Vous êtes sur la page 1sur 50

KELOMPOK 12

• CHELSEA PUTRI NINGSIH 110 20160001


• BUDIMAN 110 20160040
• MUHAMMAD TSAQIB 110 20160062
• AULIA RIZKI RAHIM 110 20160063
• MUHAMMAD AL QIDAM A.M 110 20160087
• BAGASKARA SUDIRMAN 110 20160098
• CITRA ANNISA FITRI 110 20160129
• SESARINA TENRI OLA S. 110 20160131
• MIFTAHULJANNAH ALI 110 20160154
• NUR ASHIANTY HADIJAH 110 20160165
• SHAVIRA MD 110 20160172
SKENARIO 3

Seorang laki-laki usia 32 tahun datang ke puskesmas dengan


keluhan muncul bercak putih di daerah lipatan paha, berbentuk tidak
merata disertai gatal ringan. Bercak bulat kecil berdiameter 1-3 cm
disertai sisik halus sejak 2 minggu yang lalu. Bercak putih ini dikelilingi
bintik-bintik merah, tetapi bagian tengah lesi kulit tampak tenang dan
sisik halus.
KATA KUNCI
• Laki-laki usia 32 tahun.
• Muncul bercak putih di daerah lipatan paha, berbentuk tidak merata
disertai gatal ringan.
• Bercak bulat kecil berdiameter 1-3 cm disertai sisik halus sejak 2
minggu yang lalu.
• Bercak putih dikelilingi bintik-bintik merah, bagian tengah lesi kulit
tampak tenang dan sisik halus.
PERTANYAAN
1. Sebutkan penyakit-penyakit tropis yang bermanifestasikan bercak
putih pada kulit !
2. Penyebab timbulnya bercak putih pada kulit !
3. Jelaskan patomekanisme timbulnya bercak putih berdasarkan
skenario !
4. Penyebab timbulnya bintik-bintik merah disekitar bercak putih !
5. Langkah-langkah diagnosis !
6. Diagnosis banding !
7. Perspektif islam !
Histologi, Fisiologi,
Histopatologi
Histologi
Fisiologi
1. Fungsi Proteksi
2. Fungsi Absorpsi
3. Fungsi Ekskresi
4. Fungsi Persepsi
5. Pengaturan Suhu Tubuh
6. Pembentukan Pigmen
7. Fungsi Keratinisasi
8. Pembentukan Vitamin D
Histopatologi
A. Morbus Hansen

tampak perineural (perin) dan


infiltrat sel radang mengelilingi
perineural (panah tebal) dan
serabut saraf kecil bermielin
(panah tipis) di dalam
endometrium dan compartement.
B. Tinea Cruris

Terdapat neutrofil pada stratum


korneum dan tanda sandwich
yaitu terdapatnya elemen jamur
yang tersusun berselang-seling di
dalam lapisan stratum korneum
C. Pityriasis Versicolor • Epidermis menunjukkan
akantosis dan hiperkeratosis
ringan, dan suatu mild
perivascular infiltrate tampak
nyata di dermis.Suatu
perubahan epidermis yang
menyerupai acanthosis nigricans
teramati pada keanekaragaman
papula, dengan pembuluh darah
Pewarnaan H&E yang berdilatasi yang terdapat
pada lesi eritematosa.
1.Sebutkan penyakit-penyakit tropis yang bermanifestasikan bercak
putih pada kulit !
Tinea Versikolor (Panu) Tinea Kruris (ekzema marginatum) Morbus Hansen Pitiriasis alba

Vitiligo

Siregar,R.S.2015.Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi 3. Jakarta:EGC. Halaman 10,29,154,252.


Ortonne JP, Bahadoran P, dkk. Hypomelanosis and Hypermelanosis. Dalam: Freedberg IM, Eisen AZ, Wolff K, dkk, editor. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 10th Ed. Mc Graw-Hill. New York. 2010:
836.
1.Sebutkan penyakit-penyakit tropis yang
bermanifestasikan bercak putih pada kulit !
• Tinea Versikolor (Panu)
Tinea versikolor adalah infeksi jamur superfisial yang ditandai
dengan adanya macula di kulit, skuama halus disertai rasa gatal.
Penyebabnya adalah Malassezia furfur /Pityrosporum orbiculare.

Siregar,R.S.2015.Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi 3. Jakarta:EGC. Halaman 10.


• Tinea Kruris (ekzema marginatum)
Tinea Kruris adalah infeksi jamur dermatofita pada daerah
kruris dan sekitarnya. Penyebab Sering kali oleh Epidermophyton
floccosum, namun dapat pula oleh Trichopyton rubrum dan Trichopyton
mentagrophytes,yang ditularkan secara langsung atau tak langsung.

Siregar,R.S.2015.Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi 3. Jakarta:EGC. Halaman 29.


• Morbus Hansen / kusta (lepra)
Merupakan penyakit infeksi mikobakterium yang bersifat kronik
progresif, mula-mula menyerang saraf tepi, dan kemudian terdapat
manifestasi kulit. Penyebabnya adalah Mycobacterium leprae, basil
tahan asam, 1-8 x 0,2-0,5 mikron.

Siregar,R.S.2015.Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi 3. Jakarta:EGC. Halaman 154.


• Vitiligo
Vitiligo adalah kelainan kulit akibat gangguan pigmentasi dengan
gambaran berupa bercak-bercak putih yang berbatas tegas.
Penyebabnya Tidak diketahui; berhubungan dengan proses imunologik
atau gangguan neurologis atau autotoksik.

Siregar,R.S.2015.Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi 3. Jakarta:EGC. Halaman 252.


• Pitiriasis alba
Pitiriasis alba sering dijumpai pada anak berumur 3-16 tahun.
Wanita dan pria sama banyak. Lesi berbentuk bulat atau oval. Pada
mulanya lesi berwarna merah muda atau sesuai warna kulit dengan
skuama halus diatasnya. Setelah eritem menghilang lesi yang dijumpai
hanya hipopigmentasi dengan skuama halus.

Ortonne JP, Bahadoran P, dkk. Hypomelanosis and Hypermelanosis. Dalam: Freedberg IM, Eisen AZ, Wolff K, dkk, editor. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 10th Ed. Mc Graw-
Hill. New York. 2010: 836.
2. Penyebab timbulnya bercak putih pada kulit !
3. Jelaskan patomekanisme timbulnya bercak
putih berdasarkan skenario !
Faktor endogen
Faktor eksogen
(Malnutrisi,
(panas, kelembaban)
hyperhidrosis)

Flora normal

Bakteri bertumbuh tidak normal

Merubah asam lemak menjadi asam


dekarboksil

Menghambat Tyrosine

Hipopigmentasi
Choi S. Funngal Infection : Pityriasis Versicolor. In : Arndt KA, Hsu JTS. Manual of Dermatologic Therapeutics, 7th Ed. Newyork. Lippicontt Wilkins. 2007.
4. Penyebab timbulnya bintik-bintik merah
disekitar bercak putih !

Gatal Garukan
Reseptor epitel
dan Fibro nektin

Invasi
Luka bakteri
terbuka flora
normal Inflamsi Eritema

Dermatofitosis
imunosporesi

Impetigo - review. An Bras Dermatol. 2014;89(2):293-9.


5. Langkah-langkah diagnosis !
6. Diagnosis banding !
MORBUS HANSEN/LEPRA TINEA KRURIS PYTIRIASIS VERSICOLOR

Infeksi jamur dermatofita Infeksi jamur superficial yang ditandai


pada daerah kruris dan perubahan pigmen kulit akibat
DEFENISI sekitarnya. Atau mikosis
superfisial yang disebut juga kolonisasi stratum korneum oleh jamur
Eczema marginatum lipofilik dimorfik dari flora normal kulit

Epidermophyton floccosum
,Trichophyton rubrum. Selain itu
ETIOLOGI Trichophyton mentagrophytes &
Malassezia furfur
microsporum gallinae

• Gatal dan ruam pada lipat paha


• Pemakaian bersamaan barang • Kelainan kulit ditemukan di badan.
pribadi • terlihat bercak-bercak berwarna-warni
• Sering memakai pakaian ketat • Bercak bentuk tidak teratur sampai
• Papulo vesikel eritematosus teratur,
multipel aktif polisiklis (tepi lesi • batas jelas sampai difus.
aktif) • Bentuk papulo-vesikular
GEJALA KLINIS • Central healing hiperpigmentasi
• biasanya asimtomatik
dengan nodula eritem
• bercak/makula
• Tepian berskuama tajam
• Bisa terjadi likenifikasi akibat (hipopigmentasi)/(hiperpigmentasi)
garukan • gatal ringan  saat berkeringat,
• Infeksi sekunder = lesi eksudatif • lesi bentuk folikular/ lebih besar/
dan lembab numular yang meluas  plakat.
PYTIRIASIS VERSICOLOR
1. Mikroskopic : Swab KOH 10
%
2. Kultur pada agar saboraud 1. Pemeriksaan langsung dengan
DIAGNOSIS 3. Pemeriksaan dengan Sinar KOH 10%
Wood 2. Pemeriksaan dengan Sinar Wood

1. Obat sistemik
• Griseofulvin 500-1.000 mg selama 2-3
minggu
• ketokonazole100 mg/hari selama 1 bulan.
• Itrakonazole . Dosis dewasa 200mg selama
1. Obat topikal
1minggu, anak-anak 5 mg 1 minggu. (shampo Selenium sulfida 2,5%  2-
• Terbinafine . Dosis dewasa 250 mg , 1-2 3 minggu sekali atau
minggu
2.Obat topikal shampo Ketokonazol 2%  3 hari
• Cloritmazole 1%, solution, lotion. Diberikan berturut-turut serta Terbinafin
2 kali sehari selama 4 minggu.
• Mikonazole 2%, solution, lotio, bedak. topikal 1% 2 kali per hari selama
TERAPI Diberikan 2 kali sehari selama 4 minggu. seminggu)
• Econazole 2-
4 minggu dengan cara dioleskansebanyak 2. Obat sistemik
2kali atau 4 kali dalam sediaan cream 1% (ketokonazol 200 mg/hari  7 hari.
• Naftifine 1% cream dan lotion. dioleskan 4
kali sehari selama 2-4minggu
Trakonazol dosis 200-400 mg/hari 
3-7 hari. Flukonazol 400 mg dalam
dosis tunggal.
PYTIRIASIS VERSICOLOR

Prognosis penyakit ini baik Perjalanan penyakit berlangsung


dengan diagnosis dan terapi kronik, namun umumnya memiliki
prognosis baik. Masalah menetapnya
yang tepat asalkan
PROGNOSIS hipopigmentasi, diperlukan waktu
kelembapan dan kebersihan yang cukup lama untuk repigmentasi
kulit selalu dijaga kembali seperti kulit normal, namun
bukan kegagalan.

1. Menjaga higiene
2. Tidak memakai pakaian
secara bergantian . 1. Pemakaian 50% propilen glikol
3. Menghindari faktor dalam air
2. Pada daerah endemik dapat
pencetus/ faktor resiko . memakai ketokonazol 200 mg/hari
4. Menjaga agar daerah selama 3 bulan atau itrakonazol 200
PENCEGAHAN selangkangan atau lipat paha mg sekali sebulan atau pemakaian
tetap kering dan tidak sampo selenium sulfid sekali
seminggu.
lembab adalah salah satu
3. Pajanan terhadap sinar matahari
faktor yang mencegah dan kalau perlu obat fototoksik
terjadinya infeksi pada tinea dapat dipakai dengan hati-hati.
kruris.
Morbus hansen
Definisi

Kusta = infeksi granulomatous kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae

Penemu = Dr. Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874 sehingga penyakit ini disebut Morbus Hansen

Kusta mengenai sistem saraf perifer, kulit, namun dapat juga terjadi mukosa traktus respiratorius
bagian atas, kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat

1. Kementrian Kesehatan RI. 2012. Pedoman nasional program pengendalian penyakit kusta. Jakarta: Bakti Husada.
2. A.Kosasih, I Made Wisnu, Emmy Sjamsoe – Dili, Sri Linuwih Menaldi. Kusta. 2010. Dalam: Djuanda,Adhi dkk.(ed). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Kelima. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI;h. 73-88.
Etiologi

Mycobacterium leprae :

1.obligat intrasel

2.aerob

3.tidak dapat dibiakkan secara in vitro

4.basil Gram positif

5.ukuran 3 – 8 μm x 0,5 μm

6.tahan asam dan alkohol

7.Waktu pembelahan yaitu 2-3 minggu

8.optimal pada suhu 27°C – 30°C secara in vivo

1. Kementrian Kesehatan RI. 2012. Pedoman nasional program pengendalian penyakit kusta. Jakarta: Bakti Husada.
Epidemiologi

1. Usia: anak-anak lebih peka dari pada orang dewasa

2. Jenis kelamin: laki-laki lebih banyak dijangkiti

3. Ras: bangsa Asia dan Afrika lebih banyak dijangkiti

4. Kesadaran sosial: umumnya negara-negara endemis kusta adalah negara


dengan tingkat sosial ekonomi rendah

5. Lingkungan: fisik, biologi, sosial, yang kurang sehat.


Manifestasi klinik :
1. Satu atau lebih bercak hipopigmentasi disertai hilangnya rasa rasa raba.
2. Satu atau lebih saraf perifer yang menebal
3. Basil tahan asam pada hapusan atau biopsi kulit.

Soedarto.2018. Buku Ajar Kedokteran Tropis. Jakarta : Soedarto. Hal 208


Klasifikasi menurut WHO
PB (Pausibasilar) MB (Multibasilar)

Lesi kulit (makula yang datar, papul yang 1-5 lesi >5 lesi
meninggi, infiltrate, plak eritem, nocus) Hipopigmentasi/eritema Distribusi lebih simetris
Distribusi tidak simetris
Kerusakan saraf (menyebabkan hilangnya Hilangnya sensasi yang jelas Hilangnya sensasi kurang jelas
sensasi/kelemahan otot yang dipersarafi Hanya satu cabang saraf Banyak cabang saraf
oleh saraf yang terkena

BTA Negatif Positif

Tipe Indeterminate (I), Tuberkuloid (T), Lepromatosa (LL), Borderline lepromatous


Borderline tuberkuloid (BT) (BL), Mid borderline (BB)

1. A.Kosasih, I Made Wisnu, Emmy Sjamsoe – Dili, Sri Linuwih Menaldi. Kusta. 2010. Dalam: Djuanda,Adhi dkk.(ed). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Kelima. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI;h. 73-88.
Klasifikasi Ridley-Jopling
1. Tipe Tuberkuloid (TT)
2. Tipe Borderline Tuberkuloid (BT)
3. Tipe Indeterminate (I)
4. Tipe Midborderline (BB)
5. Tipe Borderline Lepromatosa (BL)
6. Tipe Lepromatosa (LL)
Gambaran klinis, Bakteriologis, dan Imunologik Kusta PB

Karakteristik Borderline Tuberkuloid


Tuberculoid Leprosy (TT) Indeterminate Leprosy (I)
(BT)
Lesi
Bentuk Makula dibatasi infiltrat;
Makula atau makula dibatasi infiltrat Hanya infiltrat
infiltrat saja
Jumlah
Satu atau beberapa Satu dengan lesi satelit Satu atau beberapa

Distribusi Terlokasi dan asimetris Asimetris Bervariasi


Permukaan Kering,skuama Kering, skuama Halus agak berkilat
Anestesia Tidak ada sampai tidak
Jelas Jelas
jelas
Batas
Jelas Jelas Dapat jelas atau tidak jelas

BTA
Pada lesi kulit Negatif Negatif, atau 1+ Biasanya negatif
Gambaran klinis, Bakteriologis, dan Imunologik Kusta MB
Karakteristik
Lepromatosa Leprosy (LL) Borderline Lepromatosa (BL) Mid-borderline (BB)

Lesi
Bentuk Makula, infiltrat difus, papul, Plak, lesi bentuk kubah, lesi
Makula, plak, papul
nodus punched out
Jumlah Banyak distribusi luas, praktis
Banyak tapi kulit sehat masih ada Beberapa, kulit sehat (+)
tidak ada kulit sehat

Distribusi Simetris Cenderung simetris Asimetris


Permukaan Sedikit berkilap, beberapa lesi
Halus berkilat Halus berkilat
kering
Anestesia Tidak jelas Tidak jelas Lebih jelas
Batas Tidak jelas Agak jelas Agak jelas
BTA
Pada lesi kulit Banyak Banyak Agak banyak
Sekret hidung Banyak Biasanya tidak ada Tidak ada
Tes Lepromin
Negatif Negatif Biasanya negatif
DIAGNOSIS
Sensorik :
1. raba
2. nyeri
3. suhu
Penebalan saraf tepi :
1. N.aurikularis magnus
2. N.ulnaris
3. N.radialis
4. N.medianus
5. N. peroneus komunis
6. N. tibialis posterior

1. A.Kosasih, I Made Wisnu, Emmy Sjamsoe – Dili, Sri Linuwih Menaldi. Kusta. 2010. Dalam: Djuanda,Adhi dkk.(ed). Ilmu Penyakit Kulit dan
Pemeriksaan penunjang :
1. Tes bakterioskopik
2. Histopatologi
3. Tes lepromin

1. A.Kosasih, I Made Wisnu, Emmy Sjamsoe – Dili, Sri Linuwih Menaldi. Kusta. 2010. Dalam: Djuanda,Adhi dkk.(ed). Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin. Edisi Kelima. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;h. 73-88.
2. Lewis S. Leprosy. Update 14 mei 2018. Diunduh dari: http://emedicine.medscape.com/article/1104977-overview#showall
WHO.MULTI DRUG THERAPY.LEPROSY ELIMINATION
Tinea Cruris
• Definisi

Tinea kruris adalah mikosis superfisial atau disebut


juga Eczema marginatum, yang termasuk golongan
dermatofitosis pada lipat paha, daerah perineum,
dan sekitar anus. Kelainan ini dapat bersifat akut
atau menahun,

Referensi : Janik, M. P., &Heffernan, M. P. Superficial Fungal Infection : Dermathopytosis, Onycomycosis, Tinea nigra, Piedra . In:
Fitzpatrick Dermatology in General Medicine. McGraw-Hill: USA. 2008. p 1807-1822.
Epidemiologi
Tinea cruris dapat ditemui diseluruh dunia dan paling banyak di daerah tropis. Angka
kejadian lebih sering pada orang-orang dewasa, terutama laki-laki dibandingkan
perempuan. Jamur ini sering terjadi pada orang yang kurang memperhatikan
kebersihan atau lingkungan sekitar yang kotor dan lembab

Etiologi
Penyebab tinea kruris terutama adalah Epidermophyton floccosum dan Trichophyton
rubrum. Selain itu juga dapat disebabkan oleh Trichophyton mentagrophytes dan
walaupun jarang di sebabkan oleh microsporum gallinae.

Referensi : Janik, M. P., &Heffernan, M. P. Superficial Fungal Infection : Dermathopytosis, Onycomycosis, Tinea nigra, Piedra . In:
Fitzpatrick Dermatology in General Medicine. McGraw-Hill: USA. 2008. p 1807-1822.
Patofisiologi

Referensi : Janik, M. P., &Heffernan, M. P. Superficial Fungal Infection : Dermathopytosis, Onycomycosis, Tinea nigra, Piedra . In:
Fitzpatrick Dermatology in General Medicine. McGraw-Hill: USA. 2008. p 1807-1822.
Faktor resiko
berjabat tangan, tidur
Kontak langsung bersama, dan hubungan
seksual.

benda yang
Kontak tidak terkontaminasi,”pakaian,
langsung handuk, seprei, bantal dan lain-
lain

Referensi : Janik, M. P., &Heffernan, M. P. Superficial Fungal Infection : Dermathopytosis, Onycomycosis, Tinea nigra, Piedra . In:
Fitzpatrick Dermatology in General Medicine. McGraw-Hill: USA. 2008. p 1807-1822.
Gambaran Klinis
• Anamnesis:
• Gatal dan ruam pada lipat paha
• Pemakaian bersamaan barang pribadi
• Sering memakai pakaian ketat
• Efloresensi :
• Papulo vesikel eritematosus multipel aktif polisiklis (tepi lesi
aktif)
• Central healing hiperpigmentasi dengan nodula eritem
• Tepian berskuama tajam
• Bisa terjadi likenifikasi akibat garukan
• Infeksi sekunder = lesi eksudatif dan lembab
Diagnosis
Anamnesis Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Penunjang

Mikroskopic : Swab KOH 10 %


Kultur pada agar saboraud

Referensi : Janik, M. P., &Heffernan, M. P. Superficial Fungal Infection : Dermathopytosis, Onycomycosis, Tinea nigra, Piedra . In:
Fitzpatrick Dermatology in General Medicine. McGraw-Hill: USA. 2008. p 1807-1822.
Penatalaksanaan

Sistemik

1. Griseofulvin 500-1.000 mg selama 2-3 minggu


2. ketokonazole100 mg/hari selama 1 bulan.
3. Itrakonazole . Dosis dewasa 200mg selama 1minggu, anak-anak 5
mg 1 minggu.
4. Terbinafine . Dosis dewasa 250 mg , 1-2 minggu

Referensi : Janik, M. P., &Heffernan, M. P. Superficial Fungal Infection : Dermathopytosis, Onycomycosis, Tinea nigra, Piedra . In:
Fitzpatrick Dermatology in General Medicine. McGraw-Hill: USA. 2008. p 1807-1822.
Topikal

1. Cloritmazole 1%, solution, lotion. Diberikan 2 kali sehari selama 4 minggu.


2. Mikonazole 2%, solution, lotion, bedak. Diberikan 2 kali sehari selama 4 minggu.
3. Econazole 2-4 minggu dengan cara dioleskansebanyak 2kali atau 4 kali dalam
sediaan cream 1%
4. Naftifine 1% cream dan lotion. dioleskan 4 kali sehari selama 2-4minggu

Referensi : Janik, M. P., &Heffernan, M. P. Superficial Fungal Infection : Dermathopytosis, Onycomycosis, Tinea nigra, Piedra . In:
Fitzpatrick Dermatology in General Medicine. McGraw-Hill: USA. 2008. p 1807-1822.
Efek samping

Efek samping griseofulvin jarang di jumpai, yang merupakan keluhan


utama ialah sefalgia yang di dapati pada 15% penderita. Efek samping
yang lain dapat berupa gangguan traktus digestifus ialah nausea,
vomitus, dan diare. Obat tersebut juga bersifat fotosensitif dan dapat
menggangu fungsi hepar.

Referensi : Janik, M. P., &Heffernan, M. P. Superficial Fungal Infection : Dermathopytosis, Onycomycosis, Tinea nigra, Piedra . In:
Fitzpatrick Dermatology in General Medicine. McGraw-Hill: USA. 2008. p 1807-1822.
Pencegahan

Menjaga higiene
Menjaga agar daerah selangkangan atau
Tidak memakai pakaian secara
lipat paha tetap kering dan tidak lembab
bergantian
adalah salah satu faktor yang mencegah
Menghindari faktor pencetus/ faktor
terjadinya infeksi pada tinea kruris.
resiko
Referensi : Janik, M. P., &Heffernan, M. P. Superficial Fungal Infection : Dermathopytosis, Onycomycosis, Tinea nigra, Piedra . In:
Fitzpatrick Dermatology in General Medicine. McGraw-Hill: USA. 2008. p 1807-1822.
• Komplikasi

Tinea cruris dapat terinfeksi sekunder oleh candida atau bakteri yang
lain.Pada infeksi jamur yang kronis dapat terjadi likenifikasi dan
hiperpigmentasi kulit.

• Prognosis

Prognosis penyakit ini baik dengan diagnosis dan terapi yang


tepat asalkan kelembapan dan kebersihan kulit selalu dijaga

Referensi : Janik, M. P., &Heffernan, M. P. Superficial Fungal Infection : Dermathopytosis, Onycomycosis, Tinea nigra, Piedra . In:
Fitzpatrick Dermatology in General Medicine. McGraw-Hill: USA. 2008. p 1807-1822.
7. Perspektif islam !
• QS. Al-Anbiya’: 83
َّ َ‫ُّر َوأ َ ْنتََ أ َ ْر َحم‬
ََ‫الراحِّ مِّ ين‬ َُّ ‫ِّي الض‬ َّ ‫أَنِّي َم‬
ََ ‫سن‬

Artinya :
“(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”.

• QS. Al-Muddassi : 4

َ َ‫َوثِّيَابَكَ َف‬
َ‫ط ِّه ْر‬

Artinya :
“dan pakaianmu bersihkanlah”.
• H.R. at –Tirmizi: 2723
Artinya :
“Sesungguhnya Allah swt. Itu baik, Dia menyukai kebaikan. Allah itu bersih, Dia menyukai kebersihan. Allah itu mulia, Dia menyukai kemuliaan. Allah itu dermawan ia menyukai kedermawanan maka
bersihkanlah olehmu tempat-tempatmu”.
• H.R. Baihaqi
Artinya:
“Islam itu adalah bersih, maka jadilah kalian orang yang bersih. Sesungguhnya tidak masuk surga kecuali orang-orang yang bersih”.