi SABA digunakan bila dibutuhkan saja.
Prinsip pengobatan anak dan remaja

• SABA digunakan sebagai Reliever pada gejala asma


• Pada anak, terapi pencegahan menggunakan ICS dosis rendah,
montelukast, atau cromone inhalasi
• Sebagian besar anak mempunyai episode yang jarang, sehingga dapat
diatasi dengan bronkodilator saat dibutuhkan dan tidak
membutuhkan pengobatan pencegahan jangka panjang.
• Bukti efikasi LABA pada anak terbatas.
Penggunaan obat asma pada dewasa

Klasifikasi Asma Golongan Obat


Intermittent Asthma SABA
Persistent Asthma (mild-moderate-severe) ICS atau ICS+LABA
LTRA pengganti ICS jika pasien harus
menghindari ICS