Vous êtes sur la page 1sur 14

TERMODINAMIKA II

( SIKLUS DIESEL )
NA M A K ELOM POK :

AY U SR I WA H YUNI 1 2 2 0 170 27
A H M A D FI K R I 1 2 2 0 170 14
DEDEN AGIL SANJAYA 1 2 2 0 17022

K EL A S : IVA

DOSEN P EM BI M BING : I R . DEW I FERNIA NTI M . T

FA K U LTA S T E K N I K
PRODI KIMIA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
APA ITU SIKLUS DIESEL ?

Siklus diesel yang merupakan siklus dari mesin penyalaan kompresi (compression-ignition)
ditemukan oleh Rudolph Diesel pada tahun 1890. Perbedaan mesin diesel dengan mesin otto
terletak pada permulaan pembakarannya.
Siklus diesel merupakan siklus bolak-balik (reciprocating), namun pada siklus ini terdapat
pengapian kompresi yang berbeda dengan siklus otto (menggunakan spark plug). Pada siklus diesel
ini spark plug dan karburator digantikan oleh injektor bahan bakar.
SIKLUS DIESEL
Mesin diesel menggunakan siklus diesel sebagai prinsip kerjanya, dimana udara murni
diisap dan dikompresi diatas temperatur pembakaran bahan bakar. Berbeda pada siklus otto, siklus
diesel terdapat rasio pancung (cutoff ratio) yang terjadi pada proses pembakaran seperti yang
terlihat pada diagram diatas proses 2-3. Untuk proses pada siklus diesel 4 langkah dapat dilihat
pada gambar:
Perbedaan Utama Mesin Diesel Dan Mesin Bensin
Diagram Siklus Diesel Ideal Atau Sempurna

 Mula-mula udara ditekan secara adiabatik


(a-b)
 lalu dipanaskan pada tekanan konstan -
penyuntik atau injector menyemprotkan
solar dan terjadilah pembakaran (b-c),
 gas yang terbakar mengalami pemuaian
adiabatik (c-d),
 pendinginan pada volume konstan - gas
yang terbakar dibuang ke pipa pembuangan
dan udara yang baru, masuk ke silinder
(d-a).
MOTOR DIESEL JUGA MEMPUNYAI KEUNTUNGAN
DIBANDING MOTOR BENSIN

 Pemakaian bahan bakar lebih hemat, karena efisiensi panas lebih baik, biaya operasi lebih hemat
karena solar lebih murah.

 Daya tahan lebih lama dan gangguan lebih sedikit, karena tidak menggunakan sistem pengapian.

 Jenis bahan bakar yang digunakan lebih banyak

 Operasi lebih mudah dan cocok untuk kendaraan besar, karena variasi momen yang terjadi
pada perubahan tingkat kecepatan lebih kecil.
DIAGRAM PERBANDINGAN T-S DAN P-V
Proses 1-2 terjadi kompresi isentropic gas ideal dengan panas spesifik konstan:
𝑉1 𝑘−1 𝑉1 𝑘
𝑇2 = 𝑇1 ( ) 𝑃2 = 𝑃1 ( )
𝑉2 𝑉2

Proses 2-3 terjadi kompresi isentropic gas ideal (tekanan konstan):

𝑃3 = 𝑃2

𝑃2 𝑉2 𝑃3 𝑉3
=
𝑇2 𝑇3

𝑉3
𝑃3 = 𝑃2 ( )
𝑉2
Proses 3 – 4 terjadi ekspansi isentropic gas ideal dengan panas spesifik konstan,sehingga dapat diperoleh
temperatur dan tekanan akhir proses (T4 dan P4 ) ∶
𝑉3 𝑘−1 𝑉3 𝑘
𝑇4 = 𝑇3 ( ) 𝑃4 = 𝑃3 ( )
𝑉4 𝑉4
𝑃1 𝑉1
𝑚=
𝑅𝑇1

𝑄𝑖𝑛 = 𝑚 ℎ3 − ℎ2
= 𝑚𝑐𝑝 𝑇3 − 𝑇2

𝑄𝑜𝑢𝑡 = 𝑚 𝑢4 − 𝑢1
= 𝑚𝑐𝑣 𝑇4 − 𝑇1

𝑊𝑛𝑒𝑡 = 𝑄𝑖𝑛 − 𝑄𝑜𝑢𝑡

𝑊𝑛𝑒𝑡
𝜂𝑡ℎ =
𝑄𝑖𝑛

𝑊𝑛𝑒𝑡
𝑀𝐸𝑃 =
𝑉𝑚𝑎𝑥 − 𝑉𝑚𝑖𝑛
CONTOH KASUS:
Sebuah siklus diesel ideal dengan udara sebagai fluida kerja memiliki rasio kompresi 18 dan
rasio pancung 2. Pada awal proses kompresi, fluida bekerja pada tekanan 14.7 psia, 80oF, dan 117 in3.
Dengan asumsi udara standar tentukan:
 Temperatur dan tekanan udara pada akhir proses
 Kerja bersih dan efisiensi termal siklus
 Tekanan efektif rata-rata (MEP)
Jika R= 0.3704 psia.f3/lbm.R dan terjadi pada temperature kamar dengan cp= 0.240 btu/lbm, cv= 0.171
btu/lbm, dan k= 1.4

SOLUSI :
SOLUSI:

Dari diagram diatas dapat kita peroleh:


Pada proses 2-3 terjadi penambahan panas ideal (tekanan konstan) sehingga:

Pada proses 1-2 terjadi kompresi isentropic gas ideal dengan panas spesifik konstan, sehingga:

Pada proses 3-4 terjadi ekspansi isentropic gas ideal dengan panas spesifik konstan, sehingga dapat
diperoleh temperatur dan tekanan akhir proses (T4 dan P4):
Pada proses 4-1 terjadi pembuangan panas ke lingkungan dengan volume konstan, sehingga:
THANK YOU