Vous êtes sur la page 1sur 26

Obat Anti Jamur

Clarissa Agdelina
Karina Ayu Indira Putri
Stella Irene Bontong
Lisa Adelia
Paskalis Alfred Linggi
Infeksi Jamur dari segi terapeutik

Infeksi Sistemik Infeksi Dermatofit Infeksi Mukokutan

Internal Subkutan Trichophyton Kandida


Epidermophyton
Microsporum
Aspergilosis
Blastomikosis Kromomikosis
Koksidiodomikosis Misetoma
Kriptokokosis Sporotrikosis
Histoplasmosis
Mukormikosis
Parakoksidiodo-
mikosis
Kandidiasis
Amfoterisin B
• Amfoterisin A dan B  antibiotik antijamur
yang dihasilkan oleh Streptomyces nodosus.
• Mekanisme kerja
– Bersifat selektif dalam efek fungisidalnya,
memanfaatkan perbedaan dalam komposisi lemak
membran sel jamur dan sel mamalia.
– Amfoterisin B  mengikat ergosterol dan
mengubah permeabilitas sel dengan membentuk
pori-pori terkait-amfoterisin B di membran sel.
Efek Samping
• Kulit panas • Lesu
• Keringatan • Anoreksia
• Sakit kepala • Nyeri otot
• Demam • Flebitis
• Menggigil • Kejang
• Penurunan fungsi ginjal
Indikasi
• Kandidemia lokalisata dan sistemik.
• Histoplasma
• Kriptokokus
• Blastomyces
• Coccidioides
• Aspergillus
Sediaan
• Parenteral
– Formulasi konvesional (amfoterisin b, fungizone)
bubuk 50 mg untuk injeksi
– Formulasi lemak
• Abelcet : suspensi 100 mg/20 ml untuk injeksi
• AmBisome : bubuk 50 mg untuk injeksi
• Topikal
– Krim, lotio, salep 3%
Flusitosin
• Flusitosin merupakan suatu analog pirimidin
larut air yang berkaitan dengan obat
kematoterapeutik 5-fluorourasil.
• Spektrum kerjanya jauh lebih sempit
dibandingkan dengan amfoterisin b.
Mekanisme Kerja

Flusitosin masuk ke dalam sel jamur dengan


bantuan sitosin deaminase

Di dalam sel obat ini diubah mula-mula


menjadi 5-FU lalu menjadi 5-flurodeoksiuridin
monofosfat dan fluorouridin trifosfat

Masing-masing menghambat pembentukan


DNA dan RNA
Sediaan
• Ancobon
– Oral :
• kapsul 250, 500 mg
Indikasi
• Kriptokokus
• Infeksi kromoblastomikosis
Azol
• Azol  senyawa sintetik, dapat diklasifikasikan
sebagai imidazol atau triazol sesuai dengan
jumlah atom nitrogen di cincin azol.
• Antijamur golongan imidazol dan triazol
mempunyai spektrum luas
• Kelompok imidazol :
– Ketokonazol
– Mikonazol
– Klotrimazol
• Kelompok triazol meliputi :
– Itrakonazol
– Flukonazol
– vorikonazol
• Mekanisme kerja Azol

Aktivitas antijamur obat azol terjadi karena redusi sintesis ergosterol


oleh inhibisi enzim-enzim sitrokrom P450 jamur.

Toksisitas selektif obat azol disebabkan oleh afinitas mereka yang lebih
besar terhadap enzim sitokrom P450 jamur daripada manusia.
Ketokonazol
Ketokonazol aktif sebagai antijamur baik
sistemik maupun nonsistemik efektif terhadap
Candida, Coccidiodes immitis, Cryptococcus
neoformans, H. Capsulatum, B. Dermatitidis,
Aspergillus dan Sporothrix spp
Itrakonazol
• Tersedia dalam bentuk oral dan intravena serta
digunakan dalam dosis 100-400 mg/hari.
Penyerapan obat ditingkatkan oleh makanan dan
oleh ph lambung yang rendah.

• Obat ini berinteraksi dengan enzim-enzim


mikrosom hati, meskipun dengan tingkat yang
lebih rendah dibandingkan dengan ketokonazol.
Suatu interasi obat penting adalah berkurangnya
ketersdiaan-hayati intrakonazol jika digunakan
bersama dengan rifampisin.
Sediaan
• Itrakonazol (Sporanox)
– Oral: kapsul 100 mg; larutan 10 mg/ml
– Parenteral: 10 mg/ml untuk infus IV
Indikasi
• Spektrum luas
– Candida
– C. neoformans
– Mikosis endemik
– dermatofita
Ekinokandin
• Ekinokandin adalah golongan terbaru obat
antijamur yang akan dikembangkan.
• Ekinokandin merupakan peptida siklik besar
yang dikaitkan ke sebuah asam emak rantai
panjang.
• Mekanisme kerja:
– Bekerja di tingkat dinding sel jamur dengan
menghambat pembentukan beta (1-3) glukan.
Kasponfungin
• Diberikan sebagai dosis awal tunggal 70 mg,
diikuti oleh dosis harian 50 mg. kasponfungin
larut air dan sangat terikat ke protein.
• Waktu paruh adalah 9-11 jam, dan
metabolitnya diekskresikan oleh ginjal dan
saluran cerna.
Indikasi
• Fungisidal untuk Candida sp
• Aspergilosis
Obat Antijamur Sistemik Oral
Untuk Infeksi Mukokutis
Terbinafin
• Terbinafin adalah suatu derivat alilamin sintetik
yang tersedia dalam bentuk oral dan digunakan
pada dosis 250 mg/hari.

• Obat ini digunakan untuk terapi dermatofitosis,


khususnya onikomikosis.Obat ini bersifat
keratofilik dan fungisidal.

• Mekanisme kerja
– Mempengaruhi biosintesis ergosterol dinding sel
jamur melalui penghambatan enzim skualen
epoksidase pada jamur, sehingga menyebabkan
akumulasi skualen sterol yang toksik bagi organisme.
Sediaan
• Lamisil
– Oral : tablet 250 mg
– Topikal : krim, gel 1%

• Infeksi jamur mukokutis


Terapi Antijamur Topikal
Nistatin
• Suatu makrolid polien yang sangat mirip
dengan amfoterisin b.
• Tersedia lama sediaan krim, salep, supositoria,
dan bentuk lain untuk aplikasi ke kulit dan
membran mukosa.
• Obat ini tidak diserap secara signifikan dari
kulit, membran mukosa atau saluran cerna.
Daftar Pustaka
• Buku Farmakologi dan Terapi Edisi 5
Departemen Farmakologi dan Terapeutik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
2007
• Katzung, Bertram. Buku Farmakologi Dasar
dan Klinik Edisi 10. 2007
• Buku Informasi Spesialite Obat Indonesia
Volume 50-Tahun 2016