Vous êtes sur la page 1sur 14

ABORTUS

Neni Afrida
Risca Ilyas M
Shandika D A Faradilla
Wika Putri
Yanuerika W P
Zulina Zulaika
DEFINISI

Abortus adalah ancaman/pengeluaran hasil konsepsi sebelum


janin dapat hidup diluar kandungan. Sebagai batasan ialah
kehamilan kurang dari 40 minggu atau berat janin kurang dari
500gr. (Prawirohardjo, 2010)
ETIOLOGI
Menurut Musliha, 2010 :
1. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi

2. Kelainan pada plasenta

3. Faktor maternal

4. Faktor-faktor hormonal

5. Faktor psikosomatik

6. Penyebab dari segi maternal

7. Penyebab dari segi janin


KLASIFIKASI ABORTUS
1. Abortus Spontan
Dibagi menjadi 5 sub kelompok :
a) Threatened Misscarriage (Abortus Iminens)
b) Inevitable Misscarriage (Abortus tidak terhindarkan)
c) Incomplete Misscarriage (Abortus tidak lengkap)
d) Missed Abortion
e) Recurrent Misscarriage

2. Abortus Provokatus
Dibagi menjadi 2, yaitu :
a) Abortus Medisinalis
b) Abortus Kriminalis
MANIFESTASI KLINIS
1. Terlambat haid dan aminorhe kurang dari 20 minggu
2. Pada pemeriksaan fisik : tampak lemah, kesadaran menurun,tekanan
darah normal/menurun, denyut nandi cepat, suhu meningkat.
3. perdarahan pervagina disertai pengeluaran jaringan hasil konsepsi
4. Mulas atau kram perut, sering nyeri pinggang
5. Pada pemeriksaan ginekologi :
 Perdarahan pervagina disertai / tidak jaringan hasil konsepsi. tercium bau
busuk dari vulva.
 Perdarahan dari cavum uteri, osteum uteri terbuka/sudah tertutup
 Hasil pemeriksaan kehamilan masih positif
KOMPLIKASI
Komplikasi yang ditimbulkan menurut Budiyanto dkk, 2017
1. Perdarahan akibat luka pada jalan lahir
2. Syok akibat reflek vasovagal atau nerogenik
3. Emboli
4. Inhibisi vagus
5. Keracunan obat/ zat abortivum
6. Infeksi dan sepsis
PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Tes kehamilan
2. Pemeriksaan doopler atau USG
3. Pemeriksaan fibrinogen pada missed abortion
PENATALAKSANAAN
Menurut Varney (2001) :
1. Trimester ptama dengan perdarahan, tanpa disertai kram :
a) tirah baring
b) istirahat panggul
c) tidak melakukan aktifitas seksual yang menimbulkan orgasme
2. Pemeriksaan pada hari-hari berikutnya di RS
a) evaluasi vital sign
b) pemeriksaan selanjutnya dengan spekulum
c) pemeriksaan bimanual
3. Jika pemeriksaan negatif dapat dilakukan pemeriksaan
USG
4. Jika pemeriksaan USG dan fisik negatif, tenangkan ibu dan
kaji ulang gejala bahaya serta pertahankan nilai normal
5. Konsultasikan kedokter jika ada perdarahan hebat.
ASUHAN KEPERAWATAN ABORTUS
Pengkajian Pemeriksaan Fisik
a. Biodata a. Inspeksi
b. Palpasi
b. Keluhan Utama c. Perkusi
c. Riwayat Kesehatan d. Auskultasi
1) Riwayat kesehatan sekarang
2) Riwayat kesehatan dahulu
d. Riwayat Pembedahan
e. Riwayat Penyakit Dahulu
f. Riwayat Kesehatan Keluarga
g. Riwayat Kesehatan Reproduksi
h. Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas
i. Riwayat Seksual
j. Riwayat Pemakaian Obat
k. Pola Aktivitas Sehari-hari
Diagnosa

1. Devisit volume cairan b.d perdarahan pervagina


2. Gangguan rasa nyaman : Nyeri b.d kontraksi uterus
3. Cemas b.d kurang pengetahuan tentang abortus
4. Berduka b.d kehilangan
5. Resiko tinggi syok hipovolemik b.d perdarahan pervagina
Intervensi
1. Devisit volume cairan b.d perdarahan pervagina
Kaji kondisi status hemodinamika
ukur pengeluaran harian
berikan sejumlah cairan pengganti harian
evaluasi status hemodinamika
2. Gangguan rasa nyaman : Nyeri b.d kontraksi uterus
Kaji kondisi nyeri yang dialami klien
Terangkan nyeri yang derita klien dan penyebabnya
kolaborasi pemberian analgetik
3. Cemas b.d kurang pengetahuan tentang abortus
 Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit
 Kaji derajat kecemasan yang diderita klien
 Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan
 Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama
4. Berduka b.d kehilangan
 Kembangkan hubungan saling percaya dengan pasien
 Perlihatkan sikap menerima dan memperbolehkan klien untuk mengekspresikan
perasaannya secara terbuka
 bantu klien mengerti bahwa perasaan kehilangan tersebut wajar pada saat proses
berduka
 batu klien menentukan metode koping yang adaptif
 dorong pasien untuk menjangkau dukungan spiritual
5. Resiko tinggi syok hipovolemik b.d perdarahan pervagina
Monitor keadaan umum klien
Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih
jelaskan pada klien dan keluarga tanda perdarahan, dan segera
laporkan jika terjadi perdarahan
kolaborasi : pemberian cairan intravena
kaji tanda-tanda dehidrasi