Vous êtes sur la page 1sur 78

IMPLIKATUR DALAM FILM “LA VIE EN ROSE”

(Analisis Pragmatik)

Oleh:
ANDI.KARTINAWATI
F311 04 007

JURUSAN SASTRA PRANCIS


FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2011

SKRIPSI
IMPLIKATUR DALAM FILM “LA VIE EN ROSE”

(ANALISIS PRAGMATIK)

Disusun dan diajukan oleh

ANDI. KARTINAWATI
F311 04 007

Telah dipertahankan di depan Panitia Ujian Skripsi

Pada tanggal 29 Juli 2011


dan dinyatakan telah memenuhi syarat

Menyetujui

Komisi Pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II

Fierenziana.G.J.,S.S., M.Hum Andi Faisal.,S.S.,M.Hum


NIP. 19710402 199702 2 001 NIP. 19730327 199903 1 002

Dekan Fakultas Ilmu Budaya Ketua Jurusan

Universitas Hasanuddin, Sastra Barat Roman,

Prof.Drs.Burhanuddin Arafah, M.Hum.,Ph.D. Drs. Hasbullah, M.Hum.


NIP. 19650303 199002 1 001 NIP.19670805 199303 1 003
UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS SASTRA

Pada hari Jumat, 29 Juli 2011 Panitia Ujian Skripsi menerima dengan baik skripsi yang berjudul

: IMPLIKATUR DALAM FILM “LA VIE EN ROSE” (ANALISIS PRAGMATIK), yang

diajukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat ujian akhir guna memperoleh gelar Sarjana

Sastra pada Jurusan Sastra Barat Roman (Prancis) Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin.

Makassar, 29 Juli 2011

Panitia Ujian Skripsi :

1. Fierenziana.G.J.,S.S., M.Hum Ketua 1. ……………………

2. Andi Faisal.,S.S.,M.Hum. Sekretaris 2. …………………..

3. Dra. Prasuri Kuswarini, M.A. Penguji I 3. …………………..

4. Masdianah.,S.S., M.Hum Penguji II 4. ……………………

5. Fierenziana.G.J.,S.S., M.Hum Pembimbing I 5. ……………………

6. Andi Faisal.,S.S.,M.Hum. Pembimbing II 6. ……………………


RÉSUMÉ DU MÉMOIRE

Le titre de ce mémoire est “L‟implicateur dans Le Film La Vie en Rose”. Le but de cette

récherche est pour savoir le type d‟implicateur trouvé dans le film. En plus, pour determiner la

forme de cette implicateur et la raison de leur utilisation de 13 dialogues cités.

Pour la collecte des données, on utilise la méthode de bibliographie. Tandis que pour

l‟analyse, on utilise la méthode descriptive qualitative en appliquant une approche pragmatique.

Les résultats de la récherche montre qu‟il y a 3 genres des imp licateurs. Ce sont

implicateur conventionnel, implicateur inconventinnel, et implicateur presuposition. Pour la

forme d‟implicateurs on a trouvé la phrase déclarative, la phrase interrogative, la phrase

imperative et la phrase exclamative. Tandis que la ra ison d‟utilisation de cette implicateur c‟est

pour reveler quelques sentiments comme : la colére, le déseption, l‟étonnement, la surprise, la

fierté, et le méfiant. A la fin ils experiment aussi quelques intentions, c‟est-a-dire : demander,

commander, refuser, opposer, se moquer, et menacer.


KATA PENGANTAR

Assalaamu‟alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Pertama-tama, penulis ingin memanjatkan rasa syukur yang tiada terhingga kepada Allah

S.W.T, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Implikatur

Dalam Film La Vie en Rose (Analisis Pragmatik).

Tidak lupa pula, penulis ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada orang-

orang yang telah banyak membantu, mendukung, dan mendoakan penulis dengan tulus selama

ini. Untuk itu, penulis ingin berterima kasih kepada :

1. Ibu Fie renziana Getruida Junus, S.S., M.Hum selaku Konsultan I dan Bapak Andi

Faisal, S.S., M.Hum selaku Konsultan II. Terima kasih atas waktu dan kesabarannya

dalam membimbing serta mengarahkan penulis selama proses penyelesaian skripsi ini.

2. Ibu Dra Prasuri Kus warini, MA selaku penasehat akademik penulis.

3. Ibu Dra.Irianty Bandu dan Bapak Drs. Hasbullah, M.Hum, terima kasih atas saran-

saran dan kritiknya kepada penulis, terima kasih atas bantuan dan dukungannya

4. Kepada para dosen Jurusan Barat Roman, Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin

terimakasih atas ilmu yang di berikan. Kepada Ibu Ester, terimakasih atas bantuannya.

5. Kedua orang tua penulis, H. Syahrir Bohary A. Tjatjo dan Hj, Murni A.Tippe, SKM

terima kasih atas segala doa, bantuan dan dukungannya setiap saat.

6. Saudara-saudara penulis, Andi Afif Fadhillah, Amd.Par., ST dan Lena, Amd.Par ;

Andi Ichram Gunansyah, S.Psi dan Maemunah Saleh, S.Psi ; Andi Marini, S.Psi ;

keponakanku tercinta Nada Syifa dan Rafa Abie za.


7. Kepada sahabat dan teman-teman yang telah membantu dalam penulisan ini, saya

ucapkan banyak terimakasih.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga penulis

sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaannya. Semoga skripsi ini

dapat bermanfaat, khususnya kepada para mahasiswa Fakultas Sastra Jurusan Barat Roman

Universitas Hasanuddin.

Makassar, Juli 2011

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Pengesahan …………………………………………………………..... i

Résumé du Mémoire …………………………………………………….............. ii

Kata pengantar ………………………………………………………………....... iii

Daftar Isi ………………………....................................................…………….... v

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang .................................................................................. 1

1.2. Identifikasi Masalah .......................................................................... 8

1.3. Batasan Masalah ................................................................................ 8

1.4. Rumusan Masalah ............................................................................. 8

1.5. Tujuan Penelitian ................................................................................ 9

1.6. Metode Penelitian ............................................................................... 9

1.6.1. Sumber Data ................................................................................. 9

1.6.2. Metode Pengumpulan Data .......................................................... 10

. 1.6.2. Teknik Pengumpulan Data .......................................................... 10

1.7. Metode Analisis Data ......................................................................... 11


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Semantik dan Pragmatik..................................................................... 12

2.2. Pragmatik ........................................................................................... 13

2.3. Implikatur ........................................................................................... 15

2.4. Wujud Implikatur ............................................................................... 21

BAB III PEMBAHASAN

3.1. Jenis Implikatur .................................................................................. 23

3.2. Wujud Implikatur ................................................................................ 54

3.3. Alasan Penggunaan Implikatur .......................................................... 59

BAB IV PENUTUP

Kesimpulan …............................................................................................ 69

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Berkomunikasi adalah aktivitas sosial. Seperti halnya aktivitas-aktivitas sosial yang lain,

kegiatan berkomunikasi terwujud apabila manusia terlibat di dalamnya. Dalam berbicara,

pembicara dan lawan bicara sama-sama menyadari bahwa ada kaidah-kaidah yang mengatur

tindakannya, penggunaan bahasanya, dan interpretasi- interpretasinya terhadap tindakan dan

ucapan lawan bicaranya. Setiap peserta tindak ucap bertanggungjawab terhadap tindakan dan

penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan di dalam interaksi lingual itu.

Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan kita. Sebagai alat komunikasi

bahasa digunakan sebagai alat penyampaian pesan dari diri seseorang kepada orang lain, atau

dari penutur kepada mitra tutur, dan dari penulis ke pembaca. Melalui bahasa, manusia

berinteraksi menyampaikan informasi kepada sesamanya. Selain itu, manusia dapat

mengemukakan ide- idenya, baik secara lisan maupun secara tulisan atau simbol-simbol bahasa.

Oleh karena itu bahasa yang digunakan hendaklah dapat mendukung maksud agar apa yang

dipikirkan, diinginkan, atau dirasakan itu dapat diterima oleh pendengar atau pembaca.

Bahasa yang kita pergunakan, baik kita ucapkan melalui mulut ataupun dituangkan dalam

tulisan memiliki bagian-bagian tertentu. Dalam berkomunikasi kita menggunakan berbagai jenis

kalimat untuk menyampaikan isi pikiran atau gagasan seseorang sehingga tersampaikan segala

maksud dan tujuan melalui komunikasi tersebut.


Pada saat masyarakat berhubungan satu sama lain tentunya terjadi komunikasi yang

membutuhkan bahasa sebagai wahana untuk menyampaikan maksud dan tujuan di antara

mereka. Dalam berkomunikasi setiap penutur menggunakan ujaran atau kata-kata tertentu

kepada pendengar. Pemilihan tuturan bergantung kepada beberapa faktor antara lain dalam

situasi apa ia bertutur, kepada siapa tuturan itu ditujukan, masalah apa yang dituturkannya, dan

lain- lain.

Bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi haruslah dipahami secara tepat oleh penutur

dan mitratuturnya sehingga penggunaannya tidak menimbulkan salah pengertian. Dalam suatu

percakapan, penutur menggunakan berbagai ragam tindak tutur. Tuturan penutur dalam

berkomunikasi haruslah dipahami dengan tepat oleh mitratuturnya. Pesan seorang penutur

terhadap mitratuturnya dapat disampaikan dengan baik jika keduanya dapat saling memahami

makna tuturan mereka.

Pengkajian suatu bahasa pada tataran struktural saja sering kali tidak menghasilkan suatu

kajian yang maksimal. Kondisi praktis penggunaan bahasa sering kali keluar dari kaidah-kaidah

struktural, tetapi proses komunikasi yang terjadi tidak menemui suatu kendala dan justru

menghasilkan suatu komunikasi yang lebih efektif dan efisien. Hal itulah yang mendorong suatu

kajian terhadap suatu bahasa tidak hanya dari sudut pandang struktural saja, melainkan harus

dikaitkan dengan aspek-aspek di luar struktur bahasa.

Salah satu kajian bahasa yang mampu mengakomodasi aspek-aspek di luar bahasa dalam

pengkajiannya adalah pragmatik maupun analisis wacana. Dalam dua bidang ini, pengkajian

suatu bahasa dengan melibatkan aspek-aspek di luar bahasa yang turut serta memberi makna
dalam suatu komunikasi. Melibatkan aspek-aspek di luar bahasa sangatlah tepat ketika melihat

fenomena penggunaan bahasa pada tataran praktis yang cukup beragam.

Pragmatik merupakan ilmu bahasa yang mempelajari penggunaan bahasa yang

ditentukan oleh konteks yang melatarbelakangi bahasa itu, pragmatik menelaah hubungan tanda

dengan penafsirannya atau orang yang menggunakan bahasa untuk berkomunikasi.

Dalam pragmatik terdapat kajian tentang teori Implikatur percakapan, yaitu pecakapan

yang tersirat atau terkandung secara halus maknanya meskipun didalamnya tidak dinyatakan

secara jelas atau terang-terangan. Implikatur sangat sering terjadi dalam percakapan sehari-hari.

Implikatur dipakai untuk menerangkan makna implikasi yang terdapat di balik apa yang

diucapkan atau dituliskan sebagai suatu yang diimplikasikan. Dalam sebuah percakapan,

pemahaman tentang implikatur mutlak diperlukan untuk dapat memahami makna tersirat dalam

suatu ujaran.

Percakapan pada hakikatnya adalah peristiwa berbahasa lisan antara dua orang partisipan

atau lebih yang pada umumnya terjadi dalam berbagai suasana. Percakapan merupakan wadah

yang memungkinkan terwujudnya prinsip-prinsip kerjasama dan sopan santun dalam peristiwa

berbahasa. Untuk itu perlu memahami implikatur percakapan, agar apa yang diucapkan dapat

dipahami oleh lawan tutur.

Dalam suatu percakapan, setiap bentuk tuturan pada dasarnya mengimplikasikan sesuatu.

Implikasi tersebut adalah maksud yang biasanya tersembunyi di balik tuturan yang diucapkan,

dan bukan merupakan bagian langsung dari tuturan tersebut (Wijana, 1996:37). Pada gejala

demikian apa yang dituturkan berbeda dengan apa yang diimplikasikan. Sehubungan dengan hal

tersebut, Wright (1975:379) menyatakan “What is meant is not what is said”.


Adanya perbedaan antara tuturan dengan implikasinya, kadang-kadang dapat

menyulitkan penutur untuk memahaminya. Namun pada umumnya, antara penutur dengan mitra

tutur sudah saling berbagi pengalaman dan pengetahuan, sehingga percakapan tergambar berikut

ini : “Wah, panas sekali ya ruangan ini”. Ucapan itu tidak semata- mata memberitahu keadaan

temperatur (suhu udara), namun mengandung implikasi impera tif agar orang yang diajak bicara

melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah temperatur atau ruangan yang panas tersebut.

Misalnya dengan membuka jendela bagi ruangan yang tak ber-AC atau mengecilkan suhu pada

mesin pengatur udara atau AC. Makna yang berbeda itulah yang selanjutnya digunakan sebagai

dasar adanya gejala implikatur percakapan. Adapun contoh lain penggunaan implikatur

misalnya:

A : Besok saya akan mengadakan syukuran kelulusan anak saya.


B : Besok saya banyak kerjaan di kantor.

Percakapan di atas mempunyai maksud bahwa A memberikan informasi bahwa ia akan

mengadakan acara syukuran anaknya yang lulus dan B juga menginformasikan bahwa pada saat

A mengadakan acara, B memiliki kesibukan lain secara bersamaan. Namun, ternyata ada makna

yang lebih jauh dari percakapan di atas dan ini dapat dijelaskan melalui implikatur percakapan.

Tuturan A kepada B sebenarnya tidak semata-mata sebagai informasi akan ada acara yang

hendak ia lakukan, tetapi di balik itu terdapat suatu maksud lain, yaitu A bermaksud

mengundang B untuk datang pada acara yang ia laksanakan. Sedangkan B juga memiliki maksud

yaitu menyatakan ketidaksanggupan B untuk menghadiri acara A. Hal ini dapat dikatakan

sebagai ungkapan penolakan kepada B terhadap undangan A dengan cara yang lebih halus dan

tidak menyinggung perasaan A karena adanya alasan mengapa B tidak dapat memenuhi

undangan A tersebut.
Dalam suatu komunikasi, di dalamnya dapat dipastikan akan terjadi suatu percakapan.

Percakapan yang terjadi antar pelibat sering kali mengandung maksud- maksud tertentu yang

berbeda dengan struktur bahasa yang digunakan. Dalam kondisi tersebut suatu penggunaan

bahasa sering kali mempunyai maksud- maksud yang tersembunyi di balik penggunaan bahasa

secara struktural. Pada kondisi seperti itulah suatu kajian implikatur percakapan mempunyai

peran yang tepat untuk mengkaji suatu penggunaan bahasa.

Implikatur percakapan didasari oleh teori implikatur Grice (Cummings, 2007:150). Istilah

implikatur menurut Grice digunakan untuk menunjukkan atau menjelaskan apa yang

diimplikasikan, disarankan atau dimaksudkan oleh seorang pembicara berbeda dengan apa yang

dikatakan. Selain itu, implikasi pragmatik menurut Kridalaksana (1984) adalah kesimpulan dari

suatu tuturan atau ujaran yang berlatarbelakang apa yang diketa hui secara bersama-sama oleh

pembicara dan pendengar atau pembaca dalam konteks tertentu.

Berkaitan dengan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk menganalisis penggunaan

implikatur yang digunakan dalam film. Hal ini memang cukup menarik untuk dibahas.

Implikatur digunakan karena ingin menyampaikan maksud pada mitra tuturnya, tetapi apakah

maksud sesungguhnya yang terkandung itu dapat dipahami oleh lawan tuturnya?hal ini

bergantung pada konteks kalimat yang perlu diperhatikan agar makna yang terkandung dapat

mencapai sasaran. Analisis yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan pragmatik,

khususnya teori implikatur.

Dalam kajian ini, penulis lebih cenderung melihat bahasa dalam teks visual, dalam hal

ini film dan hubungannya dengan tindak tutur. Film ini memiliki daya tarik tersendiri untuk

dijadikan sebagai objek penelitian, karena film sebagai salah satu bentuk komunikasi massa yang
memiliki kedudukan unik sebagai media pengungkapan kreatifitas dari beberapa cabang seni

sekaligus juga dapat diterima layaknya karya seni.

Sebagai media rekam, film menyajikan gambar figuratif dalam bentuk objek-objek

fotografis yang dekat dengan kehidupan manusia. Setiap film mempunyai pesan yang hendak

disampaikan oleh pembuat film kepada para penontonnya. Selain itu makin lama makin disadari

bahwa film mampu menjadi media yang efektif dalam menyampaikan informasi, baik lewat laku

dramatik yang terwakili oleh gambar- gambar, metafora dan lambang- lambang yang bergerak

dengan ritme tertentu sebagai wujud dari komunikasi verbal. Dalam tata kerjanya, pendekatan ini

tidak lagi membicarakan penggunaan bahasa (sinema).

Dalam film banyak ditemukan dialog-dialog yang melibatkan penutur dan mitra tutur

dimana komunikasi yang terjadi pada dasaranya mempunyai maksud dan tujuan tertentu

terhadap pendengar, yaitu agar pendengar memahami apa yang diungkapkan oleh pembicara

melalui ujaran-ujarannya. Untuk dapat memahami maksud ujaran tersebut, yang dapat diketahui

melalui ujaran, baik yang terungkap secara langsung maupun tidak langsung. Mengerti maksud

dari ujaran itu adalah hal penting dalam berkomunikasi. Tanpa mengerti maksud dari ujaran itu,

komunikasi tidak akan berjalan lancar.

Metz mengatakan (dalam Hadiati, 2007:55) “a film is difficult to explain because it is

easy to understand” (sebuah film sangat sulit untuk dijelaskan karena ia terlalu mudah untuk

dimengerti). Jika pernyataan Metz diterima secara mentah, maka memang tidak ada yang perlu

dipelajari dari film, namun jika kita mengacu pada kalimat „difficult to explain‟ berarti ada

sesuatu yang tersembunyi pada film yang sulit untuk diketahui dengan mencermati dan

mempelajarinya, setidaknya kita akan mengetahui lebih dalam baik itu isi film, percakapan

dalam film bahkan teknik penyajiannya sekalipun.


Film merupakan objek yang sangat tepat untuk dikaji karena dalam suatu film terdapat

tanda-tanda yang membangun komunikasi. Tanda-tanda ini berupa bahasa yang digunakan untuk

menyampaikan pesan film. Banyak ahli perfilman yang setuju bahwa inti dari sebuah film tidak

hanya bisa dipelajari pada tingkatan sintaksis belaka. Lebih dari itu untuk dapat memahami inti

film, sebuah penelitian teks pada tingkatan pragmatik juga sangat mutlak diperlukan.

1.2. Identifikasi Masalah

Dari penjelasan sub bab sebelumnya, dapat diketahui bahwa untuk mengerti suatu ujaran

diperlukan pemahaman di luar makna kata atau hubungan dengan konteks pemakainya. Sehingga

masalah utama dalam analisis adalah kedalaman pengetahuan interaksi dalam percakapan.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis mengidentifikasi masalah- masalah yang

terdapat dalam dialog film La Vie en Rose, sebagai berikut:

1. Terdapat gaya bahasa yang digunakan dalam percakapan.

2. Pengaruh status sosial terhadap penggunaan bahasa sehari- hari.

3. Adanya tindak implikatur dalam percakapan.

1.3. Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah, dapat dilihat beberapa masalah yang dapat diteliti.

Namun, pada tulisan ini penelitian akan difokuskan pada implikatur percakapan yang terjadi

dalam dialog film La Vie en Rose.


1.4. Rumusan Masalah

Untuk menjelaskan tentang masalah-masalah tersebut, dapat dirumuskan dalam bentuk

pertanyaan sebagai berikut :

1. Jenis implikatur apa saja yang terdapat dalam dialog film La Vie en Rose?

2. Bagaimana wujud implikatur yang diungkapkan dalam dialog film La Vie en Rose?

3. Mengapa implikatur tersebut digunakan dalam film La Vie en Rose?

1.5. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk menjelaskan jenis implikatur yang terdapat dalam dialog film La Vie en Rose

2. Untuk menjelaskan wujud implikatur dalam dialog film La Vie en Rose.

3. Untuk menjelaskan alasan penggunaan implikatur dalam film La Vie en Rose.

1.6. Metode Penelitian

1.6.1 Sumber Data

1) Sumber data primer : dialog-dialog percakapan dalam film “La Vie en Rose”

yang berisi tindak implikatur.

2) Sumber data sekunder : Data yang berasal dari buku-buku teori yang berkenaan

dengan tindak implikatur. Serta data-data pendukung yang diambil dari situs-situs

internet.
1.6.2 Metode Pengumpulan Data

Penelitian dilakukan dengan metode pustaka, yaitu menelaah sejumlah

buku-buku yang ada hubungannya dengan masalah yang digarap. Melalui cara ini

penulis memperoleh dasar-dasar teori yang dikemukakan oleh para ahli bahasa.

1.6.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini penulis lakukan berdasarkan

kebutuhan analisa dan pengkajian. Pengumpulan data dilakukan sejak penulis

menentukan permasalahan yang sedang dikaji, teknik pengumpulan data yang dilakukan

adalah:

a. Simak

Metode yang dilakukan adalah dengan menyimak dialog-dialog yang dilakukan

oleh para tokoh dalam film La Vie en Rose

b. Catat

Setelah menyimak dialog-dialog yang ada dalam film, kemudian mencatat secara

keseluruhan kemudian peneliti menandai dialog yang mengandung implikatur

percakapan.

1.7. Metode Analisis Data


Tipe penelitian yang digunakan penulis dalam melihat objek ini adalah dengan

menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan dengan melihat

konteks permasalahan yang ada secara utuh. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

- Menyimak dialog-dialog yang dilakukan para tokoh yang ada dalam film.

- Menganalisis kemudian mengidentifikasi tindak implikatur yang ada pada dialog-dialog

dalam film.

- Menjelaskan maksud yang terdapat dari kalimat yang mengandung implikatur dalam

dialog.

- Menentukan jenis-jenis implikatur yang terdapat dari kalimat tersebut.

- Menentukan wujud implikatur.

- Menjelaskan alasan penggunaan implikatur dalam percakapan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Semantik dan Pragmatik

Semantik dan pragmatik berada dalam kajian yang sama yaitu menelaah makna. Dengan

demikian kita perlu memahami batasan antara semantik dan pragmatik. Dalam pragmatik makna

diberi definisi dalam hubungannya dengan penutur atau pemakai bahasa, sedangkan dala m

semantik, makna didefinisikan semata- mata sebagai ciri-ciri ungkapan-ungkapan dalam suatu

bahasa tertentu, terpisah dari situasi, penutur dan penuturnya. Inilah perbedannya dalam garis

besar. Namun untuk tujuan-tujuan linguistik maka batasan baru pada pragmatik : Pragmatik

adalah studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi ujar. Pandangan bahwa semantik

dan pragmatik berbeda, tetapi saling melengkapi dan saling berhubungan, mudah untuk

dipahami secara subjektif, tapi agak sulit untuk dipahami secara objektif (Leech, 1993:8).

Jangkauan linguistik yang semakin luas menyebabkan berubahnya pandangan mengenai

hakikat bahasa dan batasan mengenai bahasa linguistik. Para strukturalis Amerika yakin sekali

bahwa linguistik merupakan suatu ilmu eksakta dan karena itu berusaha keras agar masalah

makna dibuang dari bidang ini. Tetapi setelah semantik berhasil menduduki tempat yang sentral

dalam bahasa, semakin tampak betapa sulitnya memisahkan makna dari konteksnya, karena

makna itu berbeda dari konteksnya yang satu ke yang lain. Sebagai akibatnya adalah semantik

masuk ke dalam pragmatik.

2.2. Pragmatik

Pragmatik merupakan bagian dari ilmu bahasa (linguistik) yang mempelajari makna

tuturan penutur, makna yang berhubungan dengan konteks, menelaah maksud penutur yang lebih
banyak dari pada apa yang dituturkan oleh penutur (implikatur), memahami manipulasi bahasa

untuk kesopanan (politeness), memahami anggapan-anggapan dalam tuturan dan kalimat dan

mengetahui bagaimana manusia bertindak dengan menggunakan bahasa (speech act). Pragmatik

yaitu “ilmu yang mempelajari makna, menciptakan makna ”. Para pakar pragmatik

mendefinisikan istilah pragmatik secara berbeda-beda. Yule (2006: 3), misalnya, menyebutkan

empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang

mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang melebihi kajian tentang makna yang

diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang

mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam

percakapan tertentu.

Menurut Levinson (1991:9), ilmu pragmatik didefinisikan sebagai berikut :

(1) “Pragmatik adalah kajian dari hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari

penjelasan pengertian bahasa”. Di sini, “pengertian atau pemahaman bahasa” merujuk

kepada fakta bahwa untuk mengerti suatu ungkapan/ujaran bahasa diperlukan juga

pengetahuan di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya, yakni hubungannya

dengan konteks pemakainya.

(2) “Pragmatik adalah kajian tentang kemampuan pemakai bahasa mengaitkan kalimat-

kalimat dengan konteks yang sesuai dengan kalimat-kalimat itu”.

Menururt Leech (1993:8) pragmatik adalah ilmu tentang maksud dalam hubungannya

dengan situasi-situasi tuturan (speech situation). Proses tindak tutur ditentukan oleh konteks

yang menyertai sebuah tuturan tersebut. Dalam hal ini Leech menyebutnya dengan aspek-aspek

situasi tutur, antara lain : pertama, yang menyapa (penyapa) dan yang disapa (pesapa); kedua,

konteks sebuah tuturan; ketiga, tujuan sebuah tuturan; keempat, tuturan sebagai bentuk tindakan
atau kegiatan tindak tutur (speech act); dan kelima, tuturan sebagai hasil tindak verbal (Leech,

1993: 19-20). Sementara Purwo (1993: 16) mendefinisikan pragmatik sebagai telaah mengenai

makna tuturan (utterance) menggunakan makna yang terikat konteks. Sedangkan

memperlakukan bahasa secara pragmatik ialah memperlakukan bahasa dengan

mempertimbangkan konteksnya, yakni penggunaannya pada peristiwa komunikasi. Sedangkan

menurut Morris (dalam Levinson, 1991:1) pragmatik adalah telaah mengenai hubungan diantara

lambang dan penafsirannya.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa pragmatik adalah suatu

telaah umum mengenai bagaimana caranya konteks mempengaruhi peserta tutur dalam

menafsirkan kalimat atau menelaah makna.

Pragmatik sangat dikenal dalam linguistik karena banyak yang sependapat bahwa kita

tidak dapat mengerti benar-benar sifat bahasa itu sendiri bila kita tidak mengerti pragmatik, yaitu

bagaimana bahasa digunakan dalam komunikasi. Tercakupnya pragmatik merupakan tahap akhir

dalam gelombang- gelombang ekspansi linguistik, dari sebuah disiplin sempit yang mengurusi

data fisik bahasa, menjadi suatu disiplin yang luas yang meliputi bentuk,makna dan konteks.

Pragmatik erat sekali hubungannya dengan tindak tutur atau speech act. Pragmatik

menelaah ucapan-ucapan khusus dalam situasi-situasi khusus dan terutama memusatkan

perhatian pada aneka ragam cara yang merupakan wadah a neka konteks sosial performasi bahasa

dapat mempengaruhi tafsiran atau interpretasi.

2.3. Implikatur

Implikatur merupakan salah satu bagian dalam pragmatik. Implikatur percakapan pada

awalnya dikemukakan oleh seorang filsuf bernama H. Paul Grice dalam suatu “Ceramah William

James” di Universitas Harvard pada tahun 1967. Tulisannya yang berjudul “Logic and
Conversation” itu diajukannaya untuk menanggulangi persoalan-persoalan mkana kebahasaan

yang tidak dapat dijelaskan oleh teori linguistik bahasa (Grice, 1975:41). Konsep implikatur

yang pertama kali dikenalkan oleh Grice untuk memecahkan persoalan makna bahasa yang tidak

dapat diselesaikan oleh teori semantik biasa. Jika hanya mengandalkan teori atau pemahaman

semantik saja, makna suatu tuturan atau ujaran tidak bisa dipahami dan dimengerti dengan tepat.

Ketidaktepatan pemahaman makna ujaran sangat berimbas pada tercapainya tujuan komunikasi.

Tujuan komunikasi adalah agar pesan yang ingin disampaikan oleh penutur dapat diterima

dengan benar oleh mitra tuturnya. Jika mitra tutur hanya memahami pesan penutur secara

semantis saja, komunikasi tidak bisa berjalan dengan baik. Untuk dapat memahami dan

menangkap maksud penutur, pemahaman mengenai konsep implikatur sangat diperlukan.

Berikut beberapa pengertian tentang implikatur yang dikemukakan oleh ahli bahasa.

Menurut Brown dan Yule (1996 : 31) istilah implikatur dipakai untuk menerangkan apa yang

mungkin diartikan, disarankan, atau dimaksudkan oleh penutur yang berbeda dengan apa yang

sebenarnya yang dikatakan oleh penutur. Pendapat itu bertumpu pada suatu makna yang berbeda

dengan makna tuturan secara harfiah.

Senada dengan pendapat itu, Grice menunjukkan bahwa sebuah implikatur merupakan

sebuah proposisi yang diimplikasikan melalui ujaran dari sebuah kalimat dalam suatu konteks,

sekalipun proposisi itu sendiri bukan suatu bagian dari hal yang dinyatakan sebelumnya (Gazdar,

1979:38). Implikatur dipakai untuk memperhitungkan apa yang disarankan atau apa yang

dimaksud oleh penutur berbeda dari apa yang dinyatakan. Sesuatu „yang berbeda‟ tersebut

adalah maksud pembicara yang tidak dikemukakan secara ekspilsit. Dengan kata lain, implikatur

adalah maksud, keinginan atau ungkapan-ungkapan hati yang tersembunyi.


Hampir sama dengan pendapat Brown dan Yule, tetapi Grice mencoba mengaitkan suatu

konteks yang melingkupi suatu tuturan yang turut memberi makna. Lebih singkat lagi, Grice

(Suyono, 1990:14) mengatakan implikatur percakapan sebagai salah satu aspek kajian pragmatik

yang perhatian utamanya adalah mempelajari „maksud suatu ucapan‟ sesuai dengan konteksnya.

Implikatur percakapan dipakai untuk menerangkan makna implisit dibalik „apa yang diucapkan

atau dituliskan‟ sebagai „sesuatu yang dimplikasikan‟.

Setiap bentuk tuturan biasanya diasumsikan memiliki atau dilandasi suatu maksud

tertentu. Maksud dari suatu ucapan seperti itulah yang disebut oleh Grice (1975:44) sebagai

implicatum (apa yang diimplikasikan). Dalam penggunaan bahasa sehari-hari, masyarakat bahasa

sering menggunakan implikatur percakapan untuk tujuan-tujuan tertentu, misalnya memperluas

proposisi yang diujarkan. Dalam hubungan timbal balik dalam konteks budaya kita, penggunaan

implikatur terasa lebih sopan, misalnya untuk tindak tutur memerintah, menolak, meminta, dll.

Tindak tutur yang banyak melibatkan reaksi “emosi” mitra tutur pada umumnya lebih diterima

jika disampaikan dengan implikatur. Implikatur ini banyak juga dipakai di kalangan politikus

untuk mengaburkan maksud yang dikatakan. Senada dengan pendapat Grice, Leech (1993 : 269)

juga menyatakan bahwa implikatur digunakan agar pernyataan yang disampaikan itu lebih

santun. Sedangkan Levinson (1991:5) menyatakan bahwa implikatur dapat digunakan untuk

menyederhanakan kalimat-kalimat yang diucapkan oleh penutur.

Dalam suatu percakapan, ujaran- ujaran yang diproduksi baik oleh penutur maupun mitra

tuturnya memiliki maksud yang tidak hanya tersurat tetapi juga tersirat. Maksud tersurat suatu

tuturan atau ujaran dapat dipahami dengan mencari arti semantis kata-kata yang membentuk

ujaran tersebut dan dengan memahami aturan sintaksis dari bahasa yang digunakan dalam

tuturan itu. Sementara itu, makna tersirat suatu ujaran tidak bisa dipahami hanya dengan aturan
sintaksis maupun aturan semantik bahasa yang bersangkutan. Untuk itulah kemudian

diperkenalkan konsep mengenai implikatur.

Implikatur, dengan demikian mengisaratkan adanya perbedaan antara „apa yang

diucapkan‟ dengan „apa yang diimplikasikan‟. Namun perbedaan itu tidak menjadi kendala

dalam percakapan, karena para pembicara sudah saling mengetahuinya. Oleh karena itulah

implikatur tidak perlu diungkapkan secara eksplisit (Wijana, 1996:68). Untuk menjelaskan hal

itu, Nababan (1987:29) membuat contoh menarik berikut ini.

(1) A : Jam berapa sekarang ?


B : Kereta api sudah lewat.

Secara konvensional-struklutral, kedua kalimat dalam percakapan itu nampak tidak saling

berhubungan. Namun sebenarnya terdapat faktor-faktor kebahsaan lain yang ikut dalam kalimat-

kalimat tersebut. Perhatikan kalimat kurung pada (1a) berikut ini.

(1a) A : (dapatkah anda memberitahu pada saya) jam berapa sekarang (sebagaimana dinyatakan

dalam petunjuk jam).

B : (saya tidak tahu secara tepat jam berapa sekarang, tetapi dapat saya beritahukan kepada

anda suatu kejadian dari mana anda dapat menduga kira-kira jam berapa sekarang, yaitu) kereta

api (yang biasa lewat) belum lewat.

Pada percakapan di atas, informasi jawaban yang diperlukan tidak secara langsung dan lengkap

diberikan dalam dialog (1), namun keterangan yang disampaikan dalam (1a) dapat diketahui oleh

yang bertanya itu. Perbedaan antara kalimat (1) dan (1a) cukup besar, dan tidak dapat dijelaskan

oleh teori semantik konvensional. Untuk menanggulangi permasalahan seperti itu diperlukan

suatu sistem lain, dan konsep implikatur percakapan (implikasi pragmatik) dianggap dapat

mengatasinya.
Di dalam penuturan yang sesungguhnya, penutur dan mitra tutur dapat secara lancar

berkomunikasi karena mereka memiliki semacam kesamaan latar belakang pengetahuan tentang

sesuatu yang dibicarakan itu. Di antara penutur dan mitra tutur terdapat semacam kontrak

percakapan yang tidak tertulis bahwa apa yang sedang dibicarakan itu saling dimengerti.

Nababan (1987:28) menyatakan bahwa implikatur berkaitan erat dengan konvensi makna yang

terjadi di dalam proses komunikasi. Konsep ini kemudian digunakan untuk menerangkan

perbedaan antara hal „yang diucapkan‟ dengan hal „yang diimplikasikan‟. Jika dalam

komunikasi, salah satu pihak tidak paham dengan arah pembicaraan (komunikasi) tersebut, maka

seringkali ditanyakan „Sebenarnya apa implikasi anda tadi?‟. Dengan kata lain, implikatur ini

digunakan untuk memecahkan permasalahan makna bahasa yang tidak bisa diselesaikan dan

dipecahkan oleh pengetahuan sintaksis dan semantik suatu bahasa saja karena implikatur

memberikan manfaat bagi peserta komunikasi untuk memahami apa yang tersurat dan tersirat

dalam ujaran-ujaran pada sebuah percakapan.

Perlu diketahui bahwa istilah implikatur berantonim dengan kata eksplikatur. Implikatur

adalah makna tidak langsung atau makna tersirat yang ditimbulkan oleh apa yang terkatakan

(eksplikatur). Menggunakan implikatur dalam berkomunikasi (percakapan) berarti menyatakan

sesuatu secara tidak langsung.

Berangkat dari beberapa pengertian mengenai implikatur, dapat disimpulkan bahwa

implikatur percakapan adalah suatu bagian dari kajian pragmatik yang lebih mengkhususkan

kajian pada suatu makna yang implisit dari suatu percakapan yang berbeda dengan makna

harfiah dari suatu percakapan. Ada beberapa jenis implikatur percakapan. Menurut Grice

(Mudjiyono, 1996 : 32-33) ada tiga jenis implikatur percakapan yakni: implikatur

konvensional, praanggapan, dan implikatur nonkonvensional.


Implikatur konvensional yaitu implikatur yang diperoleh langsung dari makna kata, dan

bukan dari prinsip percakapan. Implikatur konvensional lebih mengacu pada makna kata secara

konvensional, makna percakapan ditentukan oleh “arti konvensional” kata-kata yang digunakan.

Sebagai contoh :

“Atun tuli, oleh karena itu ia tidak dapat berbicara”.

Implikatur tuturan itu adalah bahwa Atun tidak dapat berbicara merupakan konsekuensi karena ia

tuli. Jika Atun tidak tuli, tentu tuturan itu tidak berimplikasi bahwa Atun tidak dapat berbicara

karena ia Tuli.

Implikatur praanggapan berupa andaian penutur bahwa mitra tutur dapat mengenal pasti

orang atau benda yang diperkatakan. Sebuah tuturan dapat mempraanggapan tuturan yang lain.

Implikatur praanggapan lebih mengacu pada suatu pengetahuan bersama antara penutur dan

mitra tutur. Sebagai contoh :

“Budiono minum Aqua”.

Dari contoh tersebut, dapat disimpulkan bahwa praanggapan dari tuturan tersebut adalah “Ada

minuman merk Aqua” atau “Aqua adalah minuman yang dapat diminum seperti teh, kopi, dll”.

Implikatur nonkonvensional, merupakan suatu implikatur yang lebih mendasarkan

maknanya pada suatu konteks yang melingkupi suatu percakapa n. Implikatur nonkonvensional

adalah implikasi pragmatis yang tersiran di dalam suatu percakapan. Sebagai contoh : “Wah,

Pak Win sekarang sudah menjadi orang”. Implikatur percakapan tuturan itu adalah bahwa dahulu

Pak Win belum sukses, karena “orang” dalam tuturan tersebut dimaksudkan sebagai “orang

sukses”.
2.4. Wujud Implikatur

Menurut Huang (2007) dalam implikatur, wujud implikatur yang biasa digunakan oleh

penutur adalah bentuk tuturan yang digunakan penutur untuk menyampaikan pesan kepada mitra

tutur secara verbal dalam sebuah percakapan, di mana wujud tuturan tersebut yang realisasinya

berdasarkan makna di luar bentuk linguistik. Wujud konkretnya dalam tata bahasa Prancis yaitu

la phrase déclarative (kalimat pernyataan), la phrase interrogative (kalimat tanya), la phrase

impérative (kalimat perintah) dan la phrase exclamative (kalimat seru).

Dalam Grevisse dan Goosse (1995:113) La phrase déclarative (kalimat pernyataan)

adalah kalimat yang isinya menyatakan sesuatu. La phrase déclarative dalam pelafalan diawali

dengan intonasi naik kemudian diakhiri dengan intonasi menurun dan dalam penulisan diakhiri

dengan tanda baca titik (.).

Contoh : Nous par-tons ce soir.

La phrase interrogative (kalimat tanya) adalah kalimat yang bertujuan untuk memperoleh

informasi atau jawaban. Dalam pelafalan kalimat interogasi ditandai dengan intonasi yang

meninggi dan dalam penulisan di akhiri dengan tanda tanya (?).

Contoh : Partez-vouz en vacances?

La phrase impérative (kalimat perintah) adalah kalimat yang berisi permintaan atau

larangan. La phrase impérative biasanya ditandai dengan intonasi menurun dalam pelafalannya

dan diakhiri dengan tanda seru (!) dalam penulisannya.

Contoh : Silence!
La phrase exclamative (kalimat seru) adalah kalimat pernyataan, tetapi diungkapkan

dengan tekanan yang khusus. La phrase exclamative berakhir dengan tanda seru (!) atau tanda

titik (.) dalam penulisannya.

Contoh : Comme elle est palle!


BAB III

PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan disajikan analisis implikatur yang terdapat dalam dialog film La Vie

en Rose yang digunakan sebagai bahan penelitian. Adapun dialog yang akan dianalisis pada

penelitian ini terdapat 13 dialog yang diambil dari adegan film La Vie en Rose. Langkah yang

pertama adalah data disajikan berupa potongan dialog-dialog dari film La Vie en Rose dan

menceritakan kejadian yang terdapat dalam adegan tersebut. Kemudian menentukan kalimat

yang mengandung implikatur yang terdapat dalam dialog tersebut. Setelah itu menganalisis jenis

implikatur yang telah ditemukan dan langkah selanjutnya adalah menentukan wujud implikatur

yang terjadi. Sebagai langkah akhir adalah menjelaskan alasan penggunaan implikatur pada

dilalog dalam film La Vie en Rose. Analisis dapat dipaparkan sebagai berikut :

3.1. Jenis Implikatur

Dalam pokok bahasan ini akan dianalisis tentang jenis implikatur yang terdapat dalam

dialog film La Vie en Rose sebagai berikut :


Data 1)

LVeR 00:03:46

Une Femme : Vous êtes sa mere ? (1)


Vous êtes morceau sans valeur d‟ordures. (2)
Annetta : Faut bien que je gagne ma vie, je suis chanteuse.(3)
Une Femme : Mais regardez votre fille ! (4)
Aneeta : Je m'en occupe bien, de ma fille ! (5)

Seorang Wanita : Apakah anda ibunya? (1)


Kau sepotong sampah yang tak berharga.(2)
Annetta : Aku harus mencari pekerjaan untuk tetap hidup,
aku seorang penyanyi.(3)
Seorang Wanita : Tapi lihat putrimu ! (4)
Annetta : Saya sudah mengurusnya dengan baik ! (5)

Dalam adegan ini, Edith masih berusia 5 tahun. Terlihat ia sedang duduk di pinggir jalan

sambil menangis, sementara Annetta ibunya, sedang bernyanyi di seberang jalan. Kemudian

seorang wanita berjalan dan melihat Edith menangis, lalu wanita itu berbicara kepada Edith.

Bersama Edith, wanita tadi datang menemui Annetta. Dalam data 1), percakapan terjadi antara

seorang wanita dan Annetta. Dalam adegan tersebut sang wanita memulai pembicaraannya

dengan suara yang lantang, padahal Annetta belum pernah bertemu sebelumnya dengan wanita

itu. Sambil menunjuk ke arah Edith si wanita bertanya „Vous êtes sa mere?‟ (apakah anda

ibunya?) yang terlihat pada kalimat (1). Kemudian dilanjutkan dengan kalimat (2) “Vous êtes

morceau sans valeur d‟ordures” (Anda sepotong sampah yang tak berharga). Kemudian dengan
suara yang lantang pula Annetta menjawab , yaitu pada kalimat (3) “Faut bien que je gagne ma

vie. Je suis chanteuse” (Aku harus mencari pekerjaan untuk tetap hidup. Aku seorang penyanyi).

Pada kalimat (4) si wanita kembali bertanya dan dijawab oleh Annetta pada kalimat (5),

kemudian dengan wajah yang marah Annetta pergi sambil menggandeng anaknya dan berjalan

dengan cepat.

Implikatur terdapat pada kalimat (2) “Vous êtes morceau sans valeur d‟ordures” (Anda

sepotong sampah yang tak berharga). Kalimat tersebut termasuk jenis implikatur

nonkonvensional. Karena ada maksud yang tersirat dalam apa yang diucapkan oleh seorang

wanita, di mana pada kalimat (2) wanita tersebut menyatakan bahwa „Vous êtes morceau sans

valeur d‟ordures‟, akan tetapi makna dalam kalimat ini bukan bermakna yang sebenarnya.

Wanita tadi menggunakan kata kiasan untuk mengutarakan maksudnya. Kata „ordures‟ (sampah)

memiliki arti yaitu sesuatu yang sudah tidak pantas karena tidak berguna lagi, sesuatu yang tidak

bermanfaat, sesuatu yang tidak benilai, dan sesuatu yang kotor. Jika kata „ordures‟ yang merujuk

kepada seseorang, berarti orang yang disebut tersebut adalah orang yang dianggap tidak berguna,

atau orang itu telah melakukan hal yang tidak pantas dilakukan. Dalam adegan film ini, seorang

wanita menggunakan kalimat di atas terhadap Annetta. Kalimat implikatur tersebut digunakan

untuk mengungkapkan kekecewaannya terhadap Annetta yang sebagai seorang ibu, terkesan

tidak mempedulikan dan telah menelantarkan anaknya yang masih kecil (Edith) duduk di pinggir

jalan sambil menangis, dan hal itu dianggapnya sangat tidak pantas apabila dilakukan oleh

seorang ibu terhadap anaknya yang masih kecil.

Dalam adegan ini, Annetta sebagai mitra tutur mengerti maksud wanita tersebut dengan

menjawab “Faut bien que je gagne ma vie, je suis chanteuse” seperti pada kalimat (3). Maksud

jawaban Annetta di sini adalah ingin memberitahukan pada wanita tersebut bahwa ia tidak peduli
apa yang dilakukan oleh anaknya karena ia harus bekerja untuk mendapatkan uang agar tetap

bertahan hidup, dan menekankan pada kalimat „Je suis chanteuse‟ agar si wanita mengetahui

bahwa pekerjaan yang dilakukan Annetta adalah sebagai penyanyi jalanan. Dapat dilihat dalam

adegan tersebut si wanita marah melihat kelakuan sang ibu (Annetta). Dalam adegan ini konteks

sangat berpengaruh. Percakapan tetap berjalan karena mitra tutur yaitu Annetta mengerti apa

maksud dari kalimat wanita itu.

Data 2)

LveR :00:06:01

Louis : Y a quelqu'un ? (6)


Edith ? (7)
Maman Aicha : Louis ? (8)
Louis : C‟est fini! (9)

Louis : Ada orang ? (6)


Edith ? (7)
Mama Aicha : Louis ? (8)
Louis : Sudah selesai ! (9)

Dalam adegan ini Louis datang ke rumah mama Aicha yaitu ibu dari Annetta atau Ibu

Mertua Louis, tempat Annetta menitipkan Edith kecil. Ketika Louis mengetuk pintu dan bertanya

seperti pada kalimat (6), tak nampak seorang pun yang datang membuka pintu untuknya, lalu ia

mencoba masuk ke dalam rumah dan mencari Edith dengan memangilnya, “Edith?” yaitu pada

kalimat (7). Setelah berada di dalam rumah, ia melihat seseorang terbaring di sebuah tempat tidur
dengan menggunakan selimut, kemudian ia terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang

terbaring itu adalah Edith. Ia terkejut melihat keadaaan Edith yang nampak tidak sehat. Ketika

Louis sedang menatap keadaan Edith, masuklah mama Aicha ke dalam rumah dan bertemu

dengan Louis. Tanpa berbasa-basi, Louis kemudian menggendong Edith dan membawanya

pergi, sambil berjalan ia mengatakan “C‟est fini!”. Mama Aicha tidak mengatakan apapun, ia

hanya bisa melihat Louis pergi dan membawa Edith.

Kalimat yang mengandung implikatur adalah kalimat (9) yang diucapkan Louis „C‟est

fini!‟. Maksud dari kalimat (9) di sini adalah mewakili keinginan Louis yaitu mengakhiri situasi

buruk yang sedang dialami oleh Edith. Louis melihat Edith sakit, kemudian ia ingin mengambil

Edith dan tidak ingin dititipkan lagi kepada mama Aicha dengan mengatakan „C‟est fini!‟. Louis

tidak ingin lagi mejelaskan kepada mama Aicha bahwa ia akan membawa Edith, karena ia

berjalan sambil membawa Edith lalu pergi tanpa pamit.

Kalimat (9) ini mengandung implikatur konvensional, karena kalimat yang diucapkan

oleh Louis memiliki makna konvensional dengan maksud yang ingin diutarakan. Kalimat „C‟est

fini‟ memiliki arti „sudah selesai‟, „sudah berakhir‟, „tamat‟, atau kebanyakan dapat disimpulkan

dengan kalimat „sudah cukup‟. Louis menggunakan kalimat tersebut untuk mengutarakan

maksudnya yaitu sudah cukup Edith berada di rumah mama Aicha, dan saatnya untuk

mengakhiri situasi buruk yang dialami Edith, kemudian ia akan membawa Edith pergi dari

rumah itu. Mitra tutur (MamaAicha) dapat memahami maksud penutur (Louis) langsung dari

makna konvensional tuturan „C‟est fini!‟. Ia hanya bisa diam dan melihat Louis beranjak

meninggalkan rumahnya.
Data 3)

LveR :00:08:12

Maman : Elle est ou, sa mère ? (10)


Louis : Je sais pas.(11)
Maman : Tu veux laisser la petite ici ? (12)
Les gens vont causer. (13)
Louis : Les gens ont toujours quelque chose à dire. (14)

Mama : Dimana ibunya? (10)


Luois : Aku tidak tahu.(11)
Mama : Kau ingin meninggalkan dia disini? (12)
Orang-orang akan bergunjing.(13)
Louis : Orang-orang selalu memiliki sesuatu untuk dikatakan. (14)

Dalam data 3) di atas percakapan terjadi antara Louis dan Ibunya (Mama). Dalam adegan

ini, Louis ingin menitipkan Edith kecil pada ibunya yang memiliki usaha rumah bordil. Ketika

bercakap dengan Louis, ibunya terlihat mengerti atas kedatangan Louis dengan seorang anak

kecilnya, karena ketika ia bertanya “Elle est ou, sa mère ?” (di mana ibunya?) dan Louis

menjawab “Je sais pas” (saya tidak tahu), ia dapat menebak maksud kedatangannya dengan

mengatakan “Tu veux laisser la petite ici?” (kau ingin meninggalkan dia disini?) yaitu pada

kalimat (12) dilanjutkan dengan menghadirkan suatu bentuk tuturan pada kalimat (13) “Les gens

vont causer” (orang-orang akan bercerita). Kemudian Louis mengatakan seperti kalimat (14)

“Les gens ont toujours quelque chose à dire” (orang-orang akan selalu memiliki sesuatu utnuk

dikatakan).
Dalam percakapan ini terjadi suatu implikasi, yang dalam hal ini pihak penutur (Mama)

bermaksud menolak keinginan Louis untuk menitipkan Edith di tempatnya karena orang-orang

di sekitar tempat tinggalnya selalu bergunjing, tetapi tidak secara langsung menolak, maksudnya

diimplikasikan di balik tuturan yang bersifat informatif tersebut. Dalam adegan ini Mama

mengucapkan kalimatnya dengan nada yang sinis, yang juga dapat diartikan bahwa ia

sebenarnya keberatan apabila harus merawat seorang anak kecil, dengan penolakannya itu ia

implikasikan secara halus dan menjadikan orang-orang di sekitarnya sebagai alasan untuk

mewakili penolakannya. Kalimat mama kemudian dijawab oleh Louis di mana ia pun

bermaksud untuk tetap menitipkan Edith, tapi juga diimplikasikan dalam kalimatnya dan tidak

secara langsung mengatakan bahwa ia tetap ingin menitipkan Edith dengan mengatakan „Les

gens ont toujours quelque chose â dire‟.

Kalimat (13) yang diungkapkan oleh Mama tersebut merupakan implikatur

nonkonvensioal. Makna dari kalimat tersebut yaitu ingin menyatakan penolakan terhadap niat

Louis secara halus dan diimplikasikan di balik tuturan yang bersifat informatif. Kemudian

dijawab oleh Louis yang juga mempunyai maksud untuk tetap pada niatnya. Implikatur ini

disebut implikatur nonkonvensional karena kalimat yang diungkapkan Mama memiliki arti yang

tersirat dari apa yang ingin diutarakan sebenarnya. Mama mengatakan „Les gens vont causer‟

yang artinya „orang-orang akan bercerita‟. Kata „causer‟ (bercerita) yang dimaksud dalam

kalimat ini adalah „bergunjing‟. Dari kalimat yang diucapkan tersebut nampak sang Mama tidak

ingin apabila orang-orang di sekitarnya bercerita tentangnya berkaitan dengan anak kecil tersebut

(Edith). Hal itu mewakili maksudnya yang secara tersirat berisi sebuah penolakan bahwa ia

sebenarnya tidak ingin apabila Edith dititipkan di rumahnya.


Dalam percakapan ini, pihak lawan tutur (Louis) dapat mengerti makna dari kalimat yang

diucapkan mama, dengan mengatakan „Les gens ont toujours quelque chose â dire‟ seperti pada

kalimat (14). Kalimat ini pun mengandung implikatur nonkonvensional, karena maksud yang

ingin disampaikan oleh Louis tersirat di balik kalimat yang diucapkannya. Pada kalimat „Les

gens ont toujours quelque chose â dire‟ secara leksikal memiliki arti „orang-orang selalu

memiliki sesuatu untuk dikatakan‟, apabila dilihat dari konteksnya kalimat tersebut dapat berarti

„orang-orang akan selalu bergunjing‟. Maksud dari kalimat yang ingin diungkapkan Louis adalah

ibunya tidak perlu memikirkan tentang apa yang akan dikatakan oleh orang lain mengenai Edith

maupun ibunya, karena orang-orang akan tetap selalu memiliki bahan untuk diperbincangkan.

Dalam kalimat ini nampak Louis tidak mempermasalahkan tentang hal tersebut. Kalimat yang

diungkapkan Louis pada kalimat (14) tersebut memiliki makna yang berbeda dengan apa yang

diucapkannya. Sebenarnya ia bermaksud bahwa ia akan tetap pada niatnya menitipkan Edith di

rumah ibunya yang diimplikasikan pada kalimat „Les gens ont toujours quelque chose â dire‟ .

Data 4)

LveR :00:12:10

Maman : Allez. Ouvre cette porte.(15)


Titine : Je peux pas travailler. Je peux pas travailler ! (16)
Maman : Tu peux pas ? (17)
Tu te crois â I'hôtel ? (18)
Titine : Je garde Edith ce soir. Je la garde.(19)
Mama : Ayolah. Buka pintunya. (15)
Titine : Saya tidak bisa bekerja. Saya tidak bisa bekerja ! (16)
Mama : Kau tidak bisa?(17)
Kau kira ini di hotel? (18)
Titine : Saya menjaga Edith malam ini. Saya menjaganya.(19)

Dalam adegan ini percakapan terjadi antara Mama (Ibu dari Louis) yang merupakan

pemilik rumah bordil dan Titine yaitu seorang PSK yang bekerja pada Mama. Sebelum terjadi

percakapan antara mereka berdua, seorang teman Titine telah memberitahukan padanya bahwa ia

harus bekerja pada malam itu. Akan tetapi pada saat itu Titine tidak ingin bekerja dan mengunci

dirinya di dalam kamar bersama Edith, sampai Mama mengetahui hal tersebut. Mama lalu

berbicara dan memberi perintah agar Titine keluar kamar dan bekerja seperti biasa yaitu sebagai

pekerja seks komersial (PSK) yang selalu siap melayani tamu-tamu yang datang, dengan

mengucapkan kalimat (15) “Allez. Ouvre cette porte.” (Ayolah. Buka pintunya). Kemudian

Titine mengatakan bahwa ia tidak ingin bekerja sebagaimana yang diucapkannya pada kalimat

(16). Mama terlihat marah dengan jawaban yang d iucapkan oleh Titine, kemudian memberi

pertanyaan pada Titine, “Tu te crois â I'hôtel?” (kau kira ini di hotel?) seperti yang tertera pada

kalimat (18), lalu Titine menjawab “Je garde Edith ce soir. Je la garde” (kalimat 19) .

Dalam dialog di atas, kalimat (18) tersebut Mama mempunyai maksud tertentu yang

ingin di sampaikan kepada Titine. Pertanyaan yang diungkapkan oleh mama berisi sebuah

peringatan kepada Titine tentang keadaannya yang saat ini berada di rumah bordil milik Mama,

yang berarti ia memiliki kewajiban untuk bekerja. Hal itu terimplikasi dalam suatu bentuk

tuturan yang terdapat pada kalimat (18) di atas. Dengan adanya pertanyaan yang dilontarkan oleh

mama kepada Titine, maka Titine terlihat memikirkan sesuatu dan memberikan jawaban dengan

mengatakan „Je garde Edith ce soir. Je la garde‟ seperti pada kalimat (19).
Kalimat (18) ini merupakan jenis implikatur praanggapan. Dari kalimat „Tu te crois â

l'hôtel?‟ dapat disimpulkan bahwa praanggapan dari tuturan tersebut adalah kata „hôtel‟ (hotel).

Arti dari kata „hotel‟ adalah sebuah tempat penginapan kelas menengah hingga kelas atas. Hotel

biasanya digunakan oleh orang-orang yang sedang bepergian ke tempat lain dan tidak memiliki

tempat tinggal untuk beristirahat. Kebanyakan orang yang menggunakan fasilitas hotel adalah

orang yang memiliki uang yang lebih, karena harus menyewa kamar dalam sebuah hotel, dan

biasanya hotel merupakan tempat yang nyaman di mana orang dapat bersantai di dalamnya.

Dalam hal ini, ketika Mama melontarkan pertanyaan yang tertera pada kalimat (18) tersebut

kepada Titine, ada pengetahuan bersama antara penutur (Mama) dan mitratuturnya (Titine)

mengenai arti kata „hôtel‟. Pada kalimat yang diucapkan Mama ini juga berarti sebuah sindiran

kepada Titine karena Mama mengetahui betul keadaan Titine yang sebenarnya yang saat ini

tidak sedang berada di sebuah hotel. Dalam percakapan di atas, Mama beranggapan bahwa Titine

mengetahui pasti maksud yang dikatakannya, dan kemudian Titine memberikan jawaban yang

terlihat pada kalimat (19).

Data 5)

LveR :00:12:52

Daniella : Allez, ouvre-moi. Y a ton légionnaire, ce soir.(20)


Titine : Je m'en moque. C'est un menteur. (21)
Il me raconte que des histoires.(22)
Daniella : Alors maintenant Titine, tu arretes ça.(23)
Maman : Sors! ou tu vas te retrouver â la rue. (24)
J'en ai marre ! (25)

Daniella : Ayolah, bukakan aku. Ada tentaramu malam ini. (20)


Titine : Saya tidak peduli. Dia penipu. (21)
Dia hanya bercerita kepadaku. (22)
Daniella : Titine, hentikan ini sekarang.(23)
Mama : Keluar! Atau kau akan berada di jalanan.(24)
Saya sudah kesal.(25)

Percakapan di atas terjadi antara Mama, Titine dan Daniella. Masih dalam adegan yang

sama, yaitu Titine yang pada malam itu tidak ingin bekerja hingga membuat Mama marah

meskipun Daniella telah membujuknya dan memberitahukan bahwa tamunya telah datang,

seperti yang tertera pada kalimat (20), akan tetapi Titine memberi jawaban yang dapat

disimpulkan bahwa tetap berkeras pada niatnya yang tidak ingin bekerja. Mendengar jawaban

dan rekasi Titine yang tidak juga segera keluar dari kamarnya membuat Mama semakin marah

dan mengucapkan “Sors! ou tu vas te retrouver â la rue.” (Keluar! Atau kau akan berada di

jalanan) kemudian mengatakan “J'en ai marre!” seperti yang terlihat pada kalimat (24) dan

kalimat (25).

Kalimat yang diucapkan mama pada kalimat (24) di atas mengandung implikatur, karena

dari kalimat yang diucapkan terdapat sebuah isi yang tersirat. Dalam kalimat (24) terdapat kata

perintah „Sors!‟ yang menyuruh Titine agar ia keluar dari kamarnya, kemudian dilanjutkan

dengan sebuah tuturan yang bersifat informatif. Dari kalimat „ou tu vas te retrouver â la rue.‟

terdapat maksud yang ingin disampaikan kepada Titine. Mama menggunakan implikatur untuk

mengungkapkan maksudnya yaitu memberi gambaran kepada Titine apabila ia tidak ingin

bekerja, maka ia akan dikeluarkan dari rumah Mama, sehingga akibatnya Titine bisa berada di

jalanan. Selain itu mama terlihat sangat kesal dengan perbuatan Titine, dengan mengatakan „J'en

ai marre !‟ (saya sudah kesal). Titine pun mengerti maksud yang diucapkan oleh Mama dengan
memberi reaksi segera keluar dari kamar kemudian dengan berat hati ia keluar dari kamar

kemudian bekerja seperti biasanya.

Kalimat (24) tersebut merupakan jenis impliaktur nonkonvensional, karena apabila

dilihat dari percakapan yang terjadi, terdapat maksud yang tersembunyi di balik kalimat yang

agak sulit dipahami apabila kita tidak mengerti konteksnya. Arti dari kalimat „Sors! ou tu vas te

retrouver â la rue.‟ adalah „Keluar!‟ yaitu sebuah kata perintah untuk menyuruh seseorang untuk

keluar dari dalam ruangan, kemudian dilanjutkan dengan kata penghubung „ou‟ (atau) yang

memiliki arti adanya sebuah pilihan dan selanjutnya kalimat „tu vas te retrouver â la rue‟ yang

berati „kau akan menemukan dirimu di jalanan‟. Maksud yang ingin disampaikan Mama adalah

ia ingin memberikan gambaran kepada Titine yaitu ia akan dikeluarkan dari rumah Mama

(diusir) apabila ia tidak mengikuti perintah Mama, yaitu tidak melakukan kewajibannya bekerja

sebagai PSK, dan apabila ia diusir maka akibatnya ia tidak lagi memiliki tempat tinggal, dan

pekerjaan. Kalimat ini juga berisi sebuah amcaman, karena di dalam kalimat tersebut terdapat

dua pilihan yang diberikan oleh Mama kepada Titine yaitu terdapat kata „ou‟ di dalamnya.

Dalam percakapan ini, konteks sangat mendukung penggunaan implikatur, oleh karena itu Titine

dapat mengerti maksud yang tersirat dari kalimat yang dikatakan oleh Mama, ditambah lagi

Mama memperlihatkan kekesalannya dengan mengatakan kalimat „J'en ai marre!‟ seperti pada

kalimat (25). Dengan adanya ancaman yang diberikan oleh Mama membuat Titine tidak dapat

membantah kemudian ia keluar kamar dan mengikuti perintah Mama.


Data 6)

LVeR :00:32:56

Un Spectateur : Et I'acrobatie de la petite ?(26)


Louis à un spectateur : Ça arrive.(27)
Louis à Edith : Edith, Ils vont partir. (28)
.......
Spectateur : Bravo !(29)
Louis : C'est ma fille.(30)

Penonton : Dan pertunjukan anak kecil itu ? (26)


Louis kepada penonton : Sebentar.(27)
Louis kepada Edith : Edith, mereka akan pergi.(28)
......
Penonton : Bagus !(29)
Louis : Ini putriku.(30)

Pada adegan ini Louis melakukan sebuah pertunjukan akrobatik di sebuah jalan yang

ditemani oleh Edith (berusia 10 tahun) yang berdiri di dekatnya sambil memegang sebuah topi

sebagai tempat untuk menyimpan uang yang akan diberikan oleh penonton. Setelah Louis selesai

menujukkan aksinya, seorang penonton bertanya pada Louis yang terlihat pada kalimat (26) “Et

I'acrobatie de la petite?” (dan pertunjukan anak kecil itu?). Louis pun terlihat sedang

memikirkan sesuatu, kemudian ia bebrbisik pada Edith “Edith, Ils vont partir” (Edith, mereka

akan pergi) seperti pada kalimat (28). Reaksi Edith pada saat itu terlihat sangat gugup karena ia

tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya, namun dengan ragu ia melangkah ke depan

kemudian menyanyikan sebuah lagu. Setelah Edith melakukan aksi bernyanyi, para penonton
merasa terhibur dan terlihat menyukai aksi yang dilakukan Edith. Hal itu dapat terlihat dari

ujaran (29) “Bravo!” (Bagus!), dan tepuk tangan yang sangat meriah serta pemberian uang yang

banyak. Setelah itu Louis berkata kepada para penonton “C‟est ma fille.” (ini putriku).

Kalimat (26) di atas merupakan kalimat implikatur, pada kalimat tanya yang diucapkan

seorang penonton terdapat maksud yang tersirat yaitu bahwa ia sebenarnya tidak hanya ingin

melihat pertunjukan dari Louis saja, akan tetapi ia juga ingin melihat aksi apakah yang dapat

dilakukan oleh Edith. Kalimat (26) yang diucapkan tersebut merupakan jenis implikatur

nonkonvensional, karena ada maksud yang tersembunyi yang sedikit berbeda dengan apa yang

dikatakannya. Kalimat „Et I'acrobatie de la petite ?‟ yang artinya „dan pertunjukan anak kecil

itu?‟ berisi bahwa si penonton menanyakan pertunjukan apa yang dimiliki oleh si anak kecil.

Akan tetapi, tidak hanya itu yang ingin disampaikan oleh penonton tersebut, maksud yang

tersirat adalah ia ingin melihat aksi Edith memintanya untuk memperlihatkan aksinya tersebut.

Makna tersebut tersembunyi di balik pertanyaan yang dilontarkan kepada Louis, dan ia pun

mengerti maksud yang ingin di sampaikan, sambil mengatakan „Ca arrive.‟ kepada penonton, ia

kemudian mengatakan sesuatu kepada Edith.

Kalimat (28) lalu diucapkan oleh Louis kepada Edith, „Edith, Ils vont partir.‟ yang

mengandung implikatur. Dari kalimat yang diucapkan Louis, ia bermaksud untuk memberi

perintah kepada Edith agar melakukan suatu aksi yang dapat menghibur sesuai permintaan

penonton tersebut agar mendapatkan uang yang banyak. Kalimat yang mengandung implikatur

ini merupakan jenis implikatur nonkonvensional, karena di balik kalimat itu Louis memiliki

maksud yang tersirat yang tidak diungkpakan secara langsung kepada Edith. Arti dari kalimat

„Edith, Ils vont partir‟ adalah „Edith, mereka akan pergi‟ yang berisi apabila Edith tidak

melakukan sebuah aksi hiburan maka penonton akan pergi. Dalam kalimat ini Louis
menghadirkan suatu bentuk tuturan yang bersifat informatif saja yang dibaliknya terdapat sebuah

perintah kepada Edith untuk melakukan sebuah aksi. Kalimat ini juga berisi gambaran yang ingin

disampaikan kepada Edith, bahwa apabila para penonton pergi, maka mereka tidak akan

mendapat uang yang banyak. Edith dapat memahami maksud Louis yang terdapat di balik

kalimat informasinya. Kemudian Edith memberikan reaksi yaitu memberanikian diri untuk

bernyanyi di depan para penonton. Louis tidak melakukan tindak tutur yang secara langsung

yaitu menyuruh Edith, tetapi diimplikasikan melalui tuturan yang bersifat informatif. Edith pun

dapat mengerti maksud yang ada di balik kalimat Louis.

Setelah Edith bernyanyi, ia mendapat tepuk tangan yang meriah dari para peno nton.

Dengan penuh senyum, saat itu juga Louis mengatakan „c‟est ma fille.‟ yang tertera pada kalimat

(30). Kalimat ini merupakan implikatur, yang memiliki arti di baliknya. Kalimat implikatur ini

merupakan jenis implikatur nonkonevsional. Isi dari kalimat ini, Louis memberitahukan kepada

penonton bahwa Edith adalah putrinya, akan tetapi di balik itu ia sebenarnya ingin

mengungkapkan rasa bangga terhadap putrinya yang telah berhasil menghibur para penonton

dengan suaranya yang bagus. Maksud yang ingin disampaikan tersebut terimplikasi di balik

kalimat singkat „C'est ma fille.‟ yang dengan kata lain mengungkapkan kepada penonton bahwa

anak yang berbakat itu adalah putrinya. Para penonton terlihat merasa puas dan memberikan

uang yang banyak.


Data 7)

LveR :00:36:01

Momone : Je veux becqueter.(31)


Edith : On chante une demi-heure et on va manger.(32)
Momone : Oui. (33)
Edith : Si on chante toute seule, ça fait mandigotte.
A deux, ça fait spectacle. (34)
Edith : Je vais chanter lâ.(35)

Momone : Aku ingin makan sedikit.(31)


Edith : Kita bernyanyi sebentar, kemudian kita makan.(32)
Momone : Iya.(33)
Edith : Bernyanyi sendiri itu seperti mengemis. Jika bersamamu, ini sebuah
pertunjukan.(34)
Edith : Aku akan bernyanyi disana. (35)

Dalam adegan ini Edith berusia 20 tahun. Ia bekerja sebagai penyanyi jalanan untuk

mendapatkan uang. Edith sering melakukan hal ini bersama sahabatnya bernama Momone.

Ketika itu mereka akan memulai untuk bernanyi di sebuah jalan. Dalam adegan ini Momone

memberitahukan bahwa ia ingin sedikit makan, seperti pada kalimat (31) “Je veux becqueter”,

kemudian Edith mengatakan, “On chante une demi-heure et on va manger” seperti pada kalimat

(32). Sambil berjalan menuju tempat di mana mereka akan bernyanyi, mereka pun bercakap-

cakap seperti yang tertera pada kalimat (34) dan kalimat (35) di atas.

Pada kalimat (32) yang diucapkan Edith di atas merupakan implikatur, karena ada makna

lain yang tidak diungkapkan oleh Edith. Kalimat ini bisa saja berarti bahwa setelah mereka

bernyanyi lalu mereka akan pergi makan karena lapar, tetapi maksud di balik kalimat yang
diucapkan Edith adalah mereka tidak punya uang, maka dari itu mereka akan benyanyi terlebih

dahulu untuk mendapatkan uang, setelah itu barulah mereka bisa pergi membeli makanan.

Kalimat (32) tersebut termasuk jenis implikatur pranggapan. Praanggapan dalam hal ini adalah

Momone dan Edith sudah mengetahui kebiasaannya, yaitu bernyanyi untuk medapatkan uang

kemudian membeli makan. Tuturan seperti ini akan sulit dipa hami apabila keduanya tidak

mengetahui dasar pengetahuan bersama antara Edith dan Momone. Jadi pada percakapan ini

Momone mengetahui pasti apa yang dikatakan oleh Edith.

Data 8)

LveR :00:38:03

Edith : Préferes travailler avec moi ou â l'usine? (36)


Momone : J‟inciserais plutôt ma gorge que travail dans l'usine.(37)
Et toi? (38)
Edith : Et moi? Quoi? (39)
Momone : Tu trimais dans ta cremmerie de merde.(40)

Edith : Lebih memilih bekerja denganku atau di pabrik?(36)


Momone : Aku lebih baik mengiris tenggorokanku daripada bekerja di
pabrik. (37)
Dan kau ? (38)
Edith : Aku? Apa? (39)
Momone : Kau akan menjadi budak di toko keju kecil. (40)

Dialog 8) ini terjadi antara Edith dan Momone di mana dalam adegan itu mereka sedang

makan di sebuah kedai sambil berbincang-bincang. Percakapan diawali dengan pertanyaan Edith
kepada Momone “Préferes travailler avec moi ou â l'usine?” yang kemudian dijwab oleh

Momone dengan mengatakan “J‟inciserais plutôt ma gorge que travail dans l'usine” yang tertera

pada kalimat (36) dan (37). Momone pun kembali bertanya pada Edith “Et toi?” pada kalimat

(38), dan dijawab oleh Edith pada kalimat (39) lalu dilanjutkan dengan kalimat yang

diungkapkan Momone “Tu trimais dans ta cremmerie de merde” pada kalimat (40).

Dalam dialog di atas, jawaban yang diberikan Momone pada kalimat (37) sekilas nampak

tidak berhubungan dengan pertanyaan Edith pada kalimat (36). Kalimat (37) tersebut merupakan

implikatur. Dari konteks tersebut, jawaban yang diberikan Momone jika diartikan secara harfiah

akan sulit diterima karena ia mengatakan „J‟inciserais plutôt ma gorge que travail dans l'usine‟,

akan tetapi Momone punya maksud tersendiri dan mengungkapkannya lewat kalimat tersebut.

Impliaktur ini temasuk jenis implikatur nonkonvensional, karena terdapat maksud tersembunyi

yang ingin disampaikan oleh penutur (Momone) kepada mitratuturnya (Edith), yang

diimplikasikan dalam sebuah kalimat yang sebenarnya sulit untuk dimengerti. Dalam kalimat ini,

kalimat yang digunakan oleh Momone merupakan kata kiasan untuk memberikan sebuah

gambaran bahwa bekerja di sebuah pabrik merupakan pekerjaan yang sangat berat baginya,

kemudian terdapat kata „plutôt‟ yang artinya „lebih baik‟ atau „lebih menyukai‟ menunjukkan

sebuah pilihian dalam kalimat tersebut. Di balik tuturan tersebut dapat disimpulkan sebagai

bentuk penolakan Momone bahwa ia sama sekali tidak ingin bekerja di sebuah pabrik. Edith pun

tidak bermasalah dengan tuturan Momone karena ia mengerti maksud yang ingin disampaikan

oleh Momone walaupun maksud yang ingin diutarakan oleh Momone tersirat di balik kalimat

yang diungkapkan tersebut.


Data 9)

LveR :00:40:44

Louis Leplée : Ma petite fille, tu vas te casser la voix.(41)


Edith : Faut bien manger, monsieur.(42)
Louis Leplée : Certainement.(43)
Je m'appelle Louis Leplée.(44)

Louis Leplée : Gadis kecilku, kau akan merusak suaramu jika begitu.(41)
Edith : Aku butuh makan sehat, pak.(42)
Louis Leplée : Tentu saja.(43)
Namaku Louis Leplée.(44)

Edith sedang bernyanyi di seberang jalan dalam adegan ini (mengamen), ketika sedang

bernyanyi nampak seorang pria separuh baya memperhatikan Edith yang sedang bernyanyi.

Setelah ia selesai bernyanyi pria tersebut datang menghampirinya dan mengatakan “Ma petite

fille, tu vas te casser la voix” (Gadis kecilku, kau akan merusak suaramu kalau begitu),

kemudian dijawab oleh Edith “Faut bien manger, Monsieur” seperti pada kalimat (42). Pria

tersebut mengerti dan mengatakan “Certainement” lalu memperkenalkan diri “Je m‟appelle

Louis Leplée” yang tertera pada kalimat (43) dan (44).

Kalimat (42) yang diucapkan Edith tersebut mengandung implikatur, karena ketika

dikaitkan dengan apa yang dikatakan oleh Louis Leplée, terlihat percakapan mereka seperti tidak

berhubungan, tetapi jika kita mengetahui dan mengerti konteksnya, maka sebenarnya ada makna
di balik kalimat yang diucapkan oleh Edith. Kalimat (42) di atas merupakan jenis implikatur

praanggapan. Maksud tersebut dapat dimengerti oleh Louis karena ia memiliki pranggapan

yang sama dengan Edith bahwa dengan bernyanyi di jalan (mengamen) Edith bisa mendapatkan

uang untuk membeli makan. Maksud yang ingin disampaikan tersebut terimplik asi di balik

tuturan yang ia sampaikan kepada Louis. Louis mengerti maksud yang ingin disampaikan Edith

tanpa menjelaskan makna kalimat yang sesungguhnya, hal itu terlihat dari ucapannya

„Certainement.‟ seperti yang tertera pada kalimat (43).

Data 10)

LveR :00:41:30

Albert : C'est quoi, ça ? (45)


Tu te balades toute la journée de droite â gauche.(46)
Je te fais confiance, et tu me ramenes ça ? (47)
Edith : J'en garde pour mon pere. Il est malade et il a pas un rond.(48)
Momone : Je te jure, il est malade.(49)
Albert : Je vais te foutre au turf. (50)
Momone : Tu la lâches !(51)
Edith : Jamais, jamais !(52)
Momone : Si elle se fout, ce sera ta faute !(53)
Albert (à Momone) : La ferme! (54)
Albert (à Edith) : J'en veux plus. Compris ?(55)
Sinon, t'iras écarter les cuisses, comme les autres.(56)

Albert : Apa ini? (45)


Kau keluar seharian.(46)
Aku percaya padamu, dan ini apa yang kau bawa? (47)
Edith : Aku menyimpannya untuk ayahku. Dia sakit dan tak punya uang.(48)
Momone : Saya bersumpah, ia sakit.(49)
Albert : Aku akan segera mengusirmu.(50)
Momone : Lepaskan dia! (51)
Edith : Tidak akan! Tidak akan pernah! (52)
Momone : Jika dia terjatuh, itu akan menjadi kesalahanmu. (53)
Albert : Diam !(54)
Albert : Saya ingin yang lebih. Mengerti?(55)
Jika tidak, kau akan membuka pahamu seperti yang lainnya.(56)

Dalam adegan ini terjadi pertengkaran antara Edith dan Albert. Albert adalah teman Edith

yang juga menjadi majikannya dalam pekerjaannya menjadi penyanyi jalanan. Sepulangnya dari

mengamen, Edith lalu menyerahkan hasil keringatnya kepada Albert. Akan tetapi Albert merasa

kesal karena uang yang diperoleh oleh Edith pada hari itu sangat kurang dan tidak seperti yang

diharapkan Albert sehingga terjadi pertengkaran di antara mereka yang terlihat pada dialog data

10) di atas.

Implikatur terjadi pada kalimat (56) yang dikatakan oleh Albert kepada Edith, „Sinon,

t'iras écarter les cuisses, comme les autres‟ (kalau tidak, kau akan membuka pahamu seperti

yang lainnya). Kalimat ini memiliki maksud tertentu yaitu ingin mengatakan pada Edith bahwa

kalau ia tidak mendapatkan uang yang lebih banyak lagi, maka ia harus bekerja sebagai seorang

pekerja seks seperti wanita yang lainnya, di mana pada saat itu banyak wanita yang tidak

memiliki uang memilih untuk menjadi seorang pekerja seks komersial (PSK) untuk mendapatkan

uang yang lebih. Albert tidak mengatakannya secara langsung tetap i mengimplikasikan

maksudnya tersebut.
Kalimat (56) di atas termasuk jenis implikatur praanggapan. Dari kalimat tersebut yang

menjadi praanggapan adalah „écarter les cuisses‟. Kata „écarter‟ memiliki arti „memisahkan‟

atau „merenggangkan‟, dan kata „les cuisses‟ adalah „paha‟. Jadi arti kalimat (56) di atas adalah

„kau akan membuka pahamu‟. Dari kalimat tersebut praanggapan yang muncul bila melihat

konteks yang ada maka dapat disimpulkan maksud yang ingin disampaikan adalah „menjadi

seorang pekerja seks‟. Edith terlihat mengerti dengan maksud yang ingin disampaikan karena ia

memiliki pranggapan bahwa apabila seorang wanita yang melakukan hal seperti „écarter les

cuisses‟ (membuka paha) maka dapat diketahui bahwa maksud kalimat tersebut adalah menjadi

seorang pekerja seks, tetapi maksud yang ingin di sampaikan secara halus yang terimplikasi di

balik kalimat yang diucapkannya.

Data 11)

LveR :00:46:01

Louis Leplée : Qu'est-ce que vous fabriquez ?(57)


Edith : J'ai pas eu le temps de finir de la tricoter.(58)
Josette : On lui créé une manche.(59)
Louis Leplée : C'est le moment ? (60)
La salle est pleine.(61)
Josette : Raison de plus... (62)
Elle va pas entrer en scene en clocharde.(63)

Louis Leplée : Apa yang kamu lakukan? (57)


Edith : Saya tidak selesai merajutnya.(58)
Josette : Kami membuat lengan baju.(59)
Louis Leplée : Sekarang? (60)
Rauangan sudah penuh. (61)
Josette : Lebih lagi... (62)
Dia tidak bisa masuk ke panggung seperti gelandangan.(63)

Dialog di atas terjadi antara Louis Lpelée, Edith dan Josseta. Pada malam itu Edith akan

tampil untuk pertama kalinya di sebuah panggung kelab malam milik Louis Leplée. Pada waktu

yang ditentukan Edith seharusnya sudah bersiap tampil di atas panggung untuk bernyanyi, tetapi

Louis melihat belum juga ada tanda-tanda bahwa ia akan segera tampil. Louis kemudian

mencari Edith di ruang ganti di belakang panggung untuk mengetahui apa yang dilakukan Edit h.

Setelah melihat apa yang dilakukan Edith, Louis bertanya kepada Edith, “Qu'est-ce que vous

fabriquez?” pada kalimat (57). Ia melihat Jossette sedang membantu merajut baju yang

dikenakan Edith. Edith menjawab pertanyaan Louis “J'ai pas eu le temps de finir de la tricoter”

yaitu kalimat (58) dan Josette menambahkan “On lui créé une manche” pada kalimat (59). Louis

terlihat kesal lalu ia kembali bertanya, “C'est le moment?” (sekarang?) pada kalimat (60).

Setelah melontarkan pertanyaannya tadi, Louis melanjutkan lagi dengan mengatakan “La salle

est pleine” (Ruangan sudah penuh) yaitu kalimat (61). Pada kalimat (62) dan (63) Jossette

menambahkan “Raison de plus....”, “Elle va pas entrer en scene en clocharde”.

Kalimat (60) yang diucapkan Louis tersebut mengandung implikatur. Pertanyaan itu tidak

seharusnya muncul. Pertanyaan itu dilontarkan oleh Louis untuk mempelihatkan keheranannya

kepada Edith yang saat itu sedang dibantu oleh Jossete menjahit baju yang dipakai Edith.

Sedangkan pada saat itu, ia seharusnya sudah siap untuk tampil di atas panggung. Jadi,

pertanyaan yang diucapkan oleh Louis menunjukkan rasa heran yang terimplikasi oleh

pertanyaan tersebut. Kalimat (60) yang diucapkan oleh Louis merupakan implikatur

konvensioanal. Pada saat itu ia melontarkan pertanyaan „C'est le moment?‟ yang berarti „saat
ini?‟ atau „sekarang?‟ untuk menyatakan keheranannya yang melihat Edith belum juga bersiap

untuk tampil. Kalimat itu dapat dimengerti melalui arti yang sebenarnya.

Kalimat (61) „La salle est pleine‟ yang juga dikatakan oleh Louis termasuk jenis

implikatur pranggapan. Kata yang menjadi praanggapan dalam kalimat tersebut adalah „pleine‟

yang berarti „penuh‟ atau „padat‟. Dalam konteks ini para pelibat sudah memiliki pengetahuan

bersama mengenai kata „penuh atau padat‟ tersebut, bahwa ruangan sebenarnya sudah padat

karena telah banyak penonton dan undangan yang hadir di dalam kelab tersebut yang sedang

menantikan hiburan yang akan disuguhkan. Louis hanya mengatakan bahwa ruangan sudah

penuh, ia mengimplikasikan maksudnya di balik kalimat yang dituturkan, dan para lawan tutur

pun dapat mengerti makna dari kalimat Louis.

Selanjutnya implikatur terdapat pada pernyataan Jossette, kalimat (63) „Elle va pas entrer

en scene en clocharde‟ termasuk jenis implikatur nonkonvensional, di mana pada kalimat ini

kata „clocharde‟ sepertinya tidak berhubungan dengan apa yang mereka perbincangkan, tetapi

tetap ada maksud di balik itu yang ingin disampaikan oleh Jossette, yaitu kata „clocharde‟ yang

berarti „gelandangan‟. Seperti yang diketahui bahwa gelandangan adalah orang yang hidup di

pinggiran jalan karena tidak memiliki uang dan pekerjaan sehingga tidak memiliki rumah atau

tempat tinggal, mereka biasanya menggunakan baju yang sobek karena tidak memiliki baju yang

bagus. Gelandangan sering juga disebut sebagai pengemis. Dalam konteks ini Jossette

menggunakan kata yang mengandung hiperbola dalam menyampaikan maksudnya yaitu kata

„clocharde‟. Maksud „clocharde‟ dalam kalimat Jossette ini bukan dalam arti yang sebenarnya,

tetapi mengacu kepada „pakaian yang sobek dan terlihat jelek‟. Josstte menganggap bahwa

seorang yang akan bernyanyi di atas panggung harus terlihat cantik dan tidak layak

menggunakan pakaian yang terlihat jelek atau sobek. Maksud tersebut diimplikasikan dalam
sebuah kalimat yang sebenarnya merupakan sindiran, hal itu terlihat dari konteks yang

mendukung.

Data 12)

LveR :00:56:17

L‟inspecteur : Oh, je te parle !(64)


Tu fréquentes le Milieu ou pas ?(65)
Edith : Non. Laissez-moi.(66)
L‟inspecteur : Et Henri Valette ? Jeannot le Mataf et Albert, tu connais pas, non plus
?(67)
Edith : C'est des copains, mais ils ont rien à voir là-dedans.(68)
L‟inspecteur : La complicité, ça peut t'embarquer tres loin.(69)
Edith : Je suis pas coupable, j'ai rien fait.(70)
J'ai tout perdu.(71)

Inspektur : Oh, saya ingin bicara denganmu! (64)


Kau sering bersama dengan Milieu bukan? (65)
Edith : Tidak. Tinggalkan aku.(66)
Inspektur : Dan Henri Valette? Jeannot le Mataf et Albert, kau tidak kenal mereka
juga?(67)
Edith : Mereka teman dekat, tapi mereka tidak terlibat di dalamnya(68)
Inspektur : Keterlibatan, dapat menyeret mu lebih jauh (69)
Edith : Aku tidak bersalah. Aku tidak melakukan apapun.(70)
Aku kehilangan segalanya.(71)
Dalam adegan ini Louis Leplée tewas terbunuh. Para polisi masih menyelidiki kasus

pembunuhan itu. Ketika Edith datang untuk melihat jasad Louis, ia ditemui oleh seorang

inspektur polisi untuk memberikan penjelasan terkait dengan pembunuhan Louis. Beberpa

pertanyaan pun dilontarkan kepada Edith. Sampai pada pernyataan Inspektur berikutnya pada

kalimat (69) “La complicité, ça peut t'embarquer tres loin.”, yang dibantah oleh Edith dengan

mengatakan “Je suis pas coupable, j'ai rien fait.”, kemudian ia terlihat sedih dan menambahkan

“J'ai tout perdu.”

Dari data 12) di atas, kalimat (69) „La complicité, ça peut t'embarquer tres loin‟ yang

diucapkan oleh inspektur merupakan kalimat yang mengandung impliaktur. Kalimat (69)

termasuk jenis implikatur konvensional, karena makna yang terdapat pada kalimat yang

diucapkan oleh inspektur dapat diartikan secara harfiah. Dalam kalimat ini, „La complicité‟

adalah keterlibatan (dalam suatu perbuatan) atau dengan kata lain dapat disebut

„persekongkolan‟. Jadi dalam kalimat yang diucapkan oleh inspektur dapat disimpulkan bahwa ia

mencurigai Edith terlibat atau melakukan persekongkolan dengan para pembunuh Louis, hal itu

diimplikasikan dalam bentuk pernyataan tersebut. Makna implikatur yang diucapkan itu dapat

dimengerti oleh Edith, terlihat pada kalimat (70) „Je suis pas coupable, j'ai rien fait‟. Edith

mengetahui maksud inspektur bahwa ia dicurigai terlibat persekongkolan dengan pembunuh

Louis. Kata yang diucapkan oleh inspektur dapat di mengerti secara konvensional.
Data 13)

LveR :00:56:50

Edith : Ordure! Saloperie !(72)


C'est dégueulasse, ce que vous faites !(73)
L‟inspecteur : Eh! t'es pas au music hall, ici.(74)

Edith : Sampah! menjijikkan! (72)


Yang kau lakukan itu hal menjijikkan! (73)
Inspectur : Hey! Kau tidak berada di panggung di sini. (74)

Pada data 13) percakapan masih terjadi antara insperkur dan Edith. Edith merasa tidak

nyaman karena adanya dugaan yang ditujukan kepadanya oleh inspektur yang telah

menginterogasinya lebih jauh, sehingga membuat Edith menjadi marah. Dengan suara yang

lantang Edith mengatakan “Ordure! saloperie!” dan “C'est dégueulasse, ce que vous faites!”

seperti pada kalimat (72) dan (73). Seketika dengan suara yang lantang pula inspektur memberi

peringatan kepada Edith dengan mengatakan kalimat “Eh ! T'es pas au music hall, ici.”

(hey,kau tidak berada di panggung di sini).

Kalimat (72) „Ordure! saloperie!‟ yang dicapkan Edith merupakan impliktaur. Kalimat

(72) di atas termasuk jenis implikatur nonkonvensional, karena ada maksud yang tersirat dalam

kalimat yang tidak diucapkan Edith secara langsung kepada inspektur. Ia mengucapkan kata

„Ordure!‟ yang berarti sampah atau kotoran. Apabila kata „Ordure‟ mengacu kepada seseorang,

maka anggapan yang ada adalah orang tersebut tidak berguna bagaikan sampah. Biasanya orang-
orang menggunakan kata tersebut untuk mengungkapkan rasa marah terhadap orang yang

ditujukan. Kemudian ditambah lagi dengan kata „Saloperie!‟ yang berarti „menjijikkan‟ yang

mendukung penggunaan kata „Ordure‟ . Dalam adegan ini, Edith menggunakan kata kiasan

tersebut untuk mengungkapkan rasa marahnya terhadap inspektur yang telah menginterogasinya

lebih jauh dan menduga bahwa ia sedang terlibat dalam pembunuhan Louis, sedangkan ia sendiri

merasa tidak melakukan hal tersebut. Rasa marahnya diimplikasikan di balik kata yang

diucapkan tersebut.

Kemudian kalimat (74) „Eh! T'es pas au music hall, ici.‟ yang diucapkan oleh inspektur

juga merupakan implikatur. Kalimat tersebut terlihat sama sekali tidak ber hubungan dengan

percakapan sebelumnya karena mereka tidak sedang membicarakan soal musik, akan tetapi

terdapat maksud tertentu yang ingin disampaikan, yaitu ia ingin memberikan informasi atau

peringatan kepada Edith bahwa ia tidak sedang berada di sebuah panggung . Dari kalimat yang

diucapkan inspektur ada makna yang tersirat yaitu ia ingin memberi perintah yang berisi „diam!‟

atau „jangan berbicara dengan suara yang lantang seperti ketika kau berada di panggung, karena

ini bukan di sebuah panggung di mana kau bisa bernyanyi dan mengeluarkan suara yang

lantang‟. Maksud tersebut terimplikasikan dalam sebuah implikatur pada kalimat (74) di atas.

Kemudian kalimat (74) di atas merupakan jenis implikatur pranggapan, di mana ketika

penutur (inspektur) mengatakan „Eh! t'es pas au music hall, ici.‟, inspektur dan Edith sudah

memiliki pengetahuan bersama yaitu pada kalimat „music hall‟ yang mempunyai arti „gedung

pertunjukan musik‟ atau dapat disimpulkan dengan kata „panggung‟. Dalam hal ini panggung

merupakan tempat di mana Edith sering bernyanyi dengan suara yang lantang. Kalimat seperti

ini akan sulit dimengerti apabila keduanya tidak memiliki praanggapan atau dasar pengetahuan

yang sama tentang apa yang sudah diucapkan oleh inspektur yaitu „music hall‟. Kalimat tersebut
memiliki maksud yang tersirat, yaitu terdapat sebuah perintah yang ditujukan kepada Edith agar

tidak memberikan suara yang lantang dalam percakapan yang mereka lakukan. Implikatur

tersebut dapat dipahami oleh Edith dengan memberikan rekasi diam.

Dari pemaparan analisis data di atas, maka jenis implikatur yang telah ditemukan dalam

dialog adalah :

No Jenis Implikatur Data Kalimat Jumlah

2 Kalimat (9)
1. Implikatur Konvensional 11 Kalimat (60) 3 kalimat

12 Kalimat (69)

1 Kalimat (2)
Kalimat (13)
3
kalimat (14)
5 Kalimat (24)
Kalimat (26)
2. Implikatur 10 kalimat
6 Kalimat (28)
Nonkonvensional
Kalimat (30)
8 Kalimat (37)
11 Kalimat (63)

13 Kalimat (72)
4 Kalimat (18)
7 Kalimat (32)

9 Kalimat (42)
3. Implikatur Praanggapan 6 kalimat
10 Kalimat (56)
11 Kalimat (61)

13 Kalimat (74)
3.2. Wujud Implikatur

Wujud implikatur adalah sejumlah wujud tuturan yang realisasinya berdasarkan makna di

luar bentuk linguistik. Wujud konkretnya berupa la phrase déclarative (kalimat pernyataan), la

phrase interrogative (kalimat tanya), la phrase imperative (kalimat perintah), dan la phrase

exclamative (kalimat seru). Analisis sebagai berikut :

a. La Phrase Déclarative (Kalimat Pernyataan)

La phrase déclarative (kalimat pernyataan) adalah kalimat yang isinya menyatakan

sesuatu. (Grevisse dan Goosse, 1995:113)

- Data 1), kalimat (2) : “Vous etes morceau sans valeur d‟ordures.” (Kau sepotong

sampah yang tak berharga). Kalimat di atas merupakan kalimat déclarative atau

pernyataan yang berbentuk sebuah kata kiasan.

- Data 3), kalimat (13) : “Les gens vont causer.” ( Orang-orang akan bercerita).

Kalimat ini berbentuk kalimat déclarative atau pernyataan untuk menyampaikan

maksud menolak keinginan mitra tutur.

- Data 3), kalimat (14) : “Les gens ont toujours quelque chose à dire.” (Orang-orang

selalu memiliki sesuatu untuk dikatakan). Kalimat di atas digunakan penutur untuk

menentang argumen mitra tutur, yang diwujudkan dalam bentuk kalimat déclarative

atau pernyataan.

- Data 6), kalimat (28) : “Edith, Ils vont partir.” (Edith, mereka akan pergi). Kalimat

di atas digunakan penutur yang bermakna memberi perintah kepada mitra tutur, yang

diwujudkan dalam bentuk kalimat déclarative.


- Data 6), kalimat (30) : “C'est ma fille.” (Ini putriku). Penutur menggunakan kalimat

pernyataan di atas yang berisi informasi dan untuk mengungkapkan perasaannya.

Kalimat tersebut berbentuk kalimat déclarative.

- Data 7), kalimat (32) : “On chante une demi-heure et on va manger.” (Kita

bernyanyi sebentar, kemudian kita makan). Kalimat di atas merupakan kalimat

pernyataan yang berisi penolakan. Penutur menggunakannya dalam bentuk kalimat

déclarative.

- Data 8), Kalimat (37) : “J‟inciserais plutôt ma gorge que travail dans l'usine. (Aku

lebih baik mengiris leherku daripada bekerja di pabrik). Kalimat di atas merupakan

kalimat yang mengungkapkan penolakan yang diwujudkan dalam bentuk kalimat

déclarative. Verba yang digunakan penutur merupakan mode conditionel (inciserais)

untuk mengungkapkan maksud, keinginan dan saran (Grevisse dan Goosse,

1995:287).

- Data 9), Kalimat (42) : “Faut bien manger, monsieur.” (Aku butuh makan, pak).

Kata faut di atas berasal dari kata il faut yang merupakan verba impersonel untuk

mengungkapkan maksud. Wujud implikaturnya berupa kalimat déclarative.

- Data 10), Kalimat (56) : “Sinon, t'iras écarter les cuisses, comme les autres.”(Jika

tidak, kau akan membuka pahamu seperti yang lainnya). Kalimat di atas yang

diungkapkan penutur merupakan kalimat déclarative yang berisi sebuah ancaman.

- Data 11) Kalimat (61) : “La salle est pleine” (Rauangan sudah penuh). Kalimat di

atas diungkapkan oleh penutur yang mengungkapkan maksud. Kalimat tersebut

berbentuk kalimat déclarative.


- Data 11), Kalimat (63) : “Elle va pas entrer en scene en clocharde.” (Dia tidak bisa

masuk ke panggung seperti gelandangan). Kalimat di atas digunakan penutur untuk

mengungkapkan maksud yaitu menyindir. Kalimat di atas berbe ntuk kalimat

déclarative.

- Data 12), Kalimat (69) : „La complicité, ça peut t'embarquer tres loin.‟ (Keterlibatan,

dapat menyeret mu lebih jauh). Kalimat di atas digunakan penutur untuk

mengutarakan perasaan. Implikatur tersebut diwujudkan dalam bentuk kalimat

déclarative.

b. La Phrase Interrogative (Kalimat Tanya)

La phrase interrogative (kalimat tanya) adalah kalimat yang bertujuan untuk

memperoleh informasi atau jawaban. Dalam pelafalan kalimat interogasi ditandai dengan

intonasi yang meninggi dan dalam penulisan di akhiri dengan tanda tanya (?) (Grevisse

dan Goosse, 1995:113).

- Data 4), Kalimat (18) : “Tu te crois â I'hôtel ?” (Kau pikir ini di hotel?). Penutur

menggunakan kalimat di atas untuk memberi sebuah informasi kepada mitra tutur.

Implikatur diwujudkan dalam bentuk kalimat interogative.

- Data 6), kalimat (26) : „Et I'acrobatie de la petite ?‟ (Dan keahlian anak kecil itu?).

Penutur menggunakan implikatur yang berisi mengajukan permintaan yang

diwujudkan dalam bentuk kalimat interrogative.

- Data 11), Kalimat (60) : “C'est le moment ?” (Sekarang?).

Implikatur diucapkan oleh penutur yang mengungkapkan perasaan. Implikatur

tersebut diwujudkan dalam sebuah kalimat interrogative.


c. La Phrase Impérative (Kalimat Pe rintah)

La phrase impérative (kalimat perintah) adalah kalimat yang berisi permintaan atau

larangan. La phrase impérative biasanya ditandai dengan intonasi menurun dalam

pelafalannya dan diakhiri dengan tanda seru (!) dalam penulisannya (Grevisse dan

Goosse, 1995:113).

- Data 5), Kalimat (24) : “Sors! ou tu vas te retrouver â la rue. (Keluar! Atau kau akan

berada di jalanan). Kalimat di atas diungkapkan oleh penutur yang bermakna ingin

memberikan sebuah ancaman kepada mitra tutur. Wujud implikaturnya berupa

kalimat impérative pada awal kalimat yaitu „Sors!‟ kemudian dilanjutkan dengan

kalimat pernyataan.

d. La Phrase Exclamative (Kalimat Seru)

La phrase exclamative (kalimat seru) adalah kalimat pernyataan, tetapi diungkapkan

dengan tekanan yang khusus. La phrase exclamative berakhir dengan tanda seru (!) atau

tanda titik (.) dalam penulisannya (Grevisse dan Goosse, 1995:113).

- Data 2), Kalimat (9) : “C‟est fini!” (Sudah cukup!). Penutur menggunakan implikatur

untuk mengungkapkan perasaan. Implikatur diwujudkan dalam bentuk kalimat

exclamative.

- Data 13), Kalimat (72) : “Ordure! Saloperie!” (Sampah, menjijikkan!). Implikatur

digunakan penutur untuk menunjukkan perasaan terhadap mitra tutur. Implikatur

yang diungkapkan dalam bentuk kalimat exclamative.


- Data 13), Kalimat (74) : “Eh!, T'es pas au music hall, ici. (Eh! Kau tidak berada di

panggung di sini). Kalimat implikatur diucapkan oleh penutur terhadap yang berisi

sebuah perintah. Kalimat diatas diwujudkan ke dalam bentuk kalimat exclamative.

Dari analisis data di atas, penulis mengklasifikasikan wujud implikatur yang ditemukan

pada dialog dalam film, sebagai berikut :

No Wujud Implikatur Data Kalimat Jumlah


(1) (2) (3) (4) (5)
1 2
13
1. La Phrase déclarative 3 12 Kalimat
14
6 28
(1) (2) (3) (4) (5)
6 30
7 32
8 37
9 42
10 56
61
11
63
12 69
4 18
2. La Phrase Interrogative 6 26 3 Kalimat
11 60
3. La Phrase Impérative 5 24 1 Kalimat
2 9
4. La Phrase Exclamative 72 3 Kalimat
13
74
3.3. Alasan Tokoh Menggunakan Implikatur

Dari bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai penggunaan implikatur. Menurut teori

Grice (1975:44) dalam penggunaan bahasa sehari- hari, masyarakat bahasa sering menggunakan

implikatur percakapan karena memiliki tujuan-tujuan tertentu, misalnya karena ingin

memperluas proposisi yang diujarkan. Dalam konteks budaya Indonesia implikatur biasa

digunakan karena ingin terasa lebih sopan, misalnya untuk tindak tutur memerintah, menolak,

meminta, dll. Senada dengan pendapat Grice, Leech (1993 : 269) juga menyatakan bahwa

implikatur digunakan agar pernyataan yang disampaikan itu lebih santun. Sedangkan Levinson

(1991) menyatakan bahwa implikatur dapat digunakan untuk menyederhanakan kalimat-kalimat

yang diucapkan oleh penutur.

Dalam penelitian ini penulis melihat beberapa alasan lain yang digunakan tokoh film La

Vie en Rose dalam menggunakan implikatur. Analisis dapat dipaparkan sebagai berikut:

Data 1)

Une Femme : Vous êtes sa mere ? (1)


Vous êtes morceau sans valeur d’ordures. (2)
Annetta : Faut bien que je gagne ma vie, je suis chanteuse.(3)
Une Femme : Mais regardez votre fille ! (4)
Aneeta : Je m'en occupe bien, de ma fille ! (5)

Dalam dialog di atas kalimat (2) merupakan implikatur. Kalimat yang digunakan terdapat

kata kiasan yaitu „morceau sans valeur d‟ordures‟ .

Dalam adegan ini seorang wanita mengungkapkan kalimatnya dengan suara yang lantang dan

wajah yang terlihat marah. Pada dialog di atas wanita menggunakan implikatur karena ingin

memperlihatkan rasa kecewa dan marah terhadap Anetta yang bernyanyi di seberang jalan dan
melantarkan anak kecilnya (Edith) yang sedang menangis. Ia mengungkapkan perasaannya

dengan menggunakan kata kiasan.

Data 2)

Louis : Y a quelqu'un ? (6)


Edith ? (7)
Maman Aicha : Louis ? (8)
Louis : C’est fini! (9)

Pada data 2) tersebut yang merupakan implikatur adalah kalimat (9) yang diucapkan oleh

Louis. Implikatur ini digunakan karena ingin mengungkapkan perasaan marah kepada mama

Aicha yang tidak merawat Edith dengan baik. Ia juga terlihat iba terhadap Edith dengan keadaan

yang dialaminya. Ia menggunakan kalimat seru di atas yang memiliki makna tertentu di

baliknya.

Data 3)

Maman : Elle est ou, sa mère ? (10)


Louis : Je sais pas.(11)
Maman : Tu veux laisser la petite ici ? (12)
Les gens vont causer. (13)
Louis : Les gens ont toujours quelque chose à dire. (14)

Kalimat (13) dan (14) adalah implikatur dalam dialog di atas. Dalam adegan ini Mama

menggunakan implikatur karena ingin mengungkapkan penolakan terhadap permintaan Louis

untuk menitipkan Edith. Penolakan tersebut terimplikasi di balik kalimat (13) di atas, dan Mama

tidak mengungkapkannya secara langsung.

Sedangkan Louis menggunakan implikatur pada kalimat (14) karena ingin

mengungkapkan maksud yaitu menentang argumen yang diucapkan oleh ibunya yang berisi
penolakan terhadap permintaannya, sementara ia ingin tetap menitipkan Edith di tempat ibunya.

Pertentangan tersebut tersirat di balik kalimat yang diucapkannya. Kalimat tersebut diucapkan

secara halus dengan intonasi yang datar, jadi percakapan tetap terlihat santai karena masing-

masing dari mereka menggunakan implikatur untuk menyampaikan maksudnya.

Data 4)

Maman : Allez. Ouvre cette porte.(15)


Titine : Je peux pas travailler. Je peux pas travailler ! (16)
Maman : Tu peux pas ? (17)
Tu te crois â I'hôtel ? (18)
Titine : Je garde Edith ce soir. Je la garde.(19)

Pada data 4) di atas, yang mengandung implikatur adalah kalimat (18) yang diucapkan

oleh Mama. Dalam adegan ini Mama menggunakan implikatur karena ia ingin memperlihatkan

kekesalannya terhadap kelakuan Titine yang tidak ingin bekerja pada malam itu, sehingga ia

memberi sebuah peringatan yang tersirat di balik kalimat (18) di atas. Implikatur di atas juga

dilakukan karena ingin memberi sebuah sindiran kepada Titine mengenai keadaannya saat itu.

Data 5)

Daniella : Allez, ouvre-moi. Y a ton légionnaire, ce soir.(20)


Titine : Je m'en moque. C'est un menteur. (21)
Il me raconte que des histoires.(22)
Daniella : Alors maintenant Titine, tu arretes ça.(23)
Maman : Sors! ou tu vas te retrouver â la rue. (24)
J'en ai marre ! (25)

Dalam data 5) di atas, kalimat (24) merupakan implikatur yang diucapkan oleh Mama

kepada Titine. Kalimat tersebut muncul karena Mama merasa marah terhadap Titine. Implikatur

digunakan Mama untuk memberikan ancaman yang tersirat di balik kalimat (24). Kalimat yang
diungkapkan oleh Mama tersebut diucapkan dengan suara yang lantang, hal itu ia lakukan agar

Titine mengetahui bahwa saat itu Mama sedang marah padanya.

Data 6)

Un Spectateur : Et I'acrobatie de la petite ?(26)


Louis à un spectateur : Ça arrive.(27)
Louis à Edith : Edith, Ils vont partir. (28)

......

Spectateur : Bravo !(29)


Louis : C'est ma fille.(30)

Dalam adegan di atas, terdapat tiga implikatur dalam dialog. Yang pertama adalah

kalimat (26) yang diucapkan oleh seorang penonton kepada Louis. Implikatur tersebut digunakan

karena ingin mengajukan permintaan secara tersirat kepada Louis agar Edith menunjukkan

aksinya keoada para penonton. Ia tidak mengungkapkan permintaannya secara langsung, tetapi

tersirat di balik kalimat yang diucapkannya.

Implikatur yang kedua terdapat pada kalimat (28) yang diucapkan Louis kepada Edith.

Implikatur digunakan karena ingin memberi perintah secara tersirat kepada Edith untuk

menunjukkan aksinya di depan para penonton. Maksud yang ingin disampaikna oleh Louis

tersirat di balik kalimat (28) yang diucapkannya.

Implikatur yang ketiga terdapat pada kalimat (30) yang diungkapkan Louis kepada para

penonton. Ia menggunakan implikatur tersebut karena merasa senang dan ingin menunjukkan

suatu kebanggaan yang ia rasakan terhadap putrinya Edith yang memiliki suara yang bagus dan

dapat menghibur para penonton. Hal itu tersirat di balik kalimat (30) di atas.
Data 7)

Momone : Je veux becqueter.(31)


Edith : On chante une demi-heure et on va manger.(32)
Momone : Oui. (33)
Edith : Si on chante toute seule, ça fait mandigotte.
A deux, ça fait spectacle. (34)
Edith : Je vais chanter lâ.(35)

Dalam kutipan dialog di atas, kalimat yang merupakan implikatur adalah kalimat (32)

yang diungkapkan oleh Edith kepada Momone. Implikatur digunakan Edith karena ingin

mengungkapkan maksud yaitu menolak permintaan Momone. Kalimat itu berisi informasi

mengenai kebiasan yang mereka lakukan setiap hari, yaitu bernyanyi untuk mendapatkan uang

kemudian hasil yang didapatkan akan digunakan untuk membeli makan. Dari kalimat yang

diungkapkan Edith terdapat maksud yang tersirat di baliknya yang tidak diucapkan secara

langsung.

Data 8)

Edith : Préferes travailler avec moi ou â l'usine? (36)


Momone : J’inciserais plutôt ma gorge que travail dans l'usine.(37)
Et toi? (38)
Edith : Et moi? Quoi? (39)
Momone : Tu trimais dans ta cremmerie de merde.(40)

Dari kutipan dialog di atas, implikatur terdapat pada kalimat (37) yang diungkapkan oleh

Momone kepada Edith. Momone menggunakan implikatur karena ingin menunjukkan penolakan

dengan menggunakan kata kiasan. Implikatur tersebut berisi sebuah informasi bahwa ia tidak

ingin bekerja di sebuah pabrik karena ia menganggap bahwa bekerja di pabrik sangat be rat

baginya.
Data 9)

Louis Leplée : Ma petite fille, tu vas te casser la voix.(41)


Edith : Faut bien manger, monsieur.(42)
Louis Leplée : Certainement.(43)
Je m'appelle Louis Leplée.(44)

Dalam data 9) di atas, kalimat (42) merupakan implikatur yang diungkapkan oleh Edith

kepada Louis. Implikatur digunakan Edith karena ingin memberi informasi kepada Louis, bahwa

ia membutuhkan makan yang sehat sehingga ia harus bernyanyi di jalan untuk mendapatkan

uang yang nantinya akan digunakan untuk membeli makan.

Data 10)

Albert : C'est quoi, ça ? (45)


Tu te balades toute la journée de droite â gauche.(46)
Je te fais confiance, et tu me ramenes ça ? (47)
Edith : J'en garde pour mon pere. Il est malade et il a pas un rond.(48)
Momone : Je te jure, il est malade.(49)
Albert : Je vais te foutre au turf. (50)
Momone : Tu la lâches !(51)
Edith : Jamais, jamais !(52)
Momone : Si elle se fout, ce sera ta faute !(53)
Albert (à Momone) : La ferme! (54)
Albert (à Edith) : J'en veux plus. Compris ?(55)
Sinon, t'iras écarter les cuisses, comme les autres.(56)

Dari kutipan dialog di atas, implikatur terdapat pada kalimat (56) yang diungkapkan

Albert kepada Edith. Implikatur diungkapkan Albert dalam keadaan marah, karena pada saat itu

Edith tidak membawa hasil mengamen yang banyak. Ia menggunakan implikatur karena ingin

memperlihatkan rasa marah dan juga memberi ancaman kepada Edith. Ancaman tersebut tersirat

di balik kalimat yang diungkapkan.


Data 11)

Louis Leplée : Qu'est-ce que vous fabriquez ?(57)


Edith : J'ai pas eu le temps de finir de la tricoter.(58)
Josette : On lui créé une manche.(59)
Louis Leplée : C'est le moment ? (60)
La salle est pleine.(61)
Josette : Raison de plus... (62)
Elle va pas entrer en scene en clocharde.(63)

Dari data 11) di atas, terdapat beberapa implikatur. Implikatur yang pertama terdapat

pada kalimat (60) yang dilontarkan oleh Louis kepada Edith. Implikatur digunakan Louis karena

ingin menunjukkan perasaan yaitu keheranan terhadap apa yang Edith lakukan, di mana Edith

seharusnya sudah siap untuk tampil di atas pangung tetapi ternyata Louis tidak mendapatkan hal

tersebut.

Kemudian implikatur terdapat pada kalimat (61) yang juga diucapkan oleh Louis.

Implikatur digunakan karena ingin memberi informasi dan mengingatkan Edith bahwa ruangan

telah padat oleh para penonton yang menantikan hiburan dari Edith. Ia memberi peringatan

tersebut dengan mengungkapkan kalimat (61) di atas.

Implikatur juga terdapat pada kalimat (63) yang dilontarkan Jossette kepada Louis.

Dalam adegan ini, implikatur digunakan Jossette karena ingin mengungkapkan maksud yaitu

memberi sindiran kepada Edith yang menggunakan baju sobek padahal malam itu ia akan

bernyanyi di panggung. Jossette menggunakan kata yang mengandung hiperbola untuk

mengungkapkan maksud yang disampaikan secara tersirat di balik kalimat (63) di atas.

Data 12)

L‟inspecteur : Oh, je te parle !(64)


Tu fréquentes le Milieu ou pas ?(65)
Edith : Non. Laissez-moi.(66)
L‟inspecteur : Et Henri Valette?
Jeannot le Mataf et Albert, tu connais pas,non plus?(67)
Edith : C'est des copains, mais ils ont rien à voir là-dedans.(68)
L’inspecteur : La complicité, ça peut t'embarquer tres loin.(69)
Edith : Je suis pas coupable, j'ai rien fait.(70)
J'ai tout perdu.(71)

Dari kutipan dialog di atas, kalimat (69) merupakan implikatur yang diungkapkan oleh

inspektur polisi kepada Edith. Dalam adegan ini inspektur menggunakan implikatur karena ingin

mengutarakan perasaan yaitu kecurigaan terhadap Edith yang dianggap melakukan

persekongkolan dalam pembunuhan Louis. Inspektur tidak mengungkapkan secara langsung

bahwa Edith diduga terlibat dalam kasus pembunuhan ini, tetapi diimplikasikan di balik kalimat

(69) di atas.

Data 13)

Edith : Ordure! Saloperie !(72)


C'est dégueulasse, ce que vous faites !(73)
L’inspecteur : Hey, t'es pas au music hall, ici.(74)

Dari kutipan dialog di atas, kalimat (72) dan kalimat (74) merupakan implikatur.

Implikatur pada kalimat (72) diungkapkan oleh Edith kepada inspektur polisi. Dalam adegan ini,

Edith menggunakan implikatur karena ingin memperlihatkan rasa marahnya terhadap inspektur

yang telah menginterogasinya lebih jauh. Edith mengetahui betul isi dari pertanyaan yang

dilontarkan oleh inspektur, yaitu ia dicurigai terlibat dalam pembunuhan Louis, maka dari itu ia

menggunakan implikatur yang terdiri dari kata kiasan dan mengacu kepada inspektur polisi
untuk mengungkapkan rasa marahnya. Implikatur di atas diungkapkan oleh Edith dengan suara

yang lantang.

Kemudian implikatur juga diungkapkan inspektur dalam kalimat (74) di atas. Dalam

adegan ini inspektur menggunakan implikatur karena ingin memberi perintah kepada Edith,

selain itu ia juga menggunakan implikatur untuk memberi peringatan kepada Edith agar tidak

berbicara dengan suara yang lantang (berteriak) kepada dirinya. Hal itu terimplikasi di balik

tuturan yang diungkapkannya.

Dari hasil analasis yang dilakukan, maka penulis menemukan alasan penggunaan

implikatur dalam film La Vie en Rose, yaitu keinginan untuk mengungkapkan perasaan seperti

rasa marah, kecewa, heran, terkejut, bangga, dan curiga dan keinginan untuk mengungkapkan

maksud seperti meminta, memerintah, menolak, menentang, menyindir dan mengancam.


BAB IV

PENUTUP

Dari hasil analisis implikatur yang dilakukan penulis pada dialog dalam film La Vie en

Rose, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan dari penelitian ini, sebagai berikut:

1. Terdapat tiga jenis implikatur yang ada pada dialog dalam film La Vie en Rose, yang

terdiri dari implikatur konvensional, implikatur nonkonvensional dan implikatur

praanggapan. Dari dialog yang dianalisis, implikatur yang dominan dilakukan adalah

implikatur nonkonvensional yaitu terdapat 10 kalimat, kemudian implikatur

praanggapan terdapat 6 kalimat. Sedangkan implikatur yang paling kecil

penggunaannya yaitu implikatur konvensional yang terdiri dari 3 kalimat.

2. Terdapat empat wujud implikatur yaitu la phrase déclarative (kalimat pernyataan), la

phrase interrogative (kalimat tanya), la phrase impérative (kalimat perintah), dan la

phrase exclamative (kalimat seru).

3. Terdapat beberapa alasan penggunaan implikatur dalam film yaitu :

- Keinginan untuk mengungkapkan perasaan, seperti rasa marah, kecewa, heran,

terkejut, bangga, dan curiga.

- Keinginan untuk mengungkapkan maksud, seperti meminta, memerintah,

menolak, menentang, menyindir dan mengancam.


DAFTAR PUSTAKA

Brown, Gillian dan George Yule. 1996. Analisis Wacana (edisi terjemahan oleh I.Soetikno).

Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Cummings, Louise. 2007 : Pragmatics, A Multidisiplineary Perspective (edisi tersejmahan oleh

Eti Setiawati). Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Gazdar, Gerald. 1979. Pragmatics, Implicature, Presuppasition, and Logical Form. England :

Academy Press.

Grevisse, de Maurice et Goosse, André. 1995. Nouvelle Grammaire Française. Belgium : De

Boek.

Grice, H Paul. 1975. “Logic and Conversations” dalam Cole dan Jl. Morgan, Syntax and

Semantics Vol. 3 : Speech Act. New York : Academy Press.

Huang, Yan. 2007. Pragmatics. Oxford : University Press

Kridalaksana, Harimurti. 1984. Kamus Linguistik. Jakarta : Gramedia.

Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik (Terjemahan MOD Oka). Jakarta :

Universitas Indonesia Press.

Levinson, Stephen C. 1991. Pragmatics. Cambridge : CUP.

Mujiyono, Wiryationo. 1996. Implikatur Percakapan Anak Usia Sekolah Dasar. Malang : IKIP

Malang.
Nababan, PWJ. 1987. Ilmu Pragmatik (Teori dan Penerapannya). Jakarta : Depdikbud.

Purwo, Bambang Kaswanti. 1993. Pragmatik dan Pengajaran Bahasa. Yogyakarta : Kanisius.

Samsuri. 1987. Analisis Wacana. Malang : Penyelenggaraan PPS IKIP Malang.

Suyono. 1990. Pragmatik Dasar-Dasar dan Pengajaran. Malang : YA3.

Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta : Penerbit Andi.

Wright, Richard A. 1975. Meaning and Conversational Implicature. New York : Academi Press.

Yule, George. 2006. Pragmatik (edisi terjemahan oleh Indah Nur Wahyuni). Yogyakarta :

Pustaka Pelajar.

Sumber lain :

 Inte rnet :

Hadiati, Chusni. 2007. Tesis: Tindak Tutur Dan Implikatur Percakapan Tokoh Wanita

Dan Tokoh Laki-Laki Dalam Film The Sound of M


usic. http://www.5%20Chusni_unnes.pdf.com (Diakses pada 4 Januari 2011, pukul 13:33

WITA).

http://www.wordpress.com/jenis-jenis-kalimat (Diakses pada 6 Juli 2011, pukul 20:39

WITA).

http://tata-bahasa.com (Diakses pada 6 Juli 2011, pukul 20:27 WITA)


LAMPIRAN
Judul : La Vie en Rose
Genre : Drama Biopic
Sutradara : Olivier Dahan
Produser : AlainGoldman
Casting :Marion Cotillard, Sylvie Testud, Jean-Pierre Martins, Emmanuelle
Seigner, Jean-Paul Rouve, Gerard Depardieu.
Penulis : Isabelle Sobelman dan Olivier Dahan
Cinematographi : Tetsuo Nagata
Musik : Christopher Gunning dan Edith Piaf
Editing : Richard Marizy
Distribusi : TF1 International

SINOPSIS FILM:

La Vie en Rose adalah film produksi Perancis tahun 2007 dengan sutradara Oliver

Dahan. Film yang dirilis di Perancis ini mengisahkan tentang perjalanan hidup penyanyi Edith

Piaf. Edith Piaf (19 Desember 1915–10 Oktober 1963) adalah biduan sekaligus idola Perancis

pada masanya yang terkenal dan dikenal luas sebagai penyanyi pop di Perancis. Lagu-lagu Piaf

menggambarkan kehidupannya yang tragis. Alur film La Vie en Rose menggunakan gaya

penceritaan yang berbolak balik sepanjang beberapa dekade kehidupan Edith Piaf. Bagian awal

film menceritakan tentang kehidupan anak-anak Edith Piaf, dan film ini diakhiri saat kematian

penyanyi ini, dimana ia terlihat lemah dan terlihat lebih tua 20 tahun dari usianya yang

sebenarnya. Beberapa bagian kehidupan Piaf mulai dari kepedihan di masa kanak-kanak, ia

menemukan dunianya di bidang musik, kemudian masuk ke dunia gemerlap aktris, kegagalan

cinta dan ketergantungan akan obat-obatan tergambarkan jelas di fim ini.

Film ini dimulai pada masa kanak-kanak Edith. Ia ditinggalkan oleh ibu dan ayahnya di

tempat neneknya yang menjalankan usaha rumah bordil. Edith kemudian menjadi kesayangan

para PSK di situ, terutama dari seorang PSK muda bernama Titine (Emmanuelle Seigner), yang

memperlakukan Edith seperti anaknya sendiri. Suatu hari, ayahnya (Jean-Paul Rouve), kembali
menjemput Edith untuk mengajaknya bermain sirkus sebagai manusia karet. Mereka berdua

akhirnya meninggalkan sirkus tempat mereka bermain dan memulai pertunjukan mereka sendiri

di jalanan. Edith memiliki kelebihan membengkokkan tubuhnya ke dalam bentuk-bentuk yang

aneh dan ia pun mampu bernyanyi dengan suara yang merdu. Sekitar enam tahun kemudia n,

Edith (diperankan oleh Marion Cotillard), dan teman baiknya Momone (Sylvie Testud), telah

menjadi penyanyi jalanan. Mereka kemudian bertemu dengan seorang pemilik klab malam

bernama Louis Leplee (Gerard Depardieu), yang kemudian mengontrak Edith untuk bernyanyi di

klabnya. Namun Louis kemudian terbunuh, yang mengakibatkan Edith merasa akan kehilangan

masa depannya. Di tengah keraguannya itu, ternyata ia menemukan orang yang mampu

mengajarinya teknik bernyanyi yang baik, dan tidak lama setelah itu Edith mampu menjadi

biduan yang terkenal.

Pada pertengahan tahun 1940-an ketika Edith tinggal di kota New York, ia bertemu

dengan Marcel Cerdan (Jean-Pierre Martins) seorang petinju yang telah menikah dan terlibat

affair dengannya. Edith Piaf mengatakan Marcel adalah cinta sejatinya, sampai pada kematian

Marcel akibat kecelakaan pesawat tahun 1949. Sejak kematian Marcel Cerdan itu, Edith

menggunakan seluruh waktunya untuk bernyanyi. Ia sempat menikah dua kali selama tahun

1950-an. Akan tetapi, di film ini sutradara hanya memberi sedikit porsi untuk menceritakan

tentang kehidupan Edith dengan kedua suaminya.

Edith akhirnya menjadi pecandu morfin dan alkohol. Upayanya untuk meninggalkan

kebiasaan buruknya ini selalu gagal dilakukannya, sampai akhirnya ia mengidap penyakit

meningitis, yaitu infeksi selaput pada otak. Ketika umurnya berada di penghujung 40-an,

kesehatan Edith memburuk dengan cepat.